6 Obat Eksperimen Sembuhkan Pasien Corona, Choloroquine Termasuk
TEMPO.CO | 20/03/2020 11:40
Paket alat mandi dan obat-obat yang merupakan fasilitas karantina untuk pasien terinfeksi virus corona di Singapura, 28 Februari 2020.  REUTERS/Feline Lim
Paket alat mandi dan obat-obat yang merupakan fasilitas karantina untuk pasien terinfeksi virus corona di Singapura, 28 Februari 2020. REUTERS/Feline Lim

TEMPO.CO, Jakarta - Di Indonesia, sejumlah bahan obat alami dimunculkan dan direkomendasikan untuk menghadang serangan wabah COVID-19. Sejumlah bahan alami itu diharap dikonsumsi dibarengi gaya hidup sehat dan higienis serta perilaku yang mengikuti imbauan pemerintah, seperti menjaga interaksi sosial atau social distancing.

Itu dilakukan sambil menunggu hasil riset mencari vaksin untuk infeksi virus corona jenis baru tersebut. Para peneliti dan dokter di banyak negara maju sendiri terus menggunakan obat-obatan eksperimental sementara vaksin itu belum tersedia. 

Obat-obatan itu mulai dari calon obat ebola hingga yang biasa digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis, malaria, flu, dan HIV. Mereka dianggap potensial mengerem penularan virus yang pertama kali merebak di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina, itu.

Cara ini, pengobatan eksperimental, terpaksa ditempuh karena per Kamis malam, 19 Maret 2020, COVID-19 sudah menginfeksi 222.642 orang di dunia yang 9.115 di antaranya akhirnya meninggal. Mengutip laman Daily Mail, berikut obat-obatan yang sudah digunakan agar pasien  bisa bertahan dari wabah virus corona tersebut, 



1. Chloroquine phosphate (Malaria) 

Salah satu obat yang digunakan oleh dokter untuk memerangi wabah virus corona adalah Chloroquine phosphate, obat anti malaria. Obat berumur 70 tahun--yang dijual dengan nama merek Arlan-- itu dapat membunuh parasit malaria dalam darah, dan menghentikan penyakit tropis di jalurnya.

Pada pasien COVID-19 di Cina, obat itu menunjukkan kemanjuran dan keamanan yang dapat diterima dalam mengobati pneumonia terkait COVID-19. Sebelumnya, Institut Virologi Wuhan mengklaim obat itu sangat efektif dalam uji di laboratorium. Tes para peneliti tersebut menunjukkan obat itu memiliki kekuatan untuk menghentikan replikasi virus dalam sel, dan bertahan dalam tubuh.

Sebanyak 23 uji klinis obat ini sudah berlangsung pada pasien di Cina, dan satu direncanakan di AS dan satu lagi di Korea Selatan.



2. Hydroxychloroquine (Malaria)

Ilmuwan Cina yang menyelidiki bentuk lain dari chloroquine menulis di jurnal ilmiah Cell Discovery bahwa turunan chloroquine yang 'kurang beracun' juga dapat membantu. "Mudah untuk menyulap gagasan bahwa hydroxychloroquine mungkin menjadi kandidat kuat untuk mengobati infeksi oleh SARS-CoV-2," begitu tertulis. 

Tetapi para ilmuwan di Institut Virologi Wuhan mengakui bahwa mereka masih kekurangan bukti untuk membuktikannya sama efektifnya dengan Chloroquine phosphate. Hydroxychloroquine, dijual dengan nama merek Plaquenil, menyebabkan efek samping seperti ruam kulit, mual, diare dan sakit kepala. NHS biasa menggunakannya untuk mengobati lupus dan rheumatoid arthritis serta malaria.

Perusahaan farmasi Sanofi melakukan penelitian pada 24 pasien, yang oleh pemerintah Perancis dianggap 'menjanjikan'. Hasil penelitian menunjukkan tiga perempat pasien yang diobati dengan obat itu dibersihkan dari virus dalam waktu enam hari.

 

3. Lopinavir/ritonavir (HIV)

Lopinavir/ritonavir, dipasarkan sebagai Kaletra dan Aluvia, adalah obat anti-HIV. Obat ini telah menunjukkan harapan sebagai cara untuk mengatasi virus corona, kata para ilmuwan, karena mampu mengikat bagian luar virus.

Kelas obat ini disebut protease inhibitor, yang pada dasarnya menempel pada enzim virus yang sangat penting untuk reproduksi virus. Dengan melakukan ini obat memblokir proses yang biasanya digunakan virus untuk mengkloning dirinya sendiri dan menyebarkan infeksi lebih lanjut.

Dalam uji klinis yang diajukan Asan Medical Center di AS, para ilmuwan mengatakan: "Penelitian in vitro (laboratorium) mengungkapkan bahwa lopinavir/ritonavir (memiliki) aktivitas anti virus terhadap sindrom pernafasan akut yang diakibatkan SARS- CoV-2."



4. Favipiravir (Flu)

Favipiravir adalah bahan aktif obat flu, disebut Avigan, yang dijual di Jepang. Dokter-dokter di Cina mengklaim obat itu 'jelas efektif' pada pasien virus corona setelah mereka memberikannya kepada 80 orang di kota Wuhan dan Shenzen.

Menurut para dokter, favipiravir mempercepat pemulihan pasien, mengurangi kerusakan paru-paru dan tidak menyebabkan efek samping yang jelas.  Menurut media lokal, pasien yang diberi obat itu di Shenzhen memiliki hasil negatif untuk virus corona rata-rata empat hari setelah didiagnosis.

Waktu tersebut lebih cepat dibandingkan dengan 11 hari untuk mereka yang tidak diobati dengan Favipiravir. Obat ini adalah obat anti virus yang menetralkan enzim vital yang digunakan virus untuk bereproduksi. Ini disebut inhibitor RNA polimerase. Ini diproduksi oleh perusahaan Jepang Fujifilm Toyama Chemical tapi tidak digunakan oleh NHS. 



5. Remdesivir (Ebola)

Remdesivir adalah anti virus yang bekerja pada dasarnya dengan cara yang sama seperti favipiravir, melumpuhkan enzim RNA polimerase, menghentikan virus dari reproduksi. Obat ini dikembangkan sekitar 10 tahun yang lalu oleh perusahaan farmasi Gilead Sciences dengan tujuan mencar obat Ebola.

Dokter di AS mencobanya pada tiga pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, hasilnya beragam. Bahan antivirus itu sekarang sedang diuji coba pada pasien virus corona di Cina dan di Universitas Nebraska, AS. Sedang Institut Virologi Wuhan, dalam jurnal ilmiah Nature bulan lalu mengatakan mengungkapkan temuan bahwa remdesivir sangat efektif dalam pengendalian infeksi 2019-nCoV.



6. Sarilumab (Rheumatoid arthritis)

Sarilumab, obat rheumatoid arthritis yang dipasarkan sebagai Kevzara dan tersedia untuk diresepkan di NHS, akan diuji coba pada pasien di AS. Perusahaan farmasi Sanofi dan Regeneron berencana memberikan obat kepada orang-orang dengan virus corona untuk melihat apakah itu dapat membantu menenangkan respons kekebalan mereka.

Obat ini bekerja dengan menghalangi sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan peradangan, atau pembengkakan, yang terlalu aktif pada orang dengan rheumatoid arthritis. Peradangan adalah respon alami tubuh terhadap infeksi, pada pasien dengan virus corona, ia dapat keluar dari kontrol, membuat gejala secara signifikan lebih buruk, bahkan memicu beberapa kegagalan organ.

Regeneron mengklaim obat itu dapat memberikan dukungan sementara dengan mengurangi keparahan gejala pasien untuk membantu rumah sakit mengatasinya. Sedang John Reed, dari Sanofi, mengatakan, "Kami berharap untuk segera memulai uji coba di luar AS dalam beberapa minggu mendatang, termasuk daerah yang paling terkena dampak pandemi seperti Italia."

DAILY MAIL | CNN | FINANCIAL TIMES


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT