Peneliti LIPI Temukan Jejak Paleotsunami di Bandara Baru Yogya
TEMPO.CO | 30/08/2019 16:34
Bandara New Yogyakarta International Airport atau NYIA di Kulon Progo, Yogyakarta. Sumber: Angkasa Pura I
Bandara New Yogyakarta International Airport atau NYIA di Kulon Progo, Yogyakarta. Sumber: Angkasa Pura I

TEMPO.CO, Jakarta- Ahli paleotsunami Eko Yulianto menemukan jejak tsunami masa lampau di sekitar lokasi bandara internasional Yogyakarta di Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Geoteknologi LIPI itu mengatakan telah membuka datanya dan memaparkan temuannya ke tim pembangun bandara. “Sudah dari dulu dibuka tapi nggak ada efeknya. Kasus Kulon Progo ironis, sudah ada datanya tapi terus dibangun,” katanya di Bandung.

Presiden Joko Widodo, Kamis, 29 Agustus 2019 meninjau perkembangan pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo. Menurut dia, bandara baru ini amat luas dan bisa menampung banyak penumpang. "Terminalnya (seluas) 219.000 meter persegi yang bisa menampung 20 juta penumpang per tahun," katanya dikutip dari Siaran Pers Sekretariat Presiden.

Riset paleotsunami atau tsunami purba yang dilakukan Eko menyasar di sepanjang selatan Jawa. Mulai dari Lebak di Banten hingga Bali, ia dan tim serta mahasiswa menyusuri jejak tsunami masa lalu berbasis ilmu Geologi.

Caranya dengan membuat paritan untuk menyingkap lapisan tanah. “Kami mencari bukti apakah benar material yang didapatkan berasal dari laut yang kemungkinan adalah tsunami,” kata dia.

Sekitar dua kilometer sebelah timur lokasi bandara Kulon Progo, mereka mendapatkan bukti tsunami purba dari dua titik galian. Temuannya di posisi 1,5 kilometer dari garis pantai yang sekarang. “Ada dua lapisan pasir tsunami,” ujarnya 22 Agustus 2019.

Lapisan yang bawah di kedalaman sekitar 120 sentimeter dan sudah ditentukan umurnya dengan karbon-14. “Terjadi (tsunami) sekitar 1800 tahun lalu,” ujarnya. Lapisan tanah bukti tsunami itu mengandung sisa makhluk laut berukuran mikro yang sangat melimpah yaitu foraminifera, radiolaria dan ostrakoda.

Lapisan kedua lebih dangkal pada kedalaman kurang dari satu meter. Kandungannya sisa-sisa makhluk laut berukuran mikro juga namun belum dianalisis umurnya. “Kami menduga ini endapan tsunami yang 400 tahun lalu,” kata Eko.

Temuan bukti tsunami sekitar 1800 tahun silam di Kulon Progo menurutnya sama dengan temuan lapisan tsunami di Lebak, Banten, dan seumur.

Jika diasumsikan dua lapis tsunami itu dari kejadian yang sama kata Eko, maka setidaknya panjang rupture (sobekan patahan) sekitar 500 kilometer. “Rupture sepanjang itu bisa menghasilkan gempa mendekati skala Mw. 9,” katanya.

Perkiraan itu mengacu pada gempa dan tsunami Tohoku Jepang pada 2011 dengan skala Mw 9 yang disebabkan rupture sepanjang sekitar 500 kilometer.

Dari temuan lapisan tsunami yang lebih dangkal dengan perkiraan kejadian 400 tahun silam, ada kemungkinan adalah kejadian serentak yang mengendapkan pasir tsunami di Lebak, Ciletuh, Pangandaran, Cilacap, Pacitan dan Lumajang.

Tsunami itu diperkirakan melanda pantai sepanjang lebih dari 700 kilometer. Kemungkinan kata Eko dipicu oleh gempa dengan rupture sekitar 700 km atau lebih. “Yang berarti berhubungan dengan gempa berskala Mw 9 atau lebih,” ujarnya. Gempa Aceh 2004 yang berskala Mw 9.3 dipicu oleh rupture sepanjang 1300 kilometer.

Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta baru di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, sudah mengantisipasi kemungkinan terjadinya tsunami di pesisir selatan Pulau Jawa.

"Lantai 2 terminal bandara ini dibuat 15,25 meter," kata Manajer Proyek Pembangunan Bandar Udara Internasional Yogyakarta Taochid P.H. di Kulon Progo, Kamis, 29 Agustus 2019.

Dengan ketinggian itu, jika terjadi alarm tsunami di sekitar bandara, masyarakat diumumkan untuk lari atau evakuasi ke terminal bandara itu. "Sudah disiapkan di lantai 2 dan lantai 3 sebagai tempat evakuasi sementara," katanya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT