Polemik Sriwijaya Fiktif, Milenial Diajak Baca Buku Sejarah
TEMPO.CO | 02/09/2019 07:42
Candi Tua merupakan bangunan paling besar dari situs Candi Muara Takus. Situs sejarah ini merupakan peninggalan kerajaan Srawijaya yang terletak tidak jauh dari pinggir sungai kampar kanan, Desa Muara Takus, Riau, 5 Januari 2015. TEMPO/Riyan Nofitra.
Candi Tua merupakan bangunan paling besar dari situs Candi Muara Takus. Situs sejarah ini merupakan peninggalan kerajaan Srawijaya yang terletak tidak jauh dari pinggir sungai kampar kanan, Desa Muara Takus, Riau, 5 Januari 2015. TEMPO/Riyan Nofitra.

TEMPO.CO, Jakarta  -  Duta baca Provinsi Sumatera Selatan Dr Firman Freaddy Busroh mengajak masyarakat khususnya kaum milenial untuk mempelajari lagi Kerajaan Sriwijaya dengan membaca buku menanggapi ramainya polemik Sriwijaya fiktif.

Pernyataan Sriwijaya fiktif  pertama kali dilontarkan Budayawan Betawi Ridwan Saidi pekan lalu. Pernyataan, yang menyebutkan Sriwijaya tidak pernah ada dan hanya kelompok bajak laut itu, menuai kritik dari sejarawan dan arkeolog.

"Di sinilah momentum membangkitkan kepedulian sejarah, semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah harus meningkatkan lagi literasi sejarah, salah satunya dengan membaca buku-buku," ujar Firman seusai pembukaan Pekan Pustaka Palembang II, Minggu, 1 Oktober 2019.

Menurut dia pemahaman mengenai Kerajaan Sriwijaya perlu didorong dengan distribusi buku bacaan lebih banyak lagi, juga diimbangi intensitas gelaran diskusi atau kajian yang menyasar kaum milenial, sehingga publikasi mengenai Sriwijaya lebih valid serta tetap eksis.

Dengan memahami sejarah Sriwijaya, para milenial dapat menanggapi informasi-informasi baru secara selektif dan positif dengan mengedepankan keilmiahan metode serta data.

"Saya lihat nampaknya tidak banyak yang terpengaruh dari pernyataan beliau ( Ridwan Saidi), karena sebagian menganggap data yang digunakannya masih belum jelas," katanya.

Menurut dia, polemik Sriwijaya Fiktif juga memberi pelajaran kepada kaum milenial bahwa sebelum menyampaikan pernyataan menyangkut sejarah harus disertai data yang valid, mengingat minat baca masyarakat saat ini sudah tinggi tapi daya baca masih kurang.

"Apalagi jumlah komunitas literasi di Palembang sebenarnya cukup banyak, pemerintah hanya perlu mendorong agar mereka terus menggelar berbagai kegiatan literasi, sehingga dengan sendirinya minat baca serta daya baca masyarakat itu tumbuh," katanya.

Ia sendiri meyakini Kerajaan Sriwijaya ada dengan bukti-bukti prasasti dan hasil kajian para arkeolog yang puluhan tahun melakukan penelitian.

Berita lain terkait polemik Sriwijaya Fiktif, bisa Anda simak di Tempo.co.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT