Tak Lagi Anjurkan Lockdown Covid-19, WHO: Malapetaka Mengerikan
TEMPO.CO | 13/10/2020 01:06
Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusatnya di Jenewa, 25 Januari 2015. [REUTERS / Pierre Albouy / File Foto]
Logo Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusatnya di Jenewa, 25 Januari 2015. [REUTERS / Pierre Albouy / File Foto]

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Kesehatan Dunia atau WHO tidak lagi menganjurkan karantina total sebuah wilayah atau lockdown sebagai jalan utama untuk mengendalikan wabah Covid-19. WHO meminta dikembangkan sistem lainnya untuk pengendalian penyebaran penyakit itu. 

"Kami meminta kepada semua pemimpin dunia untuk berhenti menggunakan lockdown sebagai metode utama pengendalian (wabah)," kata Utusan Khusus Direktur Jenderal WHO Urusan Pandemi Covid-19, David Nabarro, dalam sebuah wawancara dengan The Spectator, media berbasis di Inggris.

Nabarro mengkritisi langkah lockdown dalam kaitannya dengan dampak kesulitan ekonomi dan kemiskinan secara global. Ia mengambil contoh sektor pariwisata, seperti di Karibia atau wilayah Pasifik yang terpukul karena tidak ada turis.

"Lihatlah yang terjadi dengan tingkat kemiskinan, tampaknya kita akan mengalami angka kemiskinan dunia yang berlipat ganda pada tahun depan. Sesungguhnya ini adalah malapetaka global yang mengerikan," ujar dia.

Menurut Nabarro, lockdown hanya membuat masyarakat miskin menjadi jauh lebih miskin. Dia menambahkan, karantina wilayah hanya dibenarkan untuk memberikan waktu kepada pemerintah agar dapat mengatur, mengelompokkan, dan menyeimbangkan kembali sumber daya untuk selanjutnya mengambil jalan tengah dalam penanganan pandemi.

 

Kombinasi foto suasana lalu lintas di Wuhan, Hubei, Cina saat lockdown pada 3 Maret (atas) dan setelah lockdown berakhir pada 9 April 2020. Kota Wuhan yang merupakan tempat awal penyebaran virus Corona, ditutup total selama kurang lebih 11 pekan. REUTERS/Stringer/Aly Song


Nabarro mengakui bahwa kondisi saat ini memang menjadi tantangan yang rumit bagi para pemimpin negara. Dia mengatakan perlu jalan tengah, "karena terlalu banyak pembatasan akan merusak kehidupan masyarakat dan memancing kebencian, sementara 'virus yang dibiarkan menyebar akan menimbulkan banyak kematian."

Baca juga:
WHO Peringatkan Puncak Kedua Covid-19 Setelah Lockdown Dibuka

Jalan tengah itu, kata Nabarro, dapat diterapkan dengan tiga hal yang saling berkaitan, yakni langkah pencegahan Covid-19 setiap saat, layanan tes-telusur-isolasi (tracing-tracking-treatment), serta kebijakan yang jelas dari para pengambil kebijakan.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT