Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Umbi Porang dan Dua Peristiwa Gempa
TEMPO.CO | 20/09/2020 23:13
Vakum, alat pengering keripik dari umbi porang berbasis smartphone karya tiga mahasiswa Universitas Brawijaya. (ANTARA/HO/UNIVERSITAS BRAWIJAYA/End)
Vakum, alat pengering keripik dari umbi porang berbasis smartphone karya tiga mahasiswa Universitas Brawijaya. (ANTARA/HO/UNIVERSITAS BRAWIJAYA/End)

TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno Berita Hari Ini dipuncaki artikel tentang inovasi tiga mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, untuk memberdayakan petani umbi porang di daerah setempat. Cara yang mereka pilih adalah membantu proses pengeringan vakum keripik umbi porang berpresisi tinggi berbasis sistem saraf tiruan dan sistem kontrol aplikasi smartphone.

Artikel kedua tentang gempa dari Sesar Cirata yang menggoyang daerah di Purwakarta, Jawa Barat, pada Sabtu malam. Itu adalah gempa ketiga setelah dua pada Maret lalu. Seluruh gempa tersebut memiliki sumber yang tergolong dangkal dan terjadi pada malam, tapi beruntung dirasa lemah saja di permukaan.

Artikel ketiga terpopuler juga soal gempa, yakni penjelasan BMKG atas informasi yang menyebut gempa berpusat di satu rumah warga di Sukabumi. Informasi itu sendiri dibuat setelah overlay lokasi episenter gempa dengan peta citra satelit daerah yang dimaksud. 

Berikut ini Top 3 Tekno Berita Hari Ini, Minggu 20 September 2020, selengkapnya,

1. Inovasi Mahasiswa Sasar Keripik Umbi Porang, Potensi Lonjakkan Harga dari Petani

Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, menciptakan prototipe alat pengering vakum keripik umbi porang berbasis sistem saraf tiruan dan sistem kontrol aplikasi smartphone. Mereka bertujuan meningkatkan produktivitas dan harga jual produk olahan umbi yang sedang tren di kalangan petani tersebut hingga 4-5 kali lipat.

Umbi porang adalah jenis tanaman umbi-umbian yang sedang dikembangkan di Indonesia, terutama Jawa Timur. Permintaan pasarnya sedang tinggi, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. "Kebutuhan keripik porang di Indonesia mencapai 3.400 ton, tetapi produktivitas hanya 600-1.000 ton," kata Imam Prasetyo, mahasiswa asal Fakultas Teknologi Pertanian, Sabtu 19 September 2020.

Petani tanaman umbi porang di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. (Antaranews Kalsel/Istimewa)

Kandungan glukomanan pada umbi porang membuat tanaman ini banyak digunakan dalam industri pangan, nonpangan dan kesehatan. Porang biasa dijual dalam bentuk keripik yang memiliki kadar air di bawah 12 persen atau dijual dalam bentuk tepung glukomanan murni dengan cara menghilangkan kandungan kalsium oksalat.

2. Tiga Kali Gempa Sesar Cirata Menggoyang Purwakarta: Malam dan Dangkal

Sesar Cirata kembali 'menggeliat'. Gempa tektonik bermagnitudo 2,9 dirasa lemah mengguncang sebagian wilayah Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu malam 19 September 2020. Gempa dari sesar yang sama pernah terjadi setidaknya dua kali pada Maret lalu. 

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG, gempa Sabtu malam terjadi pada pukul 20.25 WIB. "Pusatnya di darat, berjarak 19 kilometer barat daya Kabupaten Purwakarta," kata Hendro Nugroho, Kepala BBMKG Wilayah II Tangerang lewat keterangan tertulis, Sabtu malam.

Suasana Waduk Cirata saat penertiban keramba jaring apung di, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 19 Juli 2018. Penertiban ini sesuai dengan instruksi Presiden Joko Widodo, yang menargetkan revitalisasi Sungai Citarum selesai selama tujuh tahun. ANTARA/M Agung Rajasa

Hendro menyebut kedalaman sumber gempa 6 kilometer dan tergolong dangkal. "Akibat aktivitas Sesar Cirata," katanya.

3. BMKG Klarifikasi Soal Gempa Berpusat di Rumah Warga Sukabumi

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mencatat gempa bermagnitudo 2,3 di daerah Sukabumi, Jawa Barat, Minggu 20 September 2020, pukul 12.48 WIB. Sumber gempa yang berada di darat disebut oleh sebuah sumber informasi lain berada di salah satu rumah warga di daerah itu.

Sumber gempa atau episenter, menurut BMKG, berada pada koordinat 6,93 LS dan 106,91 BT. Lokasinya berjarak sekitar dua kilometer arah barat daya Kota Sukabumi, dengan kedalaman 17 kilometer.

Peta pusat gempa di Sukabumi pada 10 Maret 2020. Foto: BMKG

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Tony Agus Wijaya, mengatakan gempa itu terlalu lemah sehingga tidak dirasakan maupun berdampak di permukaan. “Gempa ini tidak signifikan, tidak ada yang aneh atau menarik,” katanya saat dihubungi, Minggu.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT