6 Bulan Wabah Virus Corona, 5 Misteri Besar Belum Terjawab
TEMPO.CO | 10/07/2020 07:45
Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)
Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Sejak kemunculannya terdeteksi pertama di Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019, virus corona jenis baru penyebab pneumonia akut telah menginfeksi 12 juta orang di dunia. Sebanyak hampir 550 ribu di antaranya meninggal. Angka-angka itu dipastikan bisa terus bertambah karena kurva epidemiologis penyakit tersebut di banyak negara belum juga mencapai puncak—untuk kemudian bergerak turun.

Berkembang menjadi pandemi, dampak dari penularan penyakit ini telah memukul seluruh sektor kehidupan hingga melahirkan adaptasi atas krisis yakni 'new normal'. Krisis kesehatan yang merambat ke ekonomi itu memicu revolusi penelitian dengan para ilmuwan dan dokter berkejaran dengan waktu untuk memahami SARS-CoV-2, nama yang diberikan untuk virus itu, dan Coronavirus Disease 2019, nama penyakit yang disebabkannya. 

Sejumlah gejala dan cara penularannya dilacak. Juga beragam uji klinis obat serta kandidat vaksinnya dilakukan. Semua dirasa masih berkembang karena setiap hal baru yang ditemukan dari virus ini malah memunculkan lebih banyak pertanyaan yang lain.

Enam bulan setelah kemunculannya, atau empat bulan usia status pandemi yang telah ditetapkan, berikut ini lima pertanyaan besar yang belum mampu dijawab para ilmuwan dikutip dari jurnal ilmiah Nature, 

1. Kenapa Pengalaman Tiap Orang Berbeda Begitu Terinfeksi? 

Aspek pertama yang paling mencolok dari Covid-19 adalah perbedaan nyata pengalaman orang-orang yang terinfeksi penyakit ini. Beberapa tidak mengalami gejala, ada yang terlihat sehat, hingga memiliki pneumonia yang fatal. “Perbedaan dalam hasil klinisnya sangat dramatis,” kata Kári Stefánsson, ahli genetika dan kepala eksekutif DeCODE Genetics di Reykjavik. Timnya mencari varian gen manusia yang mungkin menjelaskan perbedaan ini. 

Salah satu dari varian terletak di wilayah genom yang menentukan golongan darah ABO, dan masih banyak faktor genetika lainnya. Tim yang dipimpin oleh Jean-Laurent Casanova, ahli imunologi di Universitas Rockefeller di New York City, sedang mencari mutasi yang memiliki peran lebih besar. Mereka menyisir genom penuh dari orang-orang sehat di bawah usia 50 tahun yang pernah terinfeksi parah. 

Pada kasus kerentanan ekstrem terhadap infeksi lain, seperti tuberkulosis dan virus Epstein-Barr, patogen ringan yang menyebabkan penyakit kritis, sering ditemukan mutasi dalam satu gen. Casanova yakin bahwa hal yang sama juga terjadi pada Covid-19

2. Bagaimana Sistem Kekebalan Tubuh Bekerja dan Berapa Lama Bertahan? 

Penelitian menemukan bahwa kadar antibodi terhadap SARS-CoV-2 tetap tinggi selama beberapa minggu setelah infeksi. Ahli Imunologi George Kassiotis dari Francis Crick Institute di London berkata, “Semakin banyak virus, maka semakin banyak antibodi, sehingga semakin lama mereka (manusia) bisa bertahan.” 

Pola serupa bisa ditemukan dengan infeksi virus corona penyebab SARS (sindrom pernapasan akut yang parah). Kebanyakan penderita SARS kehilangan antibodi penawar setelah beberapa tahun pertama. Namun Kassiotis mengungkapkan bahwa mereka yang benar-benar sakit parah masih memiliki antibodi ketika diuji ulang 12 tahun kemudian.

Sayang tidak ada tolak ukur yang jelas bagi tubuh manusia yang berhubungan dengan kekebalan tubuh jangka panjang. Para peneliti masih mencari tahu bagaimana sistem kekebalan tubuh bekerja dan membandingkannya dengan respon terhadap virus serta berapa lama perlindungan itu bertahan. 

Shane Crotty, ahli virologi di La Jolla Institute of Immunology di California, berpendapat bahwa ‘kekebalan sterilisasi’ yang mencegah infeksi, hanya bertahan selama beberapa bulan, namun kekebalan protektif yang mencegah atau meredakan gejala bisa bertahan lebih lama. 

3. Apakah Virus Telah Mengembangkan Kemampuan Bermutasi yang Mengkhawatirkan? 

Virus, tidak terkecuali SARS-CoV-2, sudah pasti bermutasi seiring proses infeksi. Para ahli epidemiologi molekuler telah menggunakan kemampuan mutasi itu untuk melacak penyebaran suatu virus. Namun peneliti juga mencari perubahan yang mempengaruhi sifatnya, contohnya terbentuknya garis keturunan virus baru, kurang ganas, atau menular. 

“Itu adalah virus baru, jika memang menjadi lebih berbahaya, maka anda harus menyadarinya,” kata David Robertson, ahli biologi komputasi di University of Glasgow, yang bersama timnya membuat katalog mutasi SARS-CoV-2. Robertson memberi catatan, mutasi virus berpotensi mengurangi efektivitas sebuah vaksin yang telah diproduksi. 

Para peneliti masih berdebat apakah penyebaran dari satu mutasi dalam protein paku virus corona jenis baru penyebab Covid-19 adalah produk dari founder effect (perubahan konsekuensial terhadap biologi virus). Mutasi ini diperkirakan pertama kali muncul di Eropa sekitar Februari. Serangkaian penelitian dengan sel yang dibiakkan di laboratorium menunjukkan bahwa mutasi pada protein itu membuat SARS-CoV-2 lebih menular, tapi tidak jelas bagaimana sifat ini diterjemahkan menjadi infeksi pada manusia. 

4. Bagaimana Vaksin Bisa Bekerja? 

Vaksin yang efekif mungkin adalah satu-satunya jalan keluar dari pandemi. Ada sekitar 200 kandidat vaksin yang dikembangkan di seluruh dunia, 20 diantaranya sudah memasuki tahap uji klinis. Misalnya yang dilakukan tim dari Oxford University. Petunjuk dari uji pada hewan dan uji coba manusia tahap awal adalah kadar infeksi genetik yang masih sebanding dengan yang tidak mendapat vaksin. Hal ini membuktikan bahwa vaksin hanya mencegah tahap kritis, namun tidak mencegah penyebaran virus.

Sedangkan pada manusia, walaupun sampel masih sedikit, menunjukkan bahwa vaksin yang sama mendorong tubuh membuat antibodi penawar yang kuat dan mampu memblokir virus dari sel yang yang menginfeksi. Namun masih belum jelas apakah kadar antibodi ini cukup untuk menghentikan infeksi baru, atau berapa lama molekul ini bertahan dalam tubuh.

Dengan banyaknya dana mengalir baik dari pemerintah maupun swasta, kemungkinan besar vaksin ini bisa hadir dalam waktu yang singkat. Dave O’Connor, ahli virologi dari Universitas Winconsin, Madison, mengungkapkan bahwa vaksin yang diciptakan mungkin berguna dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, tapi masih harus  terus dikembangkan. 

5. Dari Mana Sebenarnya Asal Usul Virus Ini? 

Banyak peneliti sepakat bahwa virus corona baru berasal dari kelelawar, lebih spesifiknya kelelawar tapal kuda (Rhinolophus affinis) dari Yunnan, Cina. Ini berdasarkan temuan genetik 96% identik dengan SARS-CoV-2. Tetapi penelitian tidak mengecualikan kemungkinan bahwa virus itu juga bisa berasal dari kelelawar tapal kuda di negara-negara tetangga termasuk Myanmar, Laos, dan Vietnam.

Perbedaan 4% genom mewakili evolusi yang berlangsung selama beberapa dekade. Berarti, virus ini sudah menyebar beberapa kali antar hewan sebelum masuk ke dalam tubuh manusia. Salah satunya adalah trenggiling.

Untuk benar-benar melacak perjalanan virus sampai ke manusia, ilmuwan harus menemukan hewan yang menjadi inang dari virus itu dengan kemiripan genom 99% dari SARS-CoV-2. Hal ini adalah prospek yang sangat rumit karena faktanya virus ini sudah menyebar diantara orang-orang, dan mungkin sudah menyebar ke hewan lain seperti anjing dan kucing.

FERDINAND ANDRE | ZW | NATURE


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT