Dinyatakan Punah 38 Tahun Lalu, Lebah Raksasa Masih Hidup di Maluku Utara
TERASMALUKU.COM | 15/03/2019 06:30
Dinyatakan Punah 38 Tahun Lalu, Lebah Raksasa Masih Hidup di Maluku Utara

TERASMALUKU.COM-Lebah terbesar di dunia ada di Maluku Utara. Pada 1981 lebah bernama latin Megachile pluto resmi dinyatakan punah oleh ahli dan peneliti. Namun pada Januari 2019 empat orang warga negara asing (WNA) datang ke Maluku Utara dan mengejutkan dunia dengan kabar, lebah terbesar itu masih hidup di alam. BKSDA, LIPI, peneliti lebah dan pihak terkait langsung mengambil langkah cepat membahas rencana perlindungan satwa langka itu pada Jumat (7/3/2019) di Bogor, Jawa Barat.

Kabar yang amat menggemparkan mata dunia itu datang sebulan lalu. Mereka terbang langsung dari negara asal ke Pulau Bacan Maluku Utara. Di pulau yang terkenal dengan hasil gemstone indah – batu bacan, empat orang tadi menemukan lebah sebesar jempol tangan atau sekitar 4 sentimeter di kebun warga. Itu merupakan lebah terbesar sepanjang sejarah yang pernah ada.

BACA JUGA: Tim Sisir Lokasi Penemuan Di Mamala Pastikan Keberadaan Buaya Lain

Mereka adalah Clate Bolt, forografer alam liar dan Eli Wyman, entomologis asal Amerika serta Simon Robson, seorang profesor dan Glen Chilton penulis asal Australia. Keempatnya datang untuk berwisata melihat keragaman alam di Maluku utara sejak 20 Januari hingga 1 Februari.

Pihak BKSDA Maluku kepada terasmaluku.com memberikan rincian kedatangan serta hasil temuan empat WNA yang kini telah banyak dimuat pada lama media daring di Amerika. “Sebelumnya memang ada hasil temuan kalau sudah punah. Kemungkinan besar mereka baca-baca lagi lalu datang untuk pastikan apakah betul punah,” terangnya Kamis siang  (14/3/2019). Pada berita di sejumlah media daring luar negeri, lebah tersebut ditemukan di dalam sarangnya yang menempel pada pohon nangka.

BACA JUGA: Detik-Detik Penyelamatan 5 Wisatawan Asing dan 9 Warga Indonesia Di Laut Banda

Jejak penemuan spesimen itu sudah ada ratusan tahun lalu. Kali pertama ditemukan oleh naturalis asal Inggris Alfred Russel Wallace pada 1859. Penemuannya di hutan Maluku. Namun seiring berjalan waktu, para peniliti serangga mengumumkan jika jenis serangga itu telah punah. Memang, alam di Maluku begitu pekat dan kaya akan keanekaragaman flora dan fauna. Hutan tropis itu menjadi rumah besar bagi ribuan jenis serangga, termasuk serangga yang masuk IUCA (International Union for Conservation of Nature’s) red-List pada 2014.

Baca selengkanya di TERASMALUKU.COM


BERITA TERKAIT