Top 3 Tekno Berita Hari Ini: RSHS Pakai 15 Jenis Obat COVID-19
TEMPO.CO | 01/04/2020 19:38
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. (rshs.or.id)
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. (rshs.or.id)

TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung memakai 15 jenis obat yang sudah beredar di pasaran untuk memulihkan kondisi pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19. Dua jenis obat di antaranya kini telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA).

Berita terpopuler selanjutnya, meningkatnya angka obesitas, diabetes dan tekanan darah tinggi di kalangan masyarakat Amerika Serikat membuat mereka memiliki kerentanan yang tinggi terinfeksi virus corona COVID-19. Lainnya, smartphone merupakan salah satu perangkat yang paling sering digunakan semua orang dan berpotensi menjadi sarang virus, termasuk virus corona COVID-19.

Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno:

1. RS Hasan Sadikin Pakai 15 Jenis Obat untuk Pasien COVID-19

Petugas medis menggunakan pakaian pelindung saat mengontrol ruangan khusus untuk wabah Virus Corona di Ruangan Isolasi Infeksi Khusus Kemuning Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin (RSHS), di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 24 Januari 2020. RSHS menyiapkan ruangan inap khusus dengan lima tempat tidur serta Tim Dokter dan petugas medis khusus yang siap siaga jika ada pasien suspek atau terinfeksi Virus Corona. ANTARA

Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung memakai 15 jenis obat yang sudah beredar di pasaran untuk memulihkan kondisi pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19. Dua jenis obat di antaranya kini telah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA).

Direktur Medis dan Keperawatan RS Hasan Sadikin Bandung Nucki Nusrsjamsi Hidajat mengatakan pihaknya menyiapkan 15 jenis obat untuk pasien COVID-19. “Sebagian lagi sedang kami upayakan ketersediannya,” katanya saat dihubungi Tempo, Senin, 30 Maret 2020.

Belasan obat itu adalah Avigan atau Favipiravir dosis 600 dan 1.600 miligram. Obat ini tengah ditunggu setelah Presiden Joko Widodo berencana mendatangkannya ke Indonesia bersama Chloroquin phospat. Obat lain yang digunakan, yaitu  Tamiflu (Oseltamivir) 150 mg dan tablet Aluvia (Lopinavir boosted ritonavir).

2. Angka Obesitas Tinggi, Orang Amerika Rentan COVID-19

24_kosmo_obesitasjunkfood

Meningkatnya angka obesitas, diabetes dan tekanan darah tinggi di kalangan masyarakat Amerika Serikat membuat mereka memiliki kerentanan yang tinggi terinfeksi virus corona COVID-19.

Menurut Tom Frieden, mantan direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lebih dari 60 persen orang dewasa di Amerika memiliki setidaknya satu kondisi kesehatan tersebut.

“Semua masalah kesehatan ini meningkatkan risiko infeksi COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus, dan lebih buruk lagi, kematian,” ujar dia, seperti dikutip Daily Mail, Senin, 30 Maret 2020. 

Per hari ini, Selasa sore, 31 Maret 2020, data dari peta sebaran yang dibuat Johns Hopkins University, terkonfirmasi kasus terinfeksi sebanyak 164.610, sebanyak 3.170 tewas dan 5.945 sembuh. Para ahli kesehatan khawatir bahwa kedua angka ini akan meningkat secara eksponensial karena hanya sedikit yang benar-benar berisiko rendah terinfeksi.

3. Smartphone Sarang Virus Corona, Jangan Asal Gunakan Disinfektan

Smartphone merupakan salah satu perangkat yang paling sering digunakan semua orang dan berpotensi menjadi sarang virus, termasuk virus corona COVID-19. Pertanyaannya, berapa besar kemungkinan seseorang untuk tertular virus dari smartphone yang digunakan, atau berapa lama virus corona itu bertahan pada smartphone.

Menurut studi yang dilakukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus SARS-CoV yang ditemukan pada 2003 stabil pada permukaan kaca hingga 96 jam atau setara dengan empat hari. studi WHO juga menyebutkan, virus itu bertahan pada plastik, benda keras dan baja selama sekitar 72 jam (tiga hari). 

Penelitian terbaru dari National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat, menemukan yang sama dengan coronavirus novel saat ini (SARS-CoV-2).  Seperti dikutip dari laman Gadget NDTV, Senin, 30 Maret 2020, NIH menyatakan virus yang sedang menciptakan pandemi itu dapat hidup di permukaan baja, plastik dan logam selama sekitar 72 jam (tiga hari).

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT