Hadapi La Nina, BNPB Rekomendasikan Langkah-langkah Kesiapsiagaan
TEMPO.CO | 11/10/2020 17:36
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat dan berkoordinasi mengirim bantuan menyusul terjadinya bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor di tujuh wilayah di Jabar pada 21-23 Februari 2018. (dok Pemprov Jabar)
Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat dan berkoordinasi mengirim bantuan menyusul terjadinya bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor di tujuh wilayah di Jabar pada 21-23 Februari 2018. (dok Pemprov Jabar)

TEMPO.CO, Jakarta - Menghadapi fenomena La Nina yang dapat berdampak pada potensi bahaya hidrometeorologi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merekomendasikan kesiapsiagaan tidak hanya pada tingkat provinsi, tetapi hingga tingkat kecamatan, kelurahan atau desa dan bahkan keluarga.
 
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan saat melakukan diskusi menyikapi fenomena La Lina melalui media virtual pada Minggu, 11Oktober 2020. Lilik mengatakan, kesiapsiagaan harus dilakukan di setiap tingkat.

Lilik menegaskan bahwa camat, lurah dan kepala desa untuk melakukan beberapa kesiapsiagaan. Pertama, Lilik meminta untuk memastikan tempat evakuasi sementara dapat digunakan, setiap daerah rawan bencana miliki tempat evakuasi sementara. Lilik meminta aparat desa untuk mengidentifikasi bangunan aman yang dapat digunakan sebagai shelter sementara, seperti rumah warga, kantor desa atau pun sekolah.

”Jangan sampai tempat evakuasi menjadi kluster baru Covid-19. Identifikasi rumah aman yang dapat digunakan sebagai tempat evakuasi sementara,” ujar Lilik.
 
Kedua, memastikan masyarakat yang terpapar mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan. Ia mengingatkan protokol kesehatan, yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan.

Apabila saat evakuasi tidak dimungkinkan untuk menerapkan protokol kesehatan, dengan pertimbangan keselamatan, selanjutnya protokol harus diterapkan dengan ketat. “Kita harus memastikan masyarakat untuk mengetahui apa yang harus dilakukan apabila ada info dari BMKG,” pesannya.
 
Hal tersebut terkait dengan penyampaian informasi yang diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat kabupaten dan kota kepada pihak kecamatan dan selanjutnya di tingkat desa. “Sosialisasikan informasi kepada masyarakat dengan bijak, jangan menakuti-nakuti,” kata Lilik.
 
Lilik mengatakan, gunakan bahasa yang mudah dipahami untuk menerjemahkan informasi cuaca sehingga pesan sampai pemangku kepentingan di tingkat kecamatan maupun masyarakat.
 
Beberapa kanal informasi dapat diakses oleh aparat kecamatan, kelurahan dan desa, bahkan di tingkat keluarga dengan beberapa kanal, seperti teknologi informasi dari BNPB dan BMKG.

BNPB memiliki InaRISK dan juga Katalog Desa Rawa Bencana yang dapat diakses semua pihak, kemudian BMKG memiliki aplikasi Info BMKG yang dapat menginformasikan kondisi cuaca hingga tingkat kecamatan.
 
Terakhir, masyarakat di tingkat kecamatan, kelurahan dan desa dapat melakukan simulasi mandiri sesuai rencana kontingensi yang sudah dibuat. Ini tentunya dibantu oleh BPBD kabupaten maupun kota setempat.
 
Pada kesempatan itu, Lilik juga mengimbau setiap keluarga untuk mengidentifikasi risiko bencana yang ada di sekitar. Kesiapsiagaan sejak dini dibutuhkan untuk memastikan tidak adanya korban jiwa apabila terjadi peristiwa ekstrem. Diskusikan dengan anggota keluarga maupun komunitas di masyarakat terkait dengan potensi ancaman bahaya yang ada di sekitar sehingga risiko bencana dapat dihindari.
 
Di samping kesiapsiagaan di tingkat administrasi desa dan kelurahan, Lilik menyampaikan langkah-langkah yang harus disiapkan dari tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota.
 
BNPB telah meminta pihak BPBD kabupaten dan kota untuk melakukan beberapa langkah strategi. Pertama, rapat koordinasi kesipasiagaan menghadapi La Nina. Beberapa hal yang diharapkan untuk dibahas yaitu mengenai sosialisasi daerah rawan bencana, memastikan camat, lurah dan kepala desa untuk melakukan kesiapsiagaan di daerah masing-masing, memastikan organisasi perangkat daerah mempersiapkan sumber daya dalam kesiapsiagaan serta operasional pusat pengendali operasi (pusdalops) di BPBD.
 
Kedua, pihak BPBD dan instansi terkait melakukan simulasi field training exercise sesuai dengan rencana kontingensi yang ada. Lilik tidak lupa menyampaikan rencana tersebut juga perlu memasukkan konteks ancaman bahaya lain, seperti Covid-19.
 
Selain itu menghimpun dukungan sumber daya, khususnya sukarelawan dan dukungan lain, melakukan susur sungai yang bertujuan untuk memastikan tidak ada potensi bahaya, dan menetapkan tempat evakuasi berbasis protokol Kesehatan.
 
Demikian juga pada kesiapsiagaan di tingkat provinsi, Lilik meminta BPBD di tingkat provinsi untuk melakukan rapat koordinasi, khususnya menghadapi La Nina. Ia meminta seluruh pemerintah provinsi untuk memastikan seluruh bupati dan wali kota untuk melakukan kesiapsiagaan di setiap daerah. “Memastikan seluruh organisasi perangkat daerah provinsi sudah mempersiapkan sumber daya dalam mendukung kesiapsiagaan,” pesan Lilik.
 
Kemudian, BPBD dan mitra terkait melakukan simulasi table top exercise sesuai dengan rencana kontingensi yang sudah disiapkan serta menghimpun sukarelawan dan dukungan lain di tingkat provinsi.
 
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, beberapa provinsi di Indonesia sudah memasuki musim hujan dan perlu mewaspadai hujan di atas normal. Ia menyampaikan bahwa dampak intensitas curah hujan di atas normal yang dipengaruhi fenomena La Nina tidak sama di setiap wilayah.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT