Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Penyelamatan Bumi dari Asteroid
TEMPO.CO | 04/05/2020 20:45
Ilustrasi dua asteroid berbeda yang tertangkap NASA. Kredit: NASA/JPL/JHUAPL
Ilustrasi dua asteroid berbeda yang tertangkap NASA. Kredit: NASA/JPL/JHUAPL

TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang llmuwan NASA sedang bersiap menguji sebuah sistem yang mereka harapkan bisa menyelamatkan Bumi dari ancaman ditabrak asteroid. Uji akan dilakukan tahun depan dengan peluncuran roket yang membawa pesawat khusus bermisi kamikaze alias bunuh diri.

Berita terpopuler selanjutnya, Gempa tektonik mengguncang wilayah sekitar Selat Sunda, Ahad 3 Mei 2020, pukul 14.06.46 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa berkekuatan 5,0 Magnitudo, setelah sebelumnya sempat disebut 5,3 M. 

Lainnya, para peneliti dari Hubrecht Institute di Utrecht, Pusat Medis Erasmus University Rotterdam, dan Maastricht University di Belanda menemukan bahwa virus corona SARS-CoV-2—yang menyebabkan COVID-19—dapat menginfeksi dan berkembang biak di sel-sel usus. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Science pada Jumat, 1 Mei 2020.

Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno:

1. NASA Siapkan Uji Misi Penyelamatan Bumi dari Asteroid

Ilustrasi dua asteroid berbeda yang tertangkap NASA. Kredit: NASA/JPL/JHUAPL

Ilmuwan NASA sedang bersiap menguji sebuah sistem yang mereka harapkan bisa menyelamatkan Bumi dari ancaman ditabrak asteroid. Uji akan dilakukan tahun depan dengan peluncuran roket yang membawa pesawat khusus bermisi kamikaze alias bunuh diri.

NASA akan meluncurkan roket SpaceX Falcon 9 yang memanggul pesawat antariksa Double Asteroid Redirection Test (DART). Roket didesain mendekati asteroid Didymos, sebuah asteroid dari batuan berdiameter 780 meter yang melesat bersama sebuah asteroid satelitnya yang berukuran lebih kecil, sekitar 160 meter.

Pesawat itu rencananya akan menabrakkan diri dengan kecepatan 14.700 mil per jam dan sistem propulsi listriknya akan mengubah sedikit arah orbit Didymos. Tabrakan rencananya dilakukan saat asteroid masih berjarak 6,8 juta mil dari Bumi.

2. Gempa 5,0 M Guncang Wilayah Indonesia Tiga Hari Berturut-turut

Sebuah perahu melintas di Selat Sunda saat Gunung Anak Krakatau menyemburkan asap putih di Selat Sunda, Banten, Jumat (29/11). ANTARA/Asep Fathulrahman

Gempa
tektonik mengguncang wilayah sekitar Selat Sunda, Ahad 3 Mei 2020, pukul 14.06.46 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa berkekuatan 5,0 Magnitudo, setelah sebelumnya sempat disebut 5,3 M. 

Hasil analisis itu menyebut episentrum gempa tersebut terletak pada koordinat 6,37 LS dan 104,63 BT. "Atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 99 kilometer arah selatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Lampung," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG ,Rahmat Triyono, lewat keterangan tertulis, Ahad.

Sumber gempa berada di kedalaman (hiposentrum) 62 kilometer. Pemicunya adalah aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme sesar naik."

3. Peneliti Belanda: Virus Corona Menginfeksi dan Tumbuh di Sel Usus

Ilustrasi virus Corona atau Covid-19. Shutterstock

Para peneliti dari Hubrecht Institute di Utrecht, Pusat Medis Erasmus University Rotterdam, dan Maastricht University di Belanda menemukan bahwa virus corona SARS-CoV-2—yang menyebabkan COVID-19—dapat menginfeksi dan berkembang biak di sel-sel usus. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Science pada Jumat, 1 Mei 2020.

Para peneliti itu menggunakan model kultur sel canggih dari usus manusia, yang berhasil menyebarkan virus secara in vitro, memonitor respon sel terhadap virus, dan menyediakan model kultur sel baru untuk studi COVID-19. Informasi awal, pasien COVID-19 menunjukkan berbagai gejala yang berhubungan dengan organ pernapasan, seperti batuk, bersin, sesak napas, dan demam.

Penyakit ini ditularkan melalui droplet atau tetesan kecil menyebar melalui batuk dan bersin. Namun sepertiga dari pasien juga memiliki gejala gastrointestinal, seperti mual dan diare, serta dapat dideteksi dalam tinja manusia setelah gejala pernapasan telah diatasi.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT