Kasus Covid-19 Terbanyak, Rusia Geser Italia dan Inggris
TEMPO.CO | 11/05/2020 21:20
Penggali kubur yang mengenakan alat pelindung diri (APD) membawa peti mati untuk mengubur jenazah korban virus corona di sektor khusus pemakaman di pinggiran Saint Petersburg, Rusia 5 Mei 2020. [REUTERS / Anton Vaganov]
Penggali kubur yang mengenakan alat pelindung diri (APD) membawa peti mati untuk mengubur jenazah korban virus corona di sektor khusus pemakaman di pinggiran Saint Petersburg, Rusia 5 Mei 2020. [REUTERS / Anton Vaganov]

TEMPO.CO, Moskow - Kasus infeksi virus corona Covid-19 Rusia mengejar kasus di Italia dan Inggris per hari ini, Senin 11 Mei 2020. Rusia menjadi negara yang tertinggi ketiga di dunia setelah mencatat rekor lonjakan kasus harian yang membuat presidennya, Vladimir Putin, mempertimbangkan memberlakukan lockdown.

Jumlah kasus yang terdata resmi di Rusia melonjak menjadi 221.344 kasus per Senin. Itu artinya Rusia kini melaporkan lebih banyak kasus dibanding Italia atau Inggris dan membuntuti Spanyol dan Amerika Serikat. 

Berdasarkan data peta sebaran virus Covid-19 yang dibuat Johns Hopkins University, saat yang sama Inggris dan Italia mencatat jumlah 220.449 dan 219.070 kasus infeksi. Sedang Amerika Serikat dan Spanyol sebanyak 1,3 juta dan 224 ribu.

Perkembangan itu muncul saat jumlah kasus baru naik secara signifikan, yakni sebanyak 11.656 kasus dalam 24 jam terakhir. Lebih dari setengah kasus dan kematian terjadi di Moskow, pusat wabah Rusia. Pada Senin, Moskow melaporkan peningkatan 6.169 kasus baru dalam semalam, menambah jumlah total menjadi 115.909.

Pusat tanggap COVID-19 Rusia juga melaporkan 94 kematian baru, sehingga jumlah kasus meninggal keseluruhannya mencapai 2.009. Jumlah kematian itu tetap jauh lebih rendah dibandingkan di banyak negara. Pejabat Rusia menghubungkan lonjakan jumlah kasus dengan program tes besar-besaran, yang menurutnya telah dilakukan terhadap 5,6 juta orang.

Putin dijadwalkan menggelar pertemuan pada Senin guna memutuskan apakah akan mengubah kebijakan penguncian COVID-19 yang diterapkan pada akhir Maret.

Sumber: Reuters


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT