Arkeolog Temukan Menhir dan Papan Batu Zaman Megalitik di Sentani
TEMPO.CO | 30/10/2019 10:39
Arkeolog Balai Arkeologi Papua memeriksa menhir yang ditemukan di Bukit Yomokho, dekat Danau Sentani, Jayapura, Oktober 2019. Daerah ini diduga hunian prasejarah dari zaman neolitik sampai megalitik. (Dok. Hari Suroto/Balar Papua)
Arkeolog Balai Arkeologi Papua memeriksa menhir yang ditemukan di Bukit Yomokho, dekat Danau Sentani, Jayapura, Oktober 2019. Daerah ini diduga hunian prasejarah dari zaman neolitik sampai megalitik. (Dok. Hari Suroto/Balar Papua)

TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian Balai Arkeologi Papua di kawasan Danau Sentani di Bukit Yomokho, Kampung Dondai, Distrik Waibu, Jayapura, berhasil menemukan tinggalan megalitik berupa menhir dan papan batu.

Eksplorasi Balai Arkeologi Papua di Bukit Yomokho sebelah timur berhasil menemukan sebuah papan batu di puncak bukit. Papan batu ini berorientasi utara - selatan, memiliki panjang 110 cm, lebar 58 cm, dan tebal 10 cm, kara arkeolog Hari Suroto kepada Tempo, Rabu, 30 Oktober 2019.

"Papan batu terletak di puncak bukit yang datar, di tempat banyak orang bisa berkumpul atau leluasa melakukan ritual atau aktivitas religi, dalam prasejarah mengenal konsep, tempat di atas atau tinggi merupakan tempat yang sakral atau suci," kata Hari.

Papan batu ini berjenis batuan beku peridotit, jenis batuan ini tidak terdapat di Bukit Yomokho, batuan ini banyak didapatkan di Pegunungan Cyclops yang terletak di utara Danau Sentani, katanya.

Selain itu, pada lereng Bukit Yomokho sebelah tenggara juga ditemukan sebuah menhir. Menhir ini merupakan sebuah monolit yang tidak dikerjakan dengan dimensi panjang 100 cm, lebar 80 cm dan tebal 20 cm.

"Tanda-tanda menhir pernah digunakan adalan batu monolit ini sengaja ditegakkan dan ditempatkan di tempat yang lebih tinggi," kata Hari.

Sama dengan papan batu, menhir ini berjenis batuan beku peridotit.

"Tidak jauh dari menhir, juga terdapat susunan jalan batu, memanjang dari kaki bukit hingga lereng bukit, jalan batu ini pada masa prasejarah berfungsi sebagai jalan untuk memudahkan dalam mendaki bukit," kata Hari Suroto. Lebar jalan batu ini 3,1 meter.

Papan batu dan jalan setapak dari masa megalitik yang ditemukan Balai Arkeologi Papua di kawasan Danau Sentani, Jayapura, Oktober 2019. (Dok. Hari Suroto/Balar Papua)

Menhir dan papan batu pada masa prasejarah berfungsi sebagai media pemujaan pada roh nenek moyang.

Bukit Yomokho memanjang berbentuk huruf U di pinggiran Danau Sentani. Eksplorasi Balai Arkeologi Papua di seluruh bagian bukit, menemukan artefak dan ekofak lebih banyak di bukit sebelah timur, sedangkan bukit sebelah selatan dan barat temuan lebih sedikit. Menurut Hari, hal ini menunjukkan  hunian manusia prasejarah waktu itu lebih banyak di sebelah timur bukit.

"Berdasarkan temuan hasil survei permukaan tanah maupun ekskavasi, diketahui kronologi hunian Situs Yomokho yaitu neolitik hingga megalitik," katanya.

Sementara itu, di saat penelitian Balai Arkeologi Papua di Situs Yomokho, sejumlah mahasiswa antropologi Universitas Cenderawasih melakukan kuliah lapangan di Situs Yomokho. Kuliah lapangan ini didampingi oleh dosen Ichsan Rahmanto.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT