Rekor 1.863 Kasus Covid-19 Baru, Ini Kata Epidemiolog Eijkman
TEMPO.CO | 09/07/2020 07:45
Pegawai swalayan Carrefour menunjukkan poster 'Aturan New Normal Ritel' kepada pengunjung usai ditempel di BG Junction, Surabaya, Rabu, 27 Mei 2020. Penempelan poster itu agar pengunjung memahami protokol pencegahan penularan COVID-19 saat mengunjungi pus
Pegawai swalayan Carrefour menunjukkan poster 'Aturan New Normal Ritel' kepada pengunjung usai ditempel di BG Junction, Surabaya, Rabu, 27 Mei 2020. Penempelan poster itu agar pengunjung memahami protokol pencegahan penularan COVID-19 saat mengunjungi pusat perbelanjaan. ANTARA/Didik Suhartono

TEMPO.CO, Jakarta - Kasus positif virus corona Covid-19 di Indonesia telah mencapai rekor baru dalam sehari, yaitu bertambah sebanyak 1.863 kasus per Rabu, 8 Juli 2020. Ahli epidemiologi Iqbal Elyazar menjelaskan pengaruh yang mendorong kenaikan jumlah orang baru yang terinfeksi Covid-19 itu.

Menurut Iqbal, salah satunya adalah karena meningkatnya kesempatan interaksi antara orang yang terinfeksi dengan orang yang belum terinfeksi. "Bergerak bebasnya orang terinfeksi yang belum tertangkap oleh sistem pelacakan merupakan resep untuk bencana. Semakin sedikit tracing, semakin banyak orang baru yang terinfeksi," ujar dia, dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 Juli 2020.

Selain itu, Iqbal yang juga Kolaborator Saintis LaporCOVID-19, menjelaskan pengaruh lain kemungkinan berasal dari berubahnya virulensi virus SARS-COV-2 menjadi lebih ganas, tapi status ini harus dibuktikan dengan data klinis dan data genetik. Juga perilaku pencegahan - jaga jarak aman, pakai masker dengan benar, cuci tangan yang benar - oleh individu dan masyarakat tidak maksimal.

Selain itu faktor yang mendorong kenaikan jumlah orang positif terkonfirmasi Covid-19, menurutnya adalah harus mengetahui apakah pemeriksaan orang yang datang ke rumah sakit meningkat, kemudian apakah orang yang terlacak dalam pelacakan dari kasus positif meningkat, serta apakah orang-orang yang diperiksa melalui survei khusus meningkat di superspreading event.

"Misalnya di kerumunan, perkantoran, pasar-pasar, pabrik-pabrik, perumahan, sarana transportasi umum, pesantren, sarana pendidikan, sarana agama, dan lainnya," tutur Iqbal.

Selain itu, kata dia, harus mengetahui pula kemampuan lab covid untuk memeriksa jumlah sampel meningkat, misalnya karena ada tambahan lab, tambahan alat dan tambahan tenaga, termasuk apakah semua lab Covid melaporkan angka positif mereka setelah pada hari-hari sebelumnya tertunda.

Menurut Iqbal, yang juga peneliti dari Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU), perlu kejelasan dari otoritas kesehatan dan gugus tugas, dari jalur mana kontribusi kenaikan kasus itu terjadi. "Sehingga dapat menjelaskan apakah karena situasinya memang tambah parah, atau karena ada upaya penemuan, diagnosis, dan pelaporan yang lebih baik," ujarnya.

Iqbal mengatakan ada beberapa solusi untuk mengatasi penyebaran Covid-19 yang semakin banyak ini, tapi harus dilakukan secara maksimal. Pemerintah daerah jangan merasa takut untuk memulai atau memperpanjang dan mengulang pembatasan sosial berskala besar (PSBB), karena risiko tinggi, baik di tingkat kabupaten/kota, dan kecamatan.

Kemudian, pemerintah daerah dan aparat juga harus memaksimalkan pemakaian masker di luar rumah, serta pastikan ada sanksi sosial untuk pelonggaran. Karena menurutnya, pemakaian masker adalah tindakan bela negara dan manfaat untuk melindungi anggota komunitas yang lain.

"Pemda mempercepat, perbanyak tracing kontak, pemeriksaan PCR dan segera diisolasi jika positif sehingga interaksi orang-orang tersebut di masa infektif mereka dapat dimininalkan," kata Iqbal menambahkan. "Ajarkan isolasi diri yang benar di rumah tangga supaya tidak terjadi transmisi di dalam rumah."

Iqbal yang juga anggota dari Indonesian Young Scientists Forum (IYSF) menerangkan bahwa menjelaskan data dan situasi yang sesungguhnya adalah kunci mengatasi pandemi. Dia berujar, pengaturan dan tertutupnya data yang sesungguhnya hanya menurunkan kewaspadaan masyarakat dan memberikan pesan yang salah kepada sesama aparat, sekaligus menurunkan kredibilitas penanganan Covid-19.

"Statistik pandemi haruslah statistik kebenaran, bukan dengan statistik pembenaran, apalagi pembegalan dan pengaturan statistik," tutur Iqbal.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT