BMKG: Gempa Interslab Berulang di Sepanjang Selatan Jawa
TEMPO.CO | 01/05/2021 13:38
Seorang warga berjalan melintasi puing reruntuhan sebuah rumah untuk menuju mushala Al Mutaqin, Majangtengah, Malang, Jawa Timur, Senin, 12 April 2021. Warga di daerah terdampak gempa Malang tersebut menggunakan bangunan masjid dan mushala yang masih utuh
Seorang warga berjalan melintasi puing reruntuhan sebuah rumah untuk menuju mushala Al Mutaqin, Majangtengah, Malang, Jawa Timur, Senin, 12 April 2021. Warga di daerah terdampak gempa Malang tersebut menggunakan bangunan masjid dan mushala yang masih utuh untuk melaksanakan shalat tarawih pertama di bulan Ramadhan. ANTARA/Ari Bowo Sucipto

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut karakteristik gempa yang terjadi di laut selatan Jawa terbanyak memiliki kedalaman sumber lebih dari 50 kilometer. Kedalaman seperti itu tergolong gempa menengah dan terbukti bisa merusak.

Itu seperti gempa Magnitudo 6,1 yang mengguncang dari selatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 10 April lalu. Hiposentrum lindu kala itu terukur dari kedalaman 80 kilometer.

"Kita paling banyak meremehkan gempa berkedalaman menengah," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam rapat koordinasi tim intelijen penanggulangan bencana yang digelar daring, Jumat 30 April 2021.

Daryono menyebut gempa Malang bersumber di dalam lempeng atau interslab. Lebih tepatnya, sumber gempa tersebut berada di zona benioff. Gempanya biasanya miskin gempa susulan tapi memiliki karakteristik guncangan meluas, karena energi regangan yang terakumulasi yang ada diubah menjadi gelombang seismik.

"Gempa interslab menyebabkan pergerakan tanah jauh lebih besar dibandingkan gempa untuk sumber lainnya, dan mampu mengguncang lebih keras," kata dia.

Menurut Daryono, gempa bermagnitudo 6,1 itu merupakan rangkaian gempa signifikan interslab di selatan Pulau Jawa dan terjadi bergantian (melepaskan energinya) dari barat sampai ke timur. Hal tersebut, kata Daryono lagi, menunjukkan sistem aktivitas subduksi di Indonesia memang aktif.

Peta gempa di Malang pada 11 April 2021. Twitter/BMKG

Gempa interslab yang berulang di selatan Jawa itu, di antaranya, Gempa Bali 5,6 M (2017), Gempa Tasikmalaya 6,9 M (2017), Gempa Banten 6,1 M (2018) dan terbaru pada pekan ini Gempa Sukabumi 5,0 M (2021).

"Ke depan, bangunan tahan gempa di wilayah ini harus segera diwujudkan, karena (gempa-gempa) ini tidak akan berakhir. Sehingga kita hanya bisa beradaptasi dengan membangun rumah tahan gempa," ujar Daryono.

Daryono bicara di hari kedua rakor yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu. Selain dari BMKG dan BNPB, hadir dalam acara itu narasumber dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), serta ahli bencana dari perguruan tinggi.

Baca juga:
Rentetan Gempa Menggoyang Kota Sabang Tadi Malam Hingga Pagi Ini


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT