Rumah Sakit UI Gunakan Bilik Swab Test Lokal untuk Covid-19
TEMPO.CO | 20/05/2020 05:33
Bilik Swab Test yang berada di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok. Dok. Humas RSUI
Bilik Swab Test yang berada di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok. Dok. Humas RSUI

TEMPO.CO, Jakarta - Inovasi lintas bidang ilmu di Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) berhasil mengembangkan bilik swab test (Swab Test Chamber) sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan sebagai alat penunjang pemeriksaan swab PCR untuk virus corona Covid-19.

Inovasi ini melibatkan para dokter di Fakultas Kedokteran (FKUI), insinyur di Fakultas Teknik (FTUI) dan para akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI).

Pemeriksaan swab (swab test) merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi virus corona menggunakan mesin Polymerase Chain Reaction (PCR). Dalam swab test corona, petugas medis akan mengambil sampel lendir dari saluran pernapasan, yaitu hidung dan tenggorokan. Sampel kemudian dibawa ke laboratorium dan diperiksa di bawah mikroskop untuk mendeteksi ada tidaknya DNA virus corona.

Bilik Swab Test yang berada di Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok. Dok. Humas RSUI

Dekan Fakultas Kedokteran UI, Ari Fahrial Syam mengatakan keberadaan Swab Test Chamber yang dirancang oleh kolaborasi lintas keilmuan di UI ini sangat penting dan bermanfaat untuk melindungi para tenaga medis dalam pemeriksaan swab Covid-19.

Selain rasa aman, tenaga medis yang memeriksa pasien dengan menggunakan Swab Test Chamber ini juga akan merasa nyaman. "Inovasi yang sangat bermanfaat untuk mengatasi pandemi Covid-19," kata Ari melalui keterangan tertulis, Selasa, 19 Mei 2020.

Menurut badan kesehatan dunia atau WHO pemeriksaan swab sampai hari ini masih merupakan golden standard untuk pemeriksaan Covid-19, dikarenakan tingkat realibilitas dan validitasnya yang lebih tinggi dibanding metode pemeriksaan lain.

Namun, swab test tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi petugas medis yang melakukan pengambilan sampel, karena harus berhadapan atau kontak langsung dengan orang yang diambil sampelnya.

Dalam proses pengembangan produk, purwarupa bilik swab mengacu pada standar keamanan laboratorium kementerian kesehatan yang mencakup tekanan udara, pengaturan aliran udara dan protap pemeriksaan Covid-19 di RSUI.

RSUI merupakan rumah sakit yang pertama menggunakan bilik swab hasil inovasi multidisiplin bidang ilmu tersebut. Inovasi bilik swab yang dikembangkan ini telah diuji fungsi, sehingga aman untuk digunakan.

Direktur Utama RSUI, dr. Astuti Giantini, mengatakan adanya inovasi bilik tes swab ini sangat membantu dalam penanganan Covid-19, khususnya untuk rumah sakit. Bilik swab menjadi salah satu alternatif untuk melindungi tenaga medis karena mereka bisa bertugas dengan tetap menekan risiko paparan virus corona.

"Selain itu, terbatasnya alat pelindung diri (APD) maka bilik swab diharapkan dapat menghemat penggunaan APD di rumah sakit karena mereka tidak perlu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap," ujar dr. Astuti, Selasa.

Manfaat lainnya yang tidak kalah penting dari bilik swab test adalah dapat meningkatkan kapasitas diagnostik pemeriksaan Covid-19 sehingga semakin banyak sampel swab yang dapat diambil.

“Jika biasanya pemeriksaan swab PCR dilakukan untuk pasien ODP atau PDP rawat inap, dengan adanya bilik swab ini RSUI juga dapat melakukan pengecekan swab PCR bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG) pada rawat jalan sehingga pemeriksaan untuk swab bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Pengembangan bilik swab Covid-19 ini didukung oleh hibah Program Pendanaan Perancangan dan Pengembangan Purwarupa (P5) khusus penanganan Covid-19 dari Direktorat Inovasi dan Sains Tekno Park (DISTP) Universitas Indonesia.

 

Sementara Pj Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI, Beta Yulianita Gitaharie, mengungkapkan bahwa inovasi bilik swab test juga dapat menjadi faktor pendorong ketahanan ekonomi di tengah masa pendemi Covid-19.

Ia menyebutkan kehadiran Bilik Swab Test Covid-19 merupakan bukti nyata bahwa kita telah tiba pada suatu zaman di mana kolaborasi adalah kunci untuk melangkah maju bersama-sama. "Kemandirian dalam berproduksi khususnya pada bidang kesehatan di masa pandemi ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan di sektor kesehatan, tetapi juga mendorong ketahanan ekonomi," kata dia.

Dekan Fakultas Teknik UI juga mengapresiasi inovasi pengembangan bilik swab test ini. Hendri Dwi Saptioratri Budiono menuturkan bahwa peneliti di Indonesia ternyata bisa membuat sendiri berbagai produk bila berkolaborasi dan bersinergi antar-disiplin ilmu. Ia berharap bangsa ini tidak jadi bangsa yang hanya mampu mengimpor.

"Membuat adalah jawaban yang tepat untuk meningkatkan ketahanan dalam berbangsa dan bernegara. Di sisi lain pentingnya kebijakan pemerintah yang berpihak ke produk dalam negeri untuk menumbuhkan ekosistem industri kesehatan yang kondusif," kata dia.

Selain menggunakan material berkualitas tinggi, dalam proses pengembangan produk juga dilakukan simulasi penggunaan bilik swab oleh dokter dan tenaga kesehatan agar proses pemeriksaan dapat berlangsung aman, nyaman, serta sesuai dengan kondisi tempat diletakkannya bilik swab (dalam ruangan atau luar).

Bilik juga disesuaikan dengan kondisi Indonesia yang panas dan lembab sehingga bilik swab ini dilengkapi dengan sambungan aliran udara yang memiliki filter dan bertekanan positif di dalamnya agar pemeriksa menjadi lebih nyaman dan terlindungi.

Saat ini RSUI baru menggunakan satu bilik swab yang berada di area pemeriksaan Poli Melati. Bilik swab dilindungi dengan disinfektan dan ultraviolet sehingga menjamin tetap aman untuk dilakukan pemeriksaan pada pasien berikutnya. Untuk komunikasi dengan pasien di luar, bilik dilengkapi sistem penerangan dan audio.

IRSYAN HASYIM


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT