Penelitian Hewan Kesayangan: Kucing Paling Peka Infeksi COVID-19
TEMPO.CO | 11/04/2020 17:54
Dua ekor anjing peliharaan mengenakan masker saat diajak pemiliknya ke pusat kota Shanghai, Cina, 16 Februari 2020. Para ahli menyebut anjing dan kucing tidak menularkan virus corona kepada manusia, hanya saja ada potensi dua hewan tersebut terkontaminasi
Dua ekor anjing peliharaan mengenakan masker saat diajak pemiliknya ke pusat kota Shanghai, Cina, 16 Februari 2020. Para ahli menyebut anjing dan kucing tidak menularkan virus corona kepada manusia, hanya saja ada potensi dua hewan tersebut terkontaminasi virus corona yang menempel di tubuhnya. REUTERS/Aly Song

TEMPO.CO, Jakarta - Kucing dan ferret adalah dua hewan domestik atau peliharaan yang peka terhadap infeksi virus corona. Guru Besar Biologi Molekuler dari Universitas Airlangga Chaerul Anwar Nidom menyebutkan itu setelah tersiar kabar seekor harimau bernama Nadia di The Bronx Zoo New York, Amerika Serikat, tertular penyakit virus corona 2019 atau COVID-19. 

Kesimpulan soal kucing dan ferret, Nidom memaparkan dalam literasi yang dibagikannya, didapat dari hasil penelitian Harbin Veterinary Research Institute (HVRI) Cina. Tim peneliti itu disebutkannya menguji penularan COVID-19 terhadap hewan domestik, kesayangan, dan ternak yaitu kucing, anjing, ferret, babi, ayam, dan itik.

Hasilnya, tidak terdeteksi RNA virus COVID-19 pada sampel swab manapun baik dari babi, ayam, dan itik. Antibodi virus COVID-19 juga tidak terdeteksi. Tapi tidak dengan sampel swab dari ferret dan terutama kucing.

Pengujian pada anjing, Nidom melanjutkan, ditemukan RNA COVID-19 pada rectal swab, tapi tidak ditemukan virus pada swab manapun lainnya. Antibodi pada anjing juga diperoleh seronegatif. "Jadi virus COVID-19 pada anjing memiliki replikasi yang lebih rendah dibanding daripada kucing," kata pendiri Profesor Nidom Foundation (PNF) itu.

Fakta dari penelitian itu menyebutkan, penularan COVID-19 antar kucing terjadi melalui droplet atau percikan batuk dan bersin yang masuk ke saluran pernapasan. RNA virus dari droplet kucing yang tertular bisa diuji melalui bilasan hidung (nasal turbinate), langit-langit mulut (soft palates), organ tonsil, trakhea, juga usus kucing.

“Antibodi COVID-19 juga terdeteksi pada kucing yang sengaja diinokulasi—memindahkan bakteri dari medium lama dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi—dari kucing yang tertular melalui droplet,” kata Nidom menerangkan. 

 

Seorang anggota Vshine menyelamatkan kucing peliharaan yang ditinggalkan oleh pemiliknya karena isolasi virus Corona.[Vshine/The Sun]

 

 

Kucing, Nidom menambahkan, selama ini juga telah dipahami bisa terinfeksi Feline dan Canine coronavirus (FCoV dan CCoV) melalui reseptor aminopeptidasen (APN). APN merupakan reseptor Alphacoronavirus, yang juga bisa terinfeksi oleh human coronavirus (HCoV-229E), tanpa menunjukkan gejala klinis atau jatuh sakit.

Munculnya virus FCoV-II pada kucing menunjukkan adanya ko-infeksi antara FCoV-1 dan CCoV-II, kemudian melakukan rekombinasi dan menghasilkan strain baru yaitu FCoV-II. Selain itu, FCoV- 1/CCoV-1 dan FCoV-II/CCoV-II punya kesamaan spike (protein S) yang bisa mengacaukan reseptor spesifik dari setiap strain virus.

Fenomena kucing sebagai hewan yang bisa tertular virus COVID-19 baik di alam maupun di laboratorium, Nidom berujar, memunculkan kekhawatiran tersendiri. Mengingat selama ini hanya satwa liar yang diduga berperan sebagai sumber atau perantara virus COVID-19.

“Menurut OIE, adanya bukti kuat bahwa virus COVID-19 muncul dari sumber hewani, meskipun belum jelas jalur asli penularan dari hewan ke manusia,” kata Nidom merujuk Badan Kesehatan Hewan Dunia.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT