Tim Modifikasi Cuaca Bikin Hujan Buatan Pindah dari Sumatera ke Kalimantan
TEMPO.CO | 10/08/2020 22:03
Tim Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT kembali meningkatkan eskalasi operasi  TMC untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek/BPPT
Tim Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT kembali meningkatkan eskalasi operasi TMC untuk mengurangi ancaman banjir di Jabodetabek/BPPT

TEMPO.CO, Pontianak - Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengusulkan Teknologi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Barat dilaksanakan pertengahan bulan ini. Penambahan curah hujan melalui modifikasi cuaca akan bermanfaat terhadap upaya menjaga tingkat kandungan air tanah pada lahan gambut sehingga mengurangi potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Pernyataan tersebut disampaikan Jon Arifian mewakili Kepala BBTMC-BPPT dalam Rapat Koordinasi Sinergitas dalam Peningkatan Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Kalimantan Barat, Senin 10 Agustus 2020. Jon menyebutkan kalau potensi pertumbuhan awan di Pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat selama periode 8-14 Agustus masih cukup baik, dan berpotensi meningkat pada 15-21 Agustus.

"Kondisi ini cukup baik bila dioptimalkan guna meningkatkan level aman air tanah dengan penerapan TMC,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dibagikan, Senin malam.

Jon menambahkan, pada operasi Siaga Darurat Bencana Karhutla di wilayah Sumatera yang dilaksanakan sebelumnya, penerapan TMC mampu menambah jumlah curah hujan yang cukup signifikan di tiga provinsi. “ Di Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi penambahan bervariasi antara 20 hingga 30 persen dari curah hujan alami,” katanya.

Rapat diselenggarakan Kedeputian Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Selain BPPT, juga hadir Kepala Pelaksana BPBD Kalimantan Barat, Kepala BMKG Kalimantan Barat, Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Barat serta unsur dari TNI.

Deputi II Kemenko PMK, Dody Usodo mengatakan Kalimantan Barat termasuk di antara tujuh provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan karena kandungan gambut yang cukup luas. Dia menyebut faktor kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan kondisi cuaca untuk melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.

"Perlu pengawasan serta pengendalian melalui berbagai upaya yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat,” kata Dody.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala BBTMC-BPPT Tri Handoko Seto mengatakan TMC mampu menghasilkan sampai jutaan m3 air hujan per hari jika dilakukan pada saat yang tepat, dengan memperhatikan potensi awan. Penambahan curah hujan melalui modifikasi cuaca, lanjut Seto, akan sangat bermanfaat terhadap upaya menjaga tingkat kandungan air tanah pada lahan gambut, sehingga berguna mengurangi potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali.

Data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebutkan secara umum, jumlah curah hujan 1-31 Juli 2020 di Indonesia cukup baik, namun kecenderungannya akan terjadi penurunan hingga puncaknya pada Agustus-September. Penurunan curah hujan biasanya diikuti dengan peningkatan jumlah hotspot (titik api).

"Perlu diantisipasi kemunculan hotspot secara masif pada periode Agustus hingga September 2020,” kata Seto.

Tahun lalu (2019), Kalimantan Barat mengalami kebakaran hutan cukup parah sehingga dilaksanakan operasi TMC yang dimulai sejak 18 hingga 26 September 2019. Tim TMC Posko Pontianak harus berjuang mengatasi kondisi cuaca yang sangat kering dengan menaburkan kapur tohor (CaO) untuk mengurai asap pekat yang menghalangi pertumbuhan awan. Volume hujan hasil TMC di Kalbar 2019 cukup signifikan mencapai total 102,65 juta meter kubik.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT