BPPT Rancang Kapal Selam Buatan Indonesia
DARILAUT.ID | 06/05/2021 13:54
BPPT Rancang Kapal Selam Buatan Indonesia
Kapal selam KRI Nanggala yang hilang kontak sejak Rabu, 21 April 2021 berhasil ditemukan dalam kondisi terbelah pada kedalaman 800 meter. Sebanyak 53 orang meninggal dalam insiden tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala 402. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Darilaut – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sedang merancang Kapal Selam 32 meter (KSM 32).

Kegiatan perencanaan KSM 32 diawali dengan studi untuk penyusunan konsep desain pada tahun 2016. Kemudian pada tahun 2017 melakukan preliminary design untuk platform dan Inner System hingga di tahun 2019.

Kegiatan perancangan KSM 32 merupakan salah satu strategi yang diterapkan dalam rangka penguasaan filosofi desain kapal selam, sebagai sasaran antara untuk penguasaan teknologi rancang bangun kapal selam yang lebih besar dan canggih untuk memenuhi kebutuhan pertahanan lautan Indonesia.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) Wahyu W Pandoe mengatakan rancang bangun kapal selam ini merupakan perwujudan peran BPPT yaitu kerekayasaan dan alih teknologi.

Para perekayasa di bidang teknik kelautan, permesinan kapal dan naval architect (arsitek perkapalan) ditantang untuk menghadirkan state of the art technology transportasi kemaritiman, yaitu teknologi kapal selam di Indonesia

“Di sinilah BPPT hadir sebagai lembaga Pemerintah. Ketika industri sudah bisa membuat kapal permukaan, BPPT harus selangkah lebih maju melaksanakan apa yang belum bisa dicapai oleh industri, kemudian melakukan hilirisasi kepada para pelaku industri. Tujuannya agar Indonesia bisa mandiri,” kata Wahyu.

Wahyu mengatakan BPPT tidak berhenti hanya sampai pengembangan Kapal Selam 32 Meter. Namun ini merupakan sebuah milestone dari pengembangan teknologi industri pertahanan/alutsista, khususnya kapal selam modern.

Wahyu mengatakan milestone tidak langsung ke rancang bangun kapal selam 60 meter dengan operation dan requirement yang lebih tinggi. “Alhamdulillah dari desain 22 meter yang dikembangkan bersama Balitbang Kementerian Pertahanan sudah ditingkatkan ke 32 meter untuk optimalisasi fungsi. Ini merupakan milestone bertahap,” ujarnya.

Menurut Wahyu apabila pemerintah ingin membangun prototype kapal selam, harus lengkap dan detail termasuk tahap mitigasinya. Prototype harus memenuhi standar dan design requirement dari pengguna, dalam hal ini misalnya TNI AL yang banyak memahami secara paripurna kebutuhan teknologi pertahanan bawah air.

“Harapan kami inovasi teknologi anak bangsa tidak kalah bersaing dengan produk luar, dikarenakan tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal ekosistem industri dalam negeri, bilamana diperlukan, dapat dipersiapkan untuk menyediakan kapal selam,” katanya.

Wahyu optimis tahun 2029 atau 2030 bisa melakukan rancang bangun secara mandiri. Ini semua bisa dicapai dengan dukungan penuh kebijakan dan pendanaan dari pemerintah serta konsorsium industri kapal selam.

SDM di BPPT, kata Wahyu, sedang berproses meningkatkan kemampuan kompetensi untuk menguasai teknologi kapal selam. Perekayasaan dan alih teknologi dari negara maju diperlukan untuk percepatan. Mitra BPPT, PT PAL selaku industri diyakini juga sudah siap memproduksi untuk mendukung tugas serta peran TNI AL dalam mengamankan kedaulatan Indonesia di wilayah perairan.

Desain Kapal Selam 32 Meter BPPT merupakan output dari Kegiatan Rancang Bangun Alutsista Kapal Selam BPPT pada tahun 2017-2019, bekerjasama dengan industri pertahanan dalam negeri.

Kegiatan pengembangan kapal selam ini merupakan sasaran antara (intermediate target) dalam rangka mencapai penguasaan teknologi rancang bangun dan rekayasa kapal selam nasional secara total, mencakup: perancangan, whole local production, dan MRO (maintenance, repair & overhaul).

Sebagai negara maritim, Indonesia harus memiliki Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) Matra Laut yang handal dan memadai untuk menegakkan kedaulatan RI dan mengamankan wilayah perairan yurisdiksi Indonesia termasuk Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).

Dua pertiga luas wilayah Indonesia adalah lautan yang berbatasan dengan 10 negara. Jumlah armada kapal perang yang dimiliki Indonesia tidak sebanding dengan luasnya wilayah perairan, serta jumlah corong strategis yang harus dijaga, sehingga kebutuhan untuk penambahan kapal perang, khususnya kapal selam sangat penting.

Kapal selam merupakan sebuah wahana unik yang mampu menghadapi ancaman konvensional maupun perang laut asimetris.

Meskipun tersembunyi di bawah air namun mampu menghadapi ancaman permukaan dan peperangan terbuka konvensional, melakukan pengumpulan informasi intelijen, kontra-terorisme dan operasi pasukan khusus.

Kebutuhan pengembangan ke arah kemampuan siluman (stealth), jangkauan yang jauh dan lama menyelam serta fleksibilitas yang tinggi, kemudian dibatasi oleh ukuran dan biaya, maka kapal selam selam menjadikan sebuah proses desain yang inovatif.

darilaut.id


BERITA TERKAIT