Top 3 Tekno Berita Kemarin: Nadiem, Masyarakat Badui, dan Lockdown di Inggris
TEMPO.CO | 22/01/2021 09:35
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu 8 Juli 2020. (ANTARA/HO- Humas Kemendikbud)
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim di Sukabumi, Jawa Barat, Rabu 8 Juli 2020. (ANTARA/HO- Humas Kemendikbud)

TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno Berita Kemarin, Kamis 21 Januari 2021, seluruhnya seputar pandemi Covid-19. Diawali dari keterangan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tentang jumlah sekolah yang sudah maupun belum memanfaatkan izin yang diberikannya untuk memulai kembali pembelajaran tatap muka per Januari ini.

Lalu, berita kedua datang dari Inggris. Penguncian wilayah atau lockdown ketiga di negara itu disebut tidak mampu meredam penyebaran Covid-19. Buktinya, angka prevalensi penyakit infeksi itu yang tak goyah dan bahkan bertambah dibandingkan angkanya Desember lalu. 

Slot terakhir Top 3 Tekno Berita Kemarin diisi berita dari pedalaman Banten. Masyarakat Badui di Lebak dilaporkan belum memiliki satupun kasus Covid-19. Petugas medis puskesmas dan tetua adat mengungkap beberapa hal yang menjadi kunci dari catatan istimewa tersebut.

Berikut Top 3 Tekno Berita Kemarin, Kamis 21 Januari 2021, selengkapnya,

1. Banyak Sekolah Masih Daring, Menteri Nadiem: Kemauan Daerah Masih Rendah

Sebanyak 32.400 sekolah atau 15 persen dari seluruh sekolah yang ada di Indonesia sudah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka di awal tahun ini, di tengah pandemi Covid-19. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengungkap itu di DPR RI, Rabu 20 Januari 2021. 

"Sedangkan 186.552 sekolah lainnya masih belajar dari rumah," kata Nadiem dalam rapat kerja yang disiarkan langsung melalui akun YouTube Komisi X DPR RI Channel tersebut.

Baca juga:
Nadiem Izinkan Sekolah Dibuka Lagi, IDAI: Pembelajaran Jarak Jauh Lebih Aman

Nadiem mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyerahkan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mengatur penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Mereka diizinkan untuk membuka kembali sekolah-sekolah tanpa melihat peta pandemi--dengan penerapan protokol kesehatan--asalkan sekolah dan juga orang tua murid setuju.

2. 10 Hari Lockdown Tak Sanggup Turunkan Prevalensi Covid-19 di Inggris

Penguncian wilayah atau lockdown ketiga di Inggris tampaknya tidak terlalu mampu meredam penyebaran Covid-19. Para peneliti memperingatkan bahwa saat ini prevalensi penyakit itu cukup tinggi dan tidak ada bukti penurunan kasus baru dalam sepuluh hari pertama lockdown itu diberlakukan.

Menurut para peneliti yang memimpin studi prevalensi REACT-1 di Imperial College London, sampai tingkat penularan berkurang secara substansial, layanan kesehatan akan tetap berada di bawah tekanan ekstrem. Jumlah kematian pun diprediksi akan terus meningkat dengan cepat.

Baca juga:
Studi: Terlambat Lockdown, Covid-19 Tumbuh Lebih Cepat di Inggris

Ahli penyakit menular Steven Riley menerangkan, jumlah pasien rawat inap Covid-19 di rumah sakit di Inggris saat ini sangat tinggi. “Kami tidak dapat berharap itu akan turun kecuali kami dapat mencapai tingkat prevalensi yang lebih rendah,” kata Riley, seperti dikutip Reuters, Kamis 21 Januari 2021. 

3. Masyarakat Badui Belum Terinfeksi Virus Corona Covid-19, Apa Rahasianya?

Masyarakat adat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, hingga kini masih terbebas dari pandemi Covid-19. Pemerintahan setempat belum mencatat adanya laporan kasus positif infeksi virus corona diduga karena warganya yang disiplin dengan tidak bepergian ke zona merah penularan.

"Kami mengapresiasi warga Badui dapat mengendalikan Covid-19 itu," kata Iton Rustandi, petugas medis di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Rabu 20 Januari 2021. Di antara wilayah kerja puskesmas ini adalah Desa Kanekes yang menjadi wilayah domisili masyarakat adat Badui.

Iton menilai masyarakat Badui lebih mematuhi protokol kesehatan dengan mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun untuk mencegah penularan infeksi virus corona Covid-19. Bahkan, tetua adatnya disebutkan melarang masyarakat pergi ke Jakarta, Tangerang dan Bogor, daerah-daerah yang dianggap zona merah penularan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT