Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Virus Corona, Sukhoi, Trenggiling
TEMPO.CO | 20/02/2020 18:50
Pekerja medis berpakaian pelindung memindahkan seorang pasien di bangsal terisolasi sebuah rumah sakit di distrik Caidian di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 6 Februari 2020. Wabah virus corona Covid 19 telah menewaskan 2.012 orang sampai Rabu sore, 19 Februar
Pekerja medis berpakaian pelindung memindahkan seorang pasien di bangsal terisolasi sebuah rumah sakit di distrik Caidian di Wuhan, provinsi Hubei, Cina 6 Februari 2020. Wabah virus corona Covid 19 telah menewaskan 2.012 orang sampai Rabu sore, 19 Februari 2020. China Daily via REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Top 3 Tekno berita hari ini dimulai dari topik tentang 27 ilmuwan kesehatan masyarakat dari sembilan negara di luar Cina mengecam makalah ilmiah yang menyatakan virus corona COVID-19 kemungkinan menyebar dari laboratorium di Wuhan, Cina. Mereka menuliskan pernyataan di situs online The Lancet, dan menyebutnya sebagai disinformasi atau hoax kontraproduktif dalam penanggulangan wabah virus itu.

Berita populer lainnya adalah jet tempur Sukhoi Su-35 dan cara Cina menjiplak persenjataan Rusia. Sepanjang periode 2014-2018 sebanyak 70 persen impor senjata Cina dari Rusia, termasuk 24 jet tempur Sukhoi Su-35 dan enam perangkat sistem senjata anti-serangan udara S-400 ke Cina senilai total US$ 5 miliar pada 2015 lalu. 

Juga mengenai trenggiling sebagai satwa liar di Indonesia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal. Dalam sepuluh tahun terakhir, hampir 26 ribu ekor yang diburu lalu dikirim ke Cina untuk dikonsumsi sisik dan dagingnya.

Berikut tiga berita terpopuler di kanal Tekno:

1. Virus Corona: Ilmuwan 9 Negara Bela Kolega di Wuhan, Ada Apa?

Perawat berjalan di dalam ruang karantina untuk pasien virus corona di gedung A2 yang belum selesai tetapi masih belum digunakan di Shanghai Public Clinical Center, di Shanghai, Cina, 17 Februari 2020. Hingga saat ini vaksin untuk virus Covid 19 belum ditemukan. Noel Celis/Pool via REUTERS

Sekelompok 27 ilmuwan kesehatan masyarakat dari sembilan negara di luar Cina mengecam makalah ilmiah yang menyatakan virus corona COVID-19 kemungkinan menyebar dari laboratorium di Wuhan, Cina. Menuliskan pernyataan di situs online The Lancet, mereka menyebutnya sebagai disinformasi atau hoax  yang kontraproduktif dalam penanggulangan wabah virus itu.

"Pembagian data yang cepat, terbuka, dan transparan tentang wabah ini sedang diancam oleh rumor dan informasi yang salah seputar asal-usulnya," bunyi pernyataan itu seperti dikutip Sciencemag.

Para ilmuwan itu menanggapi banyaknya unggahan  di media sosial yang meminta  laboratorium milik Institut Virologi Wuhan  diawasi superketat.  Spekulasi yang diembuskan adalah virus itu produk rekayasa hayati. Seorang pekerja laboratorium lalu terinfeksi saat menangani kelelawar dan menularkan penyakit ke orang lain di luar laboratorium.

2. Jet Tempur Sukhoi Su-35 dan Cara Cina Jiplak Persenjataan Rusia

Sukhoi Su-35 merupakan pesawat tempur multifungsi yang mampu menjelajah langit dengan kecepatan melebihi kecepatan suara atau supersonic dengan kecepatan maksimum hingga 2.390 km/jam. Pesawat tempur generasi 4+ ini juga mampu mendeteksi hingga 400 km dan melacak 30 target secara simultan serta melibat hingga 8 pesawat. Dmitry Terekhov/Wikimedia Commons

Pemerintah Indonesia berencana belanja jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia. Rencana sudah ada sejak Presiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 2016 dan mengemuka lagi saat kunjungan Prabowo Subianto, kini Menteri Pertahanan, ke Rusia pada akhir Januari 2020 lalu.

Rusia adalah satu di antara kekuatan militer besar di dunia. Selama ini, Cina yang tercatat sebagai konsumen terbesar produk militer negeri pecahan Soviet itu. Menurut Stockholm International Peace Research Institute, Rusia adalah penyuplai terbesar persenjataan impor Cina sepanjang 2014-2018.

Sepanjang periode itu sebanyak 70 persen impor senjata Cina dari Rusia. Termasuk di antaranya Rusia menjual 24 jet tempur Sukhoi Su-35 dan enam perangkat sistem senjata anti serangan udara S-400 ke Cina senilai total US$ 5 miliar pada 2015 lalu. 

3. 10 Tahun, 26 Ribu Trenggiling Indonesia Diselundupkan ke Cina

Salah kaprah menduga sisik trenggiling adalah obat, dan dagingnya yang lezat, membuat mamalia bersisik ini diburu. Foto: @pangolinconservation

Trenggiling disebut sebagai satwa liar di Indonesia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal. Dalam sepuluh tahun terakhir, hampir 26 ribu ekor yang diburu lalu dikirim ke Cina untuk dikonsumsi sisik dan dagingnya.

"Pada 2019, seingat saya ada sekitar tujuh kasus yang kira-kira ada sekitar 200 ekor pangolin (trenggiling) dengan negara tujuan akhir adalah Cina," kata analis Wildlife Conservation Society (WCS), Yunita Setyorini, ketika berbicara dalam presentasi aplikasi melawan perdagangan satwa liar ilegal di Jakarta, Selasa 18 Februari 2020.

Yunita menjelaskan, trenggiling diburu dan diperdagangkan karena sisiknya dipercaya dapat menjadi bahan obat yang ampuh untuk beberapa penyakit seperti asma dan membantu meningkatkan vitalitas tubuh. Di acara yang digelar untuk memperingati Pangolin Day 15 Februari itu, Yunita mengingatkan kembali kalau perburuan itu menyebabkan mamalia itu kini terancam punah.



REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT