KKP Kembangkan Bioplastik: Tak Jadi Limbah Malah Menambah Gizi
TEMPO.CO | 29/08/2020 12:21
Berbagai sampah plastik berupa kemasan makanan dan minuman yang disusupi kedalam sampah kertas impor diperlihatkan saat aksi protes tolak sampah impor di Surabaya, 12 Juli 2019. Tumpukan sampah impor yang berada di Desa Bangun, Mojokerto, Jawa Timur ini d
Berbagai sampah plastik berupa kemasan makanan dan minuman yang disusupi kedalam sampah kertas impor diperlihatkan saat aksi protes tolak sampah impor di Surabaya, 12 Juli 2019. Tumpukan sampah impor yang berada di Desa Bangun, Mojokerto, Jawa Timur ini dijadikan sebagian besar warganya sebagai sumber penghasilan. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

TEMPO.CO, JakartaKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan produk kemasan dari rumput laut sebagai upaya mendukung program pengurangan sampah plastik. Produk alternatif dihasilkan dengan melakukan rekayasa teknologi biodegradable.

"Kemasan biodegradable diartikan sebagai film kemasan yang dapat didaur ulang dan dihancurkan secara alami," ujar Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Artati Widiarti, dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu 29 Agustus 2020.

Baca juga:
Biskuneo, Biskuit Setara Satu Nasi Bungkus dari BPPT 

Rekayasa teknologi dilakukan melalui Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP). Hasilnya adalah kemasan biodegradable dan edible coating yang digunakan sebagai pembungkus makanan. Saat ini, produksi tersebut disebutnya masih dalam skala usaha kecil oleh M. Putra Sahban pemilik UD. Pusaka Hati Mataram, penyewa inkubasi bisnis dari BBP3KP.

Artati mengungkapkan, dalam perkembangan teknologi, kemasan tidak hanya sekedar membungkus produk saja. Tetapi melalui kemasan bisa ditambahkan satu konten atau ingredient di dalamnya seperti untuk memonitor kesegarannya. Dia membidik rekayasa teknologi itu bisa memanfaatkan pasar kemasan yang semakin luas karena perkembangan kegiatan pemasaran eceran. 

"Kemasan sachet dari bahan plastik memang cantik tetapi ada hal yang perlu mendapat perhatian yaitu karena tidak mudah terurai," katanya.

Untuk itu, ucap dia, bioplastik yang hampir keseluruhannya terbuat dari bahan yang dapat diperbarui, seperti pati, minyak nabati dan mikrobiota, menjadi satu solusi dalam pengurangan sampah plastik. Apalagi, Artati menambahkan, ketersediaan bahan dasar bioplastik di alam pun masih sangat melimpah.

Baca juga:
LIPI Kembangkan Plastik dari Limbah Sawit, Terurai dalam 3 Bulan

"Indonesia adalah salah satu penghasil rumput laut terbesar di dunia dengan peningkatan produksi sebesar 30 persen setiap tahunnya," katanya sambil menambahkan, “Sangat tepat memanfaatkan potensi bahan baku rumput laut sebagai pembungkus makanan yang tidak menciptakan limbah malah bisa memberikan asupan serat dan gizi lain yang diperlukan tubuh."


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT