Laut Memiliki Sidik Jari
DARILAUT.ID | 02/04/2021 13:17
Laut Memiliki Sidik Jari

Darilaut – Peneliti bidang Oseaonografi Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adi Purwana mengatakan, setiap laut memiliki ‘sidik jari’ karena karakteristik dan massa air yang sangat kontras pada masing-masing laut. ‘Sidik jari’ laut ini dibedakan dengan temperatur dan dan salinitas.

Arus laut lintas Indonesia (Arlindo) memiliki arus sebanyak 12 Sverdrup (Sv) atau 12 juta kubik air per detik, setara dengan 631.578.947 galon/detik.

“Kapal Riset Baruna Jaya VIII dilengkapi dengan perlengkapan observasi ADCP 75 kHz RDI untuk mengukur arus dan echo intensity. Ada pula CTD untuk mengukur daya konduksi, temperatur dan kedalaman laut,” kata Adi.

Menurut peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Mummad Fadli, data-data yang didapatkan dari Ekspedisi Indonesia Timur 2021 penting untuk memprediksi kondisi laut dan atmosfir yang dapat digunakan untuk mitigasi fenomena ekstrim dan perubahan iklim.

Atmosfir berhubungan dengan kondisi laut, oleh karena itu memahami laut adalah hal penting.

“Jika suhu laut dingin maka akan memengaruhi iklim, begitu pula jika tidak terjadi pencampuran arus laut, maka dapat menyebabkan bleaching atau karang-karang yang mati, sehingga memengaruhi ekosistem laut. Mooring bertujuan untuk mengukur suhu, arus, dan salinitas laut,” kata Fadli. Fadli dalam ekspedisi ini masuk dalam tim mooring.

Nahkoda Kapal Riset Baruna Jaya VIII, Indrayana Hasan mengatakan data kelautan pada Ekspedisi Indonesia Timur 2021 berhasil mengumpulkan data lebih banyak dan lebih komprehensif karena kolaborasi riset.

“Biasanya masing-masing bidang penelitian kelautan melakukan survey masing-masing. Kolaborasi riset ini ternyata menghasilkan data yang lebih baik dibandingkan dengan survey parsial. Semoga ini dapat memulai tren yang baik dalam pemanfaatan kapal riset,” ujar Indrayana.

Pusat Penelitian Oseaonografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali melakukan riset Arlindo atau Indonesia Throughflow. Pelayaran riset tersebut dilakukan secara selama 72 hari efektif dimulai dari 7 Januari.

Pelayaran riset dipimpin oleh peneliti P2O LIPI, Nugroho Dwi Hananto. Menurut Nugroho, waktu yang cukup lama ini dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengambil data kelautan dan biodiversitas.

 darilaut.id


BERITA TERKAIT