Hujan Buatan Sukses Isi Air Danau Toba, Selamatkan 2 PLTA
TEMPO.CO | 06/05/2021 03:00
Metode flare dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca hujan buatan menggunakan pesawat jenis Piper Cheyenne milik BPPT. (BBTMC-BPPT)
Metode flare dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca hujan buatan menggunakan pesawat jenis Piper Cheyenne milik BPPT. (BBTMC-BPPT)

TEMPO.CO, Jakarta - Teknologi modifikasi cuaca hujan buatan terpantau berhasil meningkatkan tinggi muka air Danau Toba, Sumatera Utara. Teknologi ini dikerahkan setelah hingga akhir Maret lalu air Danau Toba semakin mendekati titik minimumnya untuk dua Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik PT Inalum bisa tetap beroperasi.

Keberhasilan operasi hujan buatan itu telah dilaporkan dalam rapat evaluasi yang dilaksanakan daring, dipimpin Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, Selasa 4 Mei 2021. “Tim TMC berhasil meningkatkan efektif inflow Danau Toba di atas target yang ditetapkan sebelumnya,” ujar Kepala BPPT, Hammam   mengungkapkannya kembali, Rabu 5 Mei 2021.

Efektif Inflow Danau Toba disebutnya meningkat di atas baseline inflow yang ditargetkan oleh PT Inalum sebesar 138,6 meter kubik per detik. Sementara dari sisi akumulasi curah hujan selama operasi hujan buatan tercatat sebesar 361 mm. “Peningkatan 36,3 persen dari curah hujan historisnya, dan meningkatkan efektif inflow melebihi baseline inflow sebesar 3,8 persen,” ujar Hammam.

Dari hasil pemantauan pada akhir operasi, Jumat 30 April 2021, tinggi muka air Danau Toba telah mengalami kenaikan 8,5 sentimeter dibandingkan dengan tinggi muka air yang dipantau pada awal kegiatan TMC. Kenaikan TMA ini diharapkan menolong PT Inalum yang memanfaatkan air dari Danau Toba sebagai sumber utama 3 bendungan, yaitu Bendungan Pengatur, Bendung Sigura-gura, dan Bendungan Tangga, dan 2 PLTA yaitu Sigura-gura dan Tangga.

Kedua PLTA itu menyediakan sumber listrik utama untuk pengoperasian pabrik peleburan aluminium.

Dalam pertemuan Selasa juga direkomendasikan operasi yang sama dapat kembali dilaksanakan mulai Agustus yang semula diusulkan pada Oktober 2021. Rapat Koordinasi yang dipimpin langsung oleh Menko Maritim dan Investasi, LuhutPandjaitan, mengusulkan BPPT dan BMKG agar terus melakukan pemantauan secara kontinyu terhadap tinggi permukaan air di Danau Toba.

“Sekaligus diharapkan menerapkan teknologi pemantauan kualitas dan kuantitas air danau melalui pembangunan stasiun cuaca lokal di Danau Toba," kata Luhut.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan secara klimatologi puncak musim hujan di sekitar Danau Toba terjadi dua kali yaitu pada April dan November. Sedangkan pada Juni dan Juli umumnya berada dalam kategori rendah hingga menengah dengan curah hujan berkisar antara 51- 150 mm. “Mei 2021 daerah Danau Toba akan masuk musim kemarau sehingga TMC saat ini sekaligus sebagai antisipasi menghadapi musim kemarau 2021,” ujarnya.

 

Foto aerial Danau Toba dari kawasan wisata menara pandang Tele di Turpuk Limbong, Harian, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Ahad, 21 Februari 2021. Wisata menara pandang tersebut menyajikan keindahan panorama Danau Toba. ANTARA/Nova Wahyudi

 

Reinaldy Harahap, Direktur Eksekutif Operasi dan Produksi PT Inalum (Persero), menyampaikan pihaknya siap berkoordinasi untuk kegiatan TMC tahap kedua. “Untuk tahap kedua, kami akan berkoordinasi dengan Pemda Sumatera Utara agar kembali memfasilitasi pemberian izin bahan semai berupa flare (low explosive) untuk kegiatan TMC di Danau Toba,” ujarnya.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca-BPPT, Jon Arifian, mengatakan selama 29 hari kegiatan hujan buatan (1-29 April), telah dilaksanakan 27 sorti penerbangan penyemaian awan menggunakan pesawat Piper Cheyenne II PK-TMC dengan bahan semai flare COSAT. Pada tahap awal, operasi hujan buaran itu terganggu dampak Siklon Tropis Seroja yang mengurangi secara signifikan pertumbuhan awan di wilayah daerah tangkapan air Toba," katanya. 

Baca juga:
Terjadi Kerumunan Gempa di Danau Toba, Sebab Aktivitas Vulkanik?


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT