Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Uji Klinis Vaksin Korea, Xiaomi MIUI 12
TEMPO.CO | 30/07/2020 20:36
Seorang anggota staf menunjukkan sampel vaksin Covid-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing, China, 11 April 2020. (ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Yuwei/pras)
Seorang anggota staf menunjukkan sampel vaksin Covid-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing, China, 11 April 2020. (ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Yuwei/pras)

TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang bukan hanya Sinovac Biotech dari Cina yang akan menguji vaksin Covid-19 yang dikembangkannya di Indonesia, tapi juga perusahaan farmasi asal Korea Selatan, Genexine. Bedanya, skala tes calon vaksin dari Genexine lebih kecil karena masih uji klinis tahap dua. 

Berita terpopuler selanjutnya, Google didapati sedang membuat navigasi gestur double-tap misterius di punggung smartphone untuk aksesibilitas di perangkat tersebut. Dengan pengguna mengetuk dua kali bagian punggung itu, mereka bisa menampilkan fitur kamera, Google Assistant, memutar dan menghentikan musik, dan fitur lainnya di layar Google Pixel dengan sistem operasi Android 11.

Juga mengenai perusahaan farmasi multinasional Pfizer Inc. mengumumkan negara-negara maju tidak akan membeli vaksin Covid-19 yang dikembangkannya dengan harga lebih rendah daripada harga jual ke Amerika Serikat, masuk dalam berita populer hari ini. Harga jual vaksin antara Pfizer dan AS telah ditetapkan dalam kontrak yang diumumkan pada minggu lalu.

Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno:

1. Korea Juga Akan Uji Klinis Vaksin Covid-19 di Indonesia, Ini Rencananya

Seorang anggota staf menunjukkan sampel vaksin Covid-19 nonaktif di Sinovac Biotech Ltd., yang berada di Beijing, China, 11 April 2020. (ANTARA FOTO/Xinhua/Zhang Yuwei/pras)

Bukan hanya Sinovac Biotech dari Cina yang akan menguji vaksin Covid-19 yang dikembangkannya di Indonesia. Tapi juga perusahaan farmasi asal Korea Selatan, Genexine. Bedanya, skala tes calon vaksin dari Genexine lebih kecil karena masih uji klinis tahap dua. 

Kalau Sinovac menggandeng Bio Farma yang kemudian memberikan penugasan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Genexine bermitra dengan Kalbe Farma. Kerja sama yang kedua kemungkinan akan melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebagai pelaksananya.

Peneliti di Puslit Bioteknologi LIPI, Wien Kusharyoto, membeberkan itu dalam konferensi pers virtual dari Jakarta, Selasa, dan menegaskan ulang saat dihubungi Rabu 29 Juli 2020. "Sejauh ini yang berkomunikasi dengan Kalbe Farma untuk rencana uji klinis vaksin Genexine itu LIPI dan UI," kata dia.

2. BackTap, Navigasi Gestur di Xiaomi MIUI 12 bak Apple dan Google

Ilustrasi Logo Xiaomi. Kredit: ANTARA/REUTERS/Stringer/am.

Google didapati sedang membuat navigasi gestur double-tap misterius di punggung smartphone untuk aksesibilitas di perangkat tersebut. Dengan pengguna mengetuk dua kali bagian punggung itu, mereka bisa menampilkan fitur kamera, Google Assistant, memutar dan menghentikan musik, dan fitur lainnya di layar Google Pixel dengan sistem operasi Android 11.

Kode-kode untuk perintah navigasi dengan cara gestur itu masih dikembangkan Google ketika Apple tiba-tiba meluncurkan iOS 14 dengan kemampuan yang sama. Apple membuat penggunanya bisa mengetuk dua atau tiga kali untuk inisiasi berbagai fitur di layar, termasuk membuka sejumlah aplikasi penting seperti WhatsApp dan Twitter. Diduga, Xiaomi pun mengembangkan yang sama.  

Merek Cina itu memiliki 'BackTap' di sistem operasi yang dikembangkannya sendiri, MIUI 12. Anggota senior dari XDA kacskrz menemukannya dalam kode tersembunyi dalam versi beta MIUI 12 yang menunjukkan itu. MIUI 12, seperti dikutip dari XDA-Developers 28 Juli 2020, memungkinkan double dan triple back tap. Efek yang diberikan oleh ketukan tersebut dapat diubah dalam menu pengaturan. 

3. Amerika Ijon Vaksin Covid-19 dari Pfizer Senilai Rp 29 Triliun

Ilustrasi vaksin COVID-19Ilustrasi vaksin COVID-19 atau virus corona. REUTERS/Dado Ruvic

Perusahaan farmasi multinasional Pfizer Inc. mengumumkan negara-negara maju tidak akan membeli vaksin Covid-19 yang dikembangkannya dengan harga lebih rendah daripada harga jual ke Amerika Serikat. Harga jual vaksin antara Pfizer dan AS telah ditetapkan dalam kontrak yang diumumkan pada minggu lalu.

Isi kontrak itu menunjukkan tiap orang kemungkinan akan divaksin berulang agar terlindungi dari Covid-19. Untuk itu Pemerintah Amerika Serikat sepakat membayar hampir dua miliar dolar AS (sekitar Rp 29 triliun) untuk mengijon calon vaksin yang masih diuji Pfizer dan perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech SE, tersebut.

Vaksin itu rencananya akan disuntikkan ke 50 juta orang dengan biaya 39 dolar AS (sekitar Rp 564 ribu) untuk dua dosis anti virus. "Seluruh negara maju tidak akan mendapatkan harga yang lebih rendah dari harga jual itu," kata Direktur Utama Pfizer Albert Bourla, Selasa 28 Juli 2020.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT