Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Virus Corona dan Harimau Sumatera
TEMPO.CO | 08/04/2020 21:49
Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)
Ilustrasi Virus Corona (123rf.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini, Rabu 8 April 2020, dimulai dari penelitian dan pengembangan vaksin dan obat untuk melawan virus corona yang telah dipercepat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan lebih dari 70 negara bergabung dengan WHO untuk uji klinis di luar 20 lembaga yang mengembangkan vaksin.

Berita terpopuler lainnya adalah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang ikut melakukan kajian tentang virus corona COVID-19 di Indonesia. BMKG melakukannya secara lintas disiplin khusus untuk korelasi antara iklim dengan penyebaran virus yang telah menciptakan pandemi itu. 

Lainnya, keberadaan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan beberapa satwa liar dilindungi lainnya yang tertangkap camera trap (kamera tersembunyi) di kawasan Hutan Produksi Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno sepanjang hari ini:

 

1. WHO: Penelitian Vaksin dan Obat Virus Corona Dipercepat

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa penelitian pengembangan vaksin dan obat untuk melawan virus corona telah dipercepat. Menurutnya, lebih dari 70 negara bergabung dengan WHO untuk uji coba penelitian perawatan efektif dan 20 lembaga mengembangkan vaksin.

"Genom virus dipetakan pada awal Januari dan dibagikan secara global yang memungkinkan tes dikembangkan dan penelitian vaksin dimulai," kata Tedros di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss, seperti dikutip laman CNBC, Senin, 6 April 2020.

Tedros mengatakan WHO akan segera mengumumkan sebuah inisiatif untuk percepatan pengembangan dan distribusi vaksin yang adil. Dia berujar, akan menyusun mekanisme dan menunjuk orang-orang senior dari utara dan selatan yang merinci bagaimana mereka dapat mempercepat produksi.

 

2. Kepala BMKG: Iklim Berpengaruh pada Penyebaran COVID-19, tapi...

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melakukan kajian lintas disiplin terkait dengan korelasi antara iklim dengan penyebaran virus corona COVID-19 di Indonesia. Penelitian tahap awal ini melibatkan 20 peneliti dari BMKG, Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Dalam diskusi online bertajuk ‘Benarkan Iklim Berpengaruh pada Penyebaran COVID-19?’ yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Society of Indonesian Science Journalists (SISJ), dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menerangkan para peneliti dikerahkan untuk melacak seluruh informasi ilmiah dari paper-paper terkait hubungan antara iklim dan cuaca dengan penyebaran wabah. 

“Kami memiliki tantangan tentang apa yang kami temukan, akhirnya peneliti mikrobologi menyampaikan ternyata ada beberapa paper (penelitian) terkait iklim dengan penyebaran wabah yang menunjukkan ada kolerasi, dan menjelaskan alasannya minimal ada dua hal,” ujar dia, dalam diskusi yang digelar melalui WhatsApp, Selasa malam, 7 April 2020.

 

3. Harimau Sumatera Ditemui di Hutan Produksi Tapanuli Selatan

Keberadaan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan beberapa satwa liar dilindungi lainnya tertangkap camera trap (kamera tersembunyi) di kawasan Hutan Produksi Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

 

Tangkapan gambar dari harimau sumatera yang terancam punah di kawasan hutan produksi Angkola Selatan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Januari-Maret 2020. (Dokumentasi KLHK)

 

Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPH-P) Wilayah X Padang Sidempuan, Zurkarnain Hasibuan, dalam rilis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta, Selasa, 7 April 2020, mengatakan, hasil survei tersebut penting karena masih minimnya informasi keanekaragaman hayati di kawasan itu.

Hasil survei ini akan digunakan untuk menyusun rencana pengelolaan dan sosialisasi untuk menghindari konflik antara manusia dan satwa. “Kami akan mendorong masyarakat memanfaatkan ekosistem hutan, antara lain menanam pohon buah-buahan yang disukai satwa seperti durian, sekaligus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujar Zurkarnain.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT