Tiru Greta Thunberg, Anak Muda Yogya Kampanye Perubahan Iklim
TEMPO.CO | 21/09/2019 07:21
Para anak muda bersama Jaringan Masyarakat Peduli Iklim (Jampiklim) Yogya menyuarakan bahaya perubahan iklim. Kredit: TEMPO/Shinta Maharani
Para anak muda bersama Jaringan Masyarakat Peduli Iklim (Jampiklim) Yogya menyuarakan bahaya perubahan iklim. Kredit: TEMPO/Shinta Maharani

TEMPO.CO, Yogyakarta - Setidaknya 100 kalangan muda berkumpul untuk menyuarakan bahaya perubahan iklim di Titik Nol Yogyakarta, Jumat, 20 September 2019. Kalangan muda ini membentangkan beragam poster yang memprotes kerusakan lingkungan dan mengajak orang peduli.

Poster bertuliskan planet bumi di atas profit atau uang, bumi mung siji ojo dipateni (bumi hanya satu, jangan dibunuh). Mereka juga mengumpulkan donasi untuk darurat kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan di Riau. Di sana juga dipasang panel surya milik Wahana Lingkungan Hidup yang menyokong energi untuk pengeras suara dan pentas musik.

Mereka terinspirasi dari Greta Thunberg, remaja aktivis lingkungan yang bersama ribuan murid sekolah lainnya berkampanye di depan gedung parlemen Swedia. Greta dan ribuan anak muda berkampanye secara global dengan cara mogok sekolah terhadap lambannya penanganan perubahan iklim.

"Keberanian Greta menginspirasi. Anak muda harus turun ke jalan, jangan cuma sibuk bermedia sosial," kata Puri Permata Sari, mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta.

Puri, 24 tahun dan kawannya, Retno Widowati merupakan peserta aksi protes perubahan iklim di Titik Nol. Gerakan ini digagas Jaringan Masyarakat Peduli Iklim (Jampiklim) Daerah Istimewa Yogyakarta. Jaringan ini beranggotakan aktivis lingkungan, aktivis isu-isu sosial politik, seniman, dan jurnalis.

Pemogokan iklim global yang dikenal dengan Climate Strike telah menular di banyak negara. Hari ini di sejumlah negara di antaranya Amerika Serikat, anak-anak muda membanjiri jalanan untuk memprotes lambannya penanganan krisis iklim. Awal dari gerakan ini selama seminggu untuk melatih perhatian internasional tentang darurat iklim.

Di Indonesia, Climate Strike belum populer seperti di negara-negara lain. Anak-anak muda Yogyakarta memulainya hari ini dan puncaknya pada 27 September mendatang. Mereka di antaranya berasal dari sejumlah sekolah menengah pertama di Yogyakarta, kampus, dan bocah-bocah home schooling.

Meisy, siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 9 datang bersama kawan-kawannya untuk menyuarakan keprihatinannya terhadap dunia yang semakin rusak. Dia bicara tentang pencemaran lingkungan karena sampah plastik. "Kami ingin dunia yang lebih baik. Ayo kita tunda kehancuran bumi dengan cara lebih peduli lingkungan," kata dia.

Sebelum menggelar aksi pemanasan untuk menuju puncak aksi yang lebih besar pada tanggal 27 September, sejumlah siswa sekolah telah mengikuti diskusi tentang perubahan iklim di Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Noviana, pegiat Lembaga Kajian Islam dan Sosial mengumpulkan siswa siswi dari berbagai sekolah di Yogyakarta.

Koordinator Jaringan Masyarakat yang peduli Iklim di DIY atau Jampiklim Himawan
Kurniadi mengatakan Jampiklim mengajak masyarakat untuk melakukan aksi bersama mendorong pemerintah mendengarkan para ilmuwan dan akademisi yang menyatakan darurat iklim. Juga membuat peraturan tentang pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, dan regulasi tentang perencanaan pembangunan ramah lingkungan.

Di Yogyakarta, proyek pembangunan terus menerus dilakukan tanpa  mempertimbangkan kelestarian lingkungan. Contohnya adalah proyek Bandara di Kabupaten Kulon Progo yang menyisakan dampak efek gas rumah kaca dan persoalan sosial. Dampaknya adalah kesehatan akibat dari pencemaran air dan udara yang timbul baik dari tambang dan pembangkit listrik, perampasan lahan dan mata pencaharian, hilangnya situs-situs budaya. "Sampah plastik juga menjadi masalah besar untuk Indonesia dan global," kata dia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa 90 persen bencana yang terjadi pada tahun 2018 adalah bencana hidrometeorologi atau bencana yang dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Situasi itu menggambarkan dampak perubahan iklim yang berimbas pada kesehatan, pertanian, perekonomian. Situasi tersebut membutuhkan aksi dan ketegasan. Aksi cepat diperlukan untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celcius, ini muncul dalam Perjanjian Paris 2015 yang ditandatangani oleh hampir 200 negara anggota PBB.

Para ilmuwan mengatakan dunia harus menghilangkan karbon sebelum 2050.
Salah satu persoalan dasar yang perlu terus didorong oleh masyarakat adalah terkait
kebijakan energi global yang masih didominasi dan mengandalkan pada sumber-sumber energi fosil, batubara, gas, minyak. Indonesia kecanduan energi fosil. Ini ditandai dengan proyek pembangkit listrik tenaga fosil seperti batubara dan gas. Proyek itu di antaranya PLTU Batang (2 x 1000 MW) maupun PLTGU (2 x 880 MW), PLTU dan PLTGU Indramayu 2 (1000 MW), Cirebon 2 (1000 MW), Riau (275 MW), Semarang (779 MW).

Kebijakan energi tersebut mengakibatkan serangkaian masalah karena menyumbang emisi CO2 hingga 40 persen, menimbulkan persoalan lingkungan. "PLTU batubara misalnya, diidentifikasi menyumbang lebih dari sepertiga emisi terkait energi saat ini hingga tahun 2040," kata Himawan.

SHINTA MAHARANI


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT