Tak Ada Luka Luar, Badak Jawa di Ujung Kulon Mati Karena Penyakit?
BETAHITA.ID | 30/04/2019 10:00
Tak Ada Luka Luar, Badak Jawa di Ujung Kulon Mati Karena Penyakit?
Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon. Dok. KLHK

Kabar duka melanda dunia konservasi. Seekor badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) kembali ditemukan mati di habitat terakhirnya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Provinsi Banten, baru-baru ini.  

Otoritas Balai TNUK mengonfirmasi hal tersebut. Bagian Hubungan Masyarakat Balai TNUK Monica Dyah Rahmaningsih mengatakan bahwa satwa langka yang sudah menjadi bangkai itu ditemukan oleh tim patroli di wilayah hutan Citadahan, salah satu wilayah konsentrasi populasi badak Jawa di bagian selatan taman nasional pada 21 Maret 2019.

BACA JUGA: LIPI Kembangkan Bioplastik dari Limbah Kelapa Sawit

“Kematian memang ada. Badak mati terakhir itu ditemukan di daerah Citadahan pada siang hari. Saat itu tim sedang patroli dan menemukan ada badak yang sudah mati,” kata Monica melalui percakapan telepon dengan Betahita, Kamis, 25 April 2019.

Badak yang ditemukan berjenis kelamin jantan, usia belum diidentifikasi. Perkiraan masih muda,” tambahnya. 

Terkait penyebab kematian, Monica menerangkan belum diketahui secara jelas. Adapun nekropsi telah dilakukan, namun saat ini pihak Balai TNUK masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel bangkai badak Jawa tersebut.

“Tapi yang kita lihat, cula dan badan badak utuh. Luka luar tidak ada dan darah mengalir di beberapa bagian,” kata Monica. 

BACA JUGA: Indonesia Terbitkan Dokumen NDF Hiu Lanjaman dalam Upaya Konservasi

Monica menambahkan bahwa pihaknya juga masih mengkaji kemungkinan adanya penyakit sebagai penyebab utama kematian satwa tersebut. “Ya kalau penyakit, kita juga mencoba membuka hal itu. Nanti penyebabnya akan kita rilis resmi,” katanya. 

Tahun lalu, seekor badak Jawa lainnya bernama Samson juga ditemukan mati di Pantai Karang Ranjang, Kabupaten Pandeglang, yang termasuk dalam wilayah TNUK. Dari hasil uji patologi, kematian badak jantan dewasa tersebut diduga karena torsio usus (usus besar dan usus kecil terpuntir). Bakteri mikroflora usus kemudian melepaskan racun, yang menyebar ke seluruh tubuh dan merusak organ dalam badak.

BETAHITA.ID

 


BERITA TERKAIT