Serai Merah Yanggandur, dari Pengusir Ular Diolah Jadi Minyak Terapi
JUBI.CO.ID | 13/11/2021 13:36
Serai Merah Yanggandur, dari Pengusir Ular Diolah Jadi Minyak Terapi

Merauke, Jubi – Masyarakat di Kampung Yanggandur, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Papua adalah Suku Kanum. Mereka memiliki tanaman serai merah yang ditanam di pekarangan rumah maupun di kebun. Serai merah yang ditanam, diyakini masyarakat setempat sebagai pengusir ular, lantaran memiliki aroma sangat tajam. Sementara mereka sendiri tak mengetahui jika tanaman dimaksud dapat diolah atau dimasak untuk disuling menjadi minyak.

Rupanya peluang tersebut baru diketahui setelah Komunitas Menoken Merauke yang terdiri dari Adrianna Papo, Monic Yatupape, Yunne Angel, Spik Dion Baransano, serta Ayub L menemui masyarakat orang asli Papua (OAP) itu sekaligus memberikan gambaran terkait tanaman serai merah.

Adriana Papo, salah seorang anggota Komunitas Menoken Merauke, ketika ditemui Jubi, Jumat (12/11/2021), menjelaskan sehubungan dengan kegiatan Menoken Nusantara, dua kampung dipilih sebagai sentra yakni Yanggandur di Distrik Sota serta Kampung Poo di Distrik Jagebob. “Awalnya saya dan Monic terlibat dengan Samdana, kurang lebih dua tahun. Samdana adalah salah satu institut yang khusus bergerak untuk masyarakat adat, juga program pengolahan pangan lokal. Jadi kami berdua dilirik sekaligus dilibatkan bertukar pikiran,” kata Papo yang juga aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Merauke.

“Ada dua teman datang ke rumah saya dan menyampaikan akan membuat kegiatan menoken dan kami pun menyambut positif. Sebagai tindak-lanjutnya, dua kampung lokal itu menjadi rencana, mengingat kampung itu memiliki sejumlah potensi alam di sana yang dapat dikembangkan,” ungkapnya.

Khusus di Kampung Yanggandur, menurutnya, terdapat potensi pangan misalnya jahe, serai merah, dan kemiri. “Kami mencoba masuk ke sana dan duduk berceritera bersama masyarakat setempat,” jelasnya. Ketika itu, mereka menyampaikan memiliki tanaman serai merah yang dibudidayakan di pekarangan rumah maupun di kebun. Lalu manfaatnya hanya sebagai pengusir ular karena memiliki aroma sangat tajam.

“Setelah kami bertukar pikiran dan menyampaikan kalau serai merah dapat dimasak dan disuling menjadi minyak untuk dijual, merekapun meresponis sangat positif,” katanya. Seminggu kemudian, lanjut dia, tim Komunitas Menoken kembali ke Yanggandur dan ternyata masyarakat telah memasak dan menyuling serai merah menjadi minyak. “Ya warga setempat sudah memiliki pengalaman dalam mengolah dan menyuling minyak kayu putih. Dari pengalaman itu, mereka memasak dan menyuling serai merah,” katanya.

Dari hasil kesepakatan, label minyak diberi nama Mace Liba, karena awal mula yang mengolah dan memproduksi serai merah adalah Mama Liba.

Saat ini, minyak serai merah dalam kemasan botol telah dipasarkan, dalam wilayah Kota Merauke dan ke Jayapura. Bahkan ada juga pemesan dari Yogyakarta. Minyak serai merah dijual Rp50 ribu per botol. Kini pengolahan serai merah telah dilakukan dalam dua kelompok yang umumnya didominasi mama-mama.

“Memang salah satu kunci adalah bagaimana pendampingan melekat dilakukan terhadap produksi serai merah. Karena sudah merambah pasar dan telah banyak pembelinya,” katanya. Sedangkan manfaat dari minyak serai merah, demikian Papo, untuk aroma therapy maupun dijadikan sebagai minyak urut. Monic Yatupape menambahkan perlunya pendampingan melekat terhadap masyarakat di Kampung Yanggandur agar bisa mengolah beberapa potensi di sana, salah satunya adalah serai merah.

“Kami dari Komunitas Menoken, akan terus melakukan pendampingan terhadap masyarakat setempat, meskipun dengan berbagai kesibukan lain. Tetapi intinya adalah dengan pendampingan, mereka akan termotivasi,” ujar Monic yang juga ASN di Pemkab Merauke.

jubi.co.id


BERITA TERKAIT