Peneliti: Banyak Varietas Bajakah, Tidak Semua Sembuhkan Kanker
TEMPO.CO | 18/08/2019 07:07
Dua orang siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani, berhasil menemukan obat kanker dari tumbuhan kayu bajakah tunggal asal Kalimantan Tengah. Kredit: Tempo/Karana WW
Dua orang siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani, berhasil menemukan obat kanker dari tumbuhan kayu bajakah tunggal asal Kalimantan Tengah. Kredit: Tempo/Karana WW

TEMPO.CO, Jakarta - Yazid Rafli Akbar, 16 tahun, salah satu peneliti khasiat kayu Bajakah dari SMA Negeri 2 Palangka Raya, belum bisa membeberkan berapa lama neneknya mengkonsumsi akar Bajakah hingga akhirnya sembuh dari sel kanker yang menggerogoti tubuhnya.

Yazid bersama dua kakak kelasnya, yakni Anggina Rafitri, 17 tahun, dan Aysa Aurealya Maharani, 17 tahun, mendapat piagam penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy karena karya ilmiah mereka berjudul "Bajakah Tunggal, The Cancer Medicine from Nature" meraih medali emas bidang Life Sciences pada ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, selama 25-27 Juli 2019.

Penelitian yang mereka lakukan sebatas karya ilmiah dan belum bisa menjadi dasar pembuktian pengobatan manusia.

“Yang kami tahu, Bajakah punya banyak varietasnya. Tidak semuanya bisa digunakan untuk menyembuhkan kanker. Malah ada yang digunakan untuk mabuk ikan, berburu, perang, macam-macam kegunaannya. Berhati-hati penggunaannya,” ujarnya di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Senayan Jakarta, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Tanaman yang digunakan dalam penelitian berasal dari pedalaman hutan Kalimantan. “itu yang baru kami tahu,” ujar Yazid.

Ia menolak merinci di mana menemukan tanaman akar tersebut karena khawatir terjadi eksploitasi berlebihan terhadap tanaman tersebut. Apalagi, akar Bajakah ternyata tanaman langka.

“Tolong dipilah-pilah dulu, karena kami belum mengetahui jenis-jenisnya. Jadi mohon dipilah-pilah lagi karena kami baru penelitian awal. Belum bisa dijadikan dasar pengobatan. Akan diadakan penelitian lebih lanjutlah. Fasilitas pemerintah nanti ada juga buat bantu kami meneliti lebih lanjut,” tambah Anggina.

Mereka berharap, pemerintah membantu penelitian lebih lanjut, sedangkan hal yang mereka kerjakan masih sebatas penelitian awal.

Mereka optimistis penelitian itu akan dapat membantu orang banyak. Mereka pun ada rencana untuk mematenkan penelitiannya jika sudah ada penelitian lanjutan. “Penelitian kami masih sebatas karya ilmiah jadi belum bisa menjadi dasar dalam pengobatan. Tapi kalau penelitian dilanjutkan, insya Allah kami berharap bisa dipatenkan,” ujar Yazid.

Mereka memohon agar masyarakat Kalimantan terus menjaga hutannya karena Bajakah banyak jenisnya, sedangkan jenis yang dapat mengobati kanker termasuk langka karena susah didapat. "Tolong jangan eksploitasi hutan karena itu berdampak pada ekosistem alam di negara yang kita cintai ini,” ujar Anggina.

ANTARA

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT