Gempa Megathrust di Balik Potensi Tsunami, Ini Peta dan Kekuatannya
TEMPO.CO | 29/09/2020 02:04
Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019 BNPB memasang rambu peringatan tsunami di kawasan wisata Pantai Tambak, Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 19 Juli 2019. (Instagram/BNPB)
Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami 2019 BNPB memasang rambu peringatan tsunami di kawasan wisata Pantai Tambak, Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 19 Juli 2019. (Instagram/BNPB)

TEMPO.CO, Jakarta - Ada potensi gempa besar dari segmen megathrust di balik potensi tsunami dari laut di selatan Jawa. Temuan potensi tsunami itu, ketinggian maksimum 20,2 meter di dekat pulau-pulau kecil sebelah selatan Banten dan 11,7 meter di Jawa Timur, mendapat perhatian cukup besar dari masyarakat belakangan ini.

Seperti diketahui, potensi gempa dan tsunami itu didapat dari hasil riset atas jalur sepi gempa (seismic gap) di Samudera Indonesia selatan Jawa. Zona defisit slip segmen megathrust di selatan Jawa Barat setara dengan akumulasi energi gempa bermagnitudo 8,9, dengan asumsi periode ulang gempa 400 tahun sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya. 

Untuk periode ulang yang sama, zona dengan defisit slip tinggi di segmen megathrust di bagian timur (selatan Jawa Timur) setara dengan gempa bermagnitudo 8,8.  Sedangkan jika kedua zona defisit slip tersebut pecah dalam satu kejadian gempa, maka diperhitungkan menghasilkan gempa dengan kekuatan sebesar Mw 9,1.

Potensi gempa megathrust di Indonesia bukan hanya dari dua segmen di atas. Sebelumnya, sejumlah potensi sejenis telah diungkap di selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Barat dan barat Sumatera. Termasuk yang dibayangi dampak gempa megathrust itu adalah wilayah ibu kota, Jakarta.

Berikut ini beberapa pernyataan dan hasil riset terkait potensi gempa megathrust di Indonesia beserta kekuatan dan lokasinya tersebut. Sebagian sama menunjuk selatan Banten dan Jawa Barat,

 

Selat Sunda

Menurut Badan Geologi, gempa megathrust di Selat Sunda memang berpotensi berdampak ke Jakarta. Di antara sumber lain yang berpotensi membangkitkan gempa di Jakarta, sumber gempa megathrust selatan Jawa hingga ke Selat Sunda adalah yang terdekat, berjarak lebih dari 200 kilometer.

"Jika terjadi gempa besar bermagnitudo 8 hingga 9,5 dari sumber itu bisa merambat ke Jakarta," kata kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Sri Hidayati, saat ditemui di kantornya, Kamis, 8 Maret 2018.

Peta zona gempa megathrust. (Pusat Studi Gempa)

Meskipun intensitas gempanya menurun, kondisi endapan tanah cekungan Jakarta bisa memperbesar efek gempa atau amplifikasi. Dampaknya pada bangunan tinggi.

Pandeglang

Perekayasa Bidang Kelautan Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai (BTIPDP) BPPT, Widjo Kongko, memaparkan hasil penelitian ilmiah mengenai tinggi gelombang tsunami 57 meter akan menerjang pantai Pandeglang. Menurut Widjo, kajian ini masih dalam bentuk modeling, belum sampai ke status prediksi.

Baca juga:
BMKG Sebut Prediksi Gempa dari UGM Ibarat Tes Covid-19 Hanya Ukur Suhu

Dia menyampaikannya dalam kegiatan Seminar Ilmiah oleh BMKG dalam rangka memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-68, dengan topik Sumber-sumber Gempabumi dan Potensi Tsunami di Jawa Bagian Barat, 3 April 2018. Potensi itu hasil pemodelannya jika wilayah selatan Jawa Barat-Banten diguncang gempa megathrust. Paparannya juga berdasarkan data pada buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2017.

Lombok

BMKG mengatakan dari hasil simulasi dan pemodelan tsunami, wilayah Lombok Selatan menyimpan potensi gempa megathrust berkekuatan magnitudo 8,5 dan gelombang tsunami dengan ketinggian mencapai 20 meter sejauh hingga lima kilometer.

Baca juga: Gempa Lombok Agustus 2018 Sebabkan 564 Orang Meninggal

"Kapan waktunya tidak ada yang tahu bahkan teknologi secanggih apapun tidak bisa memprediksi dan mengetahui kapan akan terjadi gempa itu," ujar Kepala BMKG Mataram Agus Riyanto di sela-sela seminar manajemen kebencanaan yang dilaksanakan di Universitas Nahdatul Ulama NTB di Mataram, Kamis, 4 Juli 2019.

Menurut Agus, jika merujuk pada sejarah dan hasil penelitian, gempa besar pernah terjadi di perairan selatan, khususnya Lombok pada 500-1000 tahun yang lalu. Hal ini dibuktikan dari jejak pasir sisa tsunami yang tertinggal.

Sedangkan, gempa terakhir yang besar terjadi pada tahun 1977 di wilayah Sumba Kabupaten Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga berimbas pada wilayah selatan NTB dan hingga sekarang tidak pernah terjadi lagi, namun tetap saja hal tersebut menurutnya harus tetap diwaspadai.

Nias-Simeulue

BMKG menyatakan gempa berkekuatan 6,1 Magnitudo yang mengguncang Pulau Simeulue, Aceh, pada 7 Januari 2020, berasal dari segmen megathrust. Segmen itu, Nias-Simeulue, aktif dan diyakini memiliki potensi energi yang bisa terlepas hingga 8,7 dalam skala Magnitudo.

Pusat gempa magnitudo 4,9 di laut 73 Km Barat Daya Simeulue, Aceh, Selasa, 2 Juli 2019. (BMKG)

Menurut catatan BMKG, gempa kuat yang bersumber dari zona megathrust segmen Nias sudah terjadi beberapa kali. Gempa Simeulue 4 Januari 1907 bermagnitudo 7,6 yang memicu tsunami dan menelan korban jiwa lebih 400 orang meninggal adalah satu di antaranya.

Gempa kuat lainnya dari segmen yang sama adalah pada 2 November 2002 dengan magnitudo 7,2 dan mengakibatkan puluhan orang luka-luka. Pun dengan gempa pada 20 Februari 2008 dengan magnitudo 7,3 hingga menimbulkan kerusakan dan menelan korban jiwa empat orang meninggal.

Sukabumi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi gempa hingga 8,7 Magnitudo dari zona megathrust di laut selatan Sukabumi, Jawa Barat. Gempa itu, berdasarkan simulasi atau pemodelan, bisa memicu tsunami setinggi lebih dari tiga meter.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, lewat keterangan tertulis yang dibagikannya Jumat 28 Februari 2020, menyebut potensi gempa itu telah diketahui dari hasil kajian 2011 lalu. Tambahan dari pemodelan hampir sepuluh tahun lalu, dia mengungkapkan, adalah tingkat guncangan yang mencapai intensitas VIII-IX dalam Skala MMI. Artinya bisa sangat merusak.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT