BNPB: Hingga Agustus, 100 Jiwa Meninggal Akibat Banjir
TEMPO.CO | 01/09/2020 18:36
Warga menaiki rakit di depan rumahnya yang terendam banjir di Desa Laikadonga, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Selasa, 21 Juli 2020. ANTARA/Jojon
Warga menaiki rakit di depan rumahnya yang terendam banjir di Desa Laikadonga, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Selasa, 21 Juli 2020. ANTARA/Jojon

TEMPO.CO, Jakarta - Banjir menjadi bencana alam paling mematikan dari awal Januari-Agustus 2020. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 100 jiwa meninggal akibat banjir dan 17 lainnya hilang, serta menjadi bencana alam yang dominan terjadi hingga Agustus 2020.

BNPB mencatat 726 kejadian banjir yang mengakibatkan lebih dari 2,8 juta orang mengungsi sampai dengan 30 Agustus 2020. Meskipun sudah memasuki bulan ke delapan, banjir masih melanda beberapa wilayah, seperti di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Minggu, 30 Agustus 2020.

"Banjir menjadi salah satu bencana hidrometeorologi yang mendominasi kejadian bencana hingga Agustus," ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati, dalam keterangan tertulisnya, Senin, 31 Agustus 2020.

Banjir juga mengakibatkan kerugian pada sektor perumahan hingga ratusan ribu unit, dengan rincian rusak berat 4.581 unit, sedang 2.784, ringan 9.833, dan terendam 540.739. Sedangkan infrastruktur fasilitas umum, kerusakan fasilitas pendidikan 496 unit, peribadatan 581, kesehatan 112, perkantoran 109 dan jembatan 299.

Dalam kurun Januari-Agustus 2020, BNPB mengidentifikasi 1.927 kejadian bencana alam. Dari jumlah tersebut, 99 persen merupakan bencana hidrometerologi, seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, angin puting beliung dan kekeringan.

Jumlah kejadian bencana tersebut mengakibatkan 290 orang meninggal dunia dan hilang, 421 mengalami luka-luka dan 3,8 juta mengungsi. Berikut jumlah kejadian berdasarkan jenis bencana alam hingga Agustus: banjir 726 kejadian, puting beliung 521, tanah longsor 367, kebakaran hutan dan lahan 256, gelombang pasang dan abrasi 24, kekeringan 16, gempa bumi 12 dan erupsi gunung api 5.

Sementara itu, bencana geologi, seperti gempa bumi, perlu menjadi perhatian bersama. Di tengah pandemi Covid-19, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat total kejadian gempa 804 kali selama Agustus 2020. Dari jumlah itu, gempa bermagnitudo 7 terjadi sebanyak 27 kali, dan magnitudo yang lebih kecil 777 kali, serta sebanyak 49 kali gempa dirasakan oleh warga.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan bahwa pada Agustus 2020 hanya terjadi sekali gempa merusak di Desa Sungai Gerong, Kabupaten Lebong, Bengkulu. "Ini merupakan gempa kembar atau doublet earthquake yang terjadi pada 19 Agustus 2020 lalu dengan magnitudo 6,6 dan 6,7," kata dia.

Berdasarkan analisis BMKG sepanjang Agustus 2020, sejumlah wilayah yang berada di dekat zona aktif gempa perlu diwaspadai. Wilayah-wilayah tersebut antara lain Banda Aceh, Bengkulu, Selat Sunda, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumba, Sigi dan Matano, Maluku Utara dan Sarmi.

Menyikapi kejadian bencana tersebut, masyarakat diimbau terus waspada dan siap siaga dalam menghadapi ancaman bahaya, khususnya di tengah pandemi Covid-19. Setelah musim penghujan mereda, potensi bencana asap berupa kebakaran hutan dan lahan yang akan dihadapi. Namun, ancaman erupsi gunung api dan bencana geologi lainnya, seperti gempa bumi yang dapat memicu tsunami, dapat terjadi setiap saat.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT