Avigan Belum Sampai, 10 Hari 10 PDP Corona Meninggal di RSHS
TEMPO.CO | 29/03/2020 12:15
Perawat menjelaskan cara meminum obat kepada pasien di tenda periksa  Puskesmas Tamblong di Bandung,  Kamis, 26 Maret 2020. Pemeriksaan tes cepat deteksi virus corona di Jawa Barat sudah dimulai sejak kemarin. TEMPO/Prima Mulia
Perawat menjelaskan cara meminum obat kepada pasien di tenda periksa Puskesmas Tamblong di Bandung, Kamis, 26 Maret 2020. Pemeriksaan tes cepat deteksi virus corona di Jawa Barat sudah dimulai sejak kemarin. TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Bandung - Sepanjang 10 hari terakhir tercatat setidaknya ada 10 orang pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Mayoritas pasien itu terkonfirmasi positif virus corona COVID-19.

“Penyebab meninggal karena mereka penderita COVID-19 dengan derajat kritis sedangkan obat khususnya yaitu avigan belum sampai ke RSHS,” kata Direktur Medis dan Keperawatan RSHS Bandung Nucki Nursjamsi Hidayat, Ahad, 29 Maret 2020.

Menurut Nucki, tanpa avigan, dokter rumah sakit memakai chloroquine (obat malaria), antibiotik, alat bantu napas, dan obat pendukung lainnya, juga infus protein. Pekan depan pihak RSHS Bandung akan berdiskusi dengan para ahli untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang obat-obatan itu.

“Dan obat COVID-19 avigan akan segera tiba di Indonesia,” ujarnya merujuk satu di antara obat eksperimental yang banyak digunakan untuk menyembuhkan pasien terinfeksi virus itu. Presiden Jokowi pada 20 Maret lalu mengumumkan telah memesan dua juta butir avigan dan 3 juta choloroquine.

Pasien dalam pengawasan (PDP) pertama meninggal di RSHS Bandung pada 19 Maret 2020. Dari 10 orang yang identitasnya dirahasiakan, 8 pasien yang meninggal adalah lelaki dan dua orang perempuan. Rentang usia pasien yang meninggal itu berkisar 41 hingga 69 tahun.

Pada 19 Maret tercatat ada dua orang PDP corona berstatus positif yang meninggal di RSHS Bandung yaitu lelaki berusia 41 dan 53 tahun. Sehari kemudian PDP ketiga seorang lelaki berusia 43 tahun yang meninggal tanpa sempat diambil apus (swab). Kemudian 21 Maret seorang PDP positif lelaki berusia 69 tahun.

PDP positif Corona yang kelima seorang lelaki berusia 47 tahun meninggal pada 22 Maret. Lalu pada 26 Maret seorang dokter perempuan berusia 57 tahun. Kematian PDP terbanyak terjadi pada Kamis 27 Maret yakni hingga empat orang sekaligus. Seorang diantaranya PDP positif perempuan berumur 61 tahun, sementara tiga lainnya lelaki berusia 57, 60, dan 61 tahun.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT