WHO Beri Izin Darurat Vaksin Polio Baru, Bio Farma Ikut Produksi
TEMPO.CO | 14/11/2020 20:39
Dua pekerja kesehatan  memberi vaksin polio tetes untuk anak pada hari kedua kampanye vaksinasi di Kabul, Afghanistan, 16 Maret 2015.  (Shah Marai/AFP/Getty Images)
Dua pekerja kesehatan memberi vaksin polio tetes untuk anak pada hari kedua kampanye vaksinasi di Kabul, Afghanistan, 16 Maret 2015. (Shah Marai/AFP/Getty Images)

TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan izin penggunaan darurat untuk vaksin polio nOPV2 pada Jumat, 13 November 2020. Vaksin ini di antaranya diproduksi PT Bio Farma (Persero), badan usaha milik negara di Indonesia.

Dalam pernyataannya, WHO mengatakan izin dikeluarkan untuk menghadapi tingginya kasus positif polio di sejumlah negara-negara Afrika dan Mediterania Timur. "Wilayah Pasifik bagian barat dan Asia Tenggara juga terdampak oleh wabah ini," kata WHO lewat siaran tertulisnya, Jumat, sebagaimana diterima di Jakarta, Sabtu 14 November 2020.

Baca juga:
FDA Rapat 9 Jam Bahas Izin Penggunaan Darurat Vaksin Covid-19

Untuk pertama kalinya, WHO menerbitkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization) untuk vaksin. Oleh karena itu, WHO berharap langkah tersebut juga dapat diterapkan pada hasil pengembangan vaksin Covid-19 nanti.

Vaksin nOPV2 merupakan anti virus polio jenis baru (cVDPVs) yang dikembangkan oleh jaringan kerja sama global lintas lembaga dan ahli dari berbagai negara, Inisiatif Global untuk Menghapus Polio (GPEI).

Jaringan kerja sama itu diikuti oleh Bio Farma; University of Antwerp di Belgia; organisasi non pemerintah Lawan Penyakit Menular di Negara Berkembang (FIDEC); Institut Nasional untuk Standar Biologi dan Kontrol (NIBSC) di Inggris; University of California San Francisco (UCSF) di Amerika Serikat; Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS; dan berbagai lembaga swadaya lainnya seperti PATH dan Bill & Melinda Gates Foundation.

Dalam 30 tahun terakhir, upaya penghapusan kasus polio telah mencapai 99,9 persen. Namun, ternyata usaha itu belum dapat mencapai akhir karena virus polio cVDPVs muncul dan menyebar di populasi yang jarang mendapatkan akses imunisasi.

"Jika banyak anak tidak mendapatkan imunisasi polio, virus dapat diturunkan antarindividu dan generasi sehingga virus itu membentuk jenis baru yang dapat menyebabkan kelumpuhan," kata WHO menerangkan.

Ditambahkan dalam pernyataan yang sama, "Virus cVDPVs tipe dua merupakan jenis yang cukup banyak ditemui saat ini."

Baca juga:
Bio Farma Ajukan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Covid-19 Januari

WHO memperkenalkan prosedur pengajuan izin penggunaan darurat saat Ebola mewabah di Afrika Barat pada 2014-2016. Setidaknya ada tiga tahapan utama yang harus dilalui kandidat vaksin untuk mendapatkan izin ini.

Tahapan itu mencakup fase persiapan, fase darurat, dan fase setelah masuk daftar izin penggunaan darurat. WHO akan mengundang tim ahli independen untuk memeriksa kandidat vaksin dan berbagai data uji klinis tahap II dan III yang tersedia, serta menyusun sistem pengawasan dan merancang penelitian lebih lanjut.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT