Akar Bajakah Tidak Boleh Keluar Kalimantan Tengah, Warga Kecewa
TEMPO.CO | 17/08/2019 07:38
Dua orang siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani, berhasil menemukan obat kanker dari tumbuhan kayu bajakah tunggal asal Kalimantan Tengah. Kredit: Tempo/Karana WW
Dua orang siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani, berhasil menemukan obat kanker dari tumbuhan kayu bajakah tunggal asal Kalimantan Tengah. Kredit: Tempo/Karana WW

TEMPO.CO, Palangka Raya - Sejumlah warga Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, merasa kecewa dengan aturan sepihak dari pemerintah provinsi terkait larangan pengiriman obat tradisional berupa akar Bajakah melalui jasa pengiriman yang ada di daerah itu.

Salah seorang warga Kota Palangka Raya yang tinggal di daerah Tangkiling, Kecamatan Bukit Batu, Agus, Sabtu, 17 Agustus 2019, membenarkan bahwa paket barang miliknya yang berisi akar Bajakah tidak bisa dikirim melalui jasa pengiriman JNE express.

Di mana akar tersebut untuk pemesanan pihak keluarga, teman, maupun sejumlah orang yang percaya dengan khasiat obat tradisional tersebut di luar Kalteng.

"Kalau memang melarang warga membawa akar Bajakah ke luar daerah ini, seharusnya pemerintah provinsi mengeluarkan peraturan daerah (perda) atau peraturan gubernur (pergub) maupun imbauan untuk bisa melarang mengenai hal itu, sehingga warga bisa mengetahui secara jelas dan memakluminya," tegasnya.

"Anehnya pemprov ketika hal ini viral, tiba-tiba saja melarang masyarakat untuk membawa ke luar Kalteng," tambahnya.

Ia mengatakan, bahwa tiba-tiba saja ada pengumuman dari sejumlah jasa pengiriman menyatakan bahwa "pengiriman paket herbal khususnya Bajakah, untuk sementara waktu stop untuk dikirim".

Hal ini membuat sejumlah warga, mungkin puluhan orang, yang ingin mengirim paketan akar Bajakah untuk keluarga maupun kerabat yang ada di luar daerah batal melakukannya.

Penjual akar bajakah dadakan di bilangan Jalan RTA Milono Km 6, Kota Palangka Raya mulai bermunculan, Kamis (15/8/19). (Foto Antara/Istimewa).

Ia sangat kecewa dengan adanya larangan tersebut. Tindakan Gubernur Kalteng yang melarang hal ini dianggapnya arogan. Padahal obat penyembuh penyakit kanker ini belum resmi dipatenkan.

Namun, dengan adanya larangan dari pemprov setempat, ia pasrah dan tidak bisa berbuat banyak sehingga harus merelakan tumbuhan obat tersebut dibawa pulang kembali ke rumah.

Warga lainnya, Rusdiah, mengatakan bahwa dengan adanya kejadian tersebut, dia tidak sepenuhnya menyalahkan pemprov.

"Mungkin niat pemrov baik dalam melindungi hasil temuan rahasia terbesar alam yang dimiliki Kalteng, namun hanya saja perlu adanya regulasi baik itu perwali maupun perbup atau imbauan kepada warga Kota Palangka Raya dan sekitarnya untuk mengetahui alasan pelarangan tersebut, sehingga tidak terkesan atau dinilai terburu-buru dalam memutuskan sebuah kebijakan kongkret," kata karyawan swasta itu.

Salah satu karyawan JNE express yang berada di Jalan Seth Adji, Idan membenarkan adanya pelarangan akar Bajakah tidak dapat dikirim untuk sementara waktu.

"Ya mas sejak sore tadi ada larangan paketan berisi akar Bajakah tidak bisa di kirim melalui jalur udara, karena pihak Bandara Tjilik Riwut melarangnya," katanya.

Idan menjelaskan, larangan tersebut berlaku dari Jumat, 16 Agustus 2019. Informasinya karena adanya instruksi dari Gubernur Kalteng Sugianto Sabran beserta sejumlah instansi yang siang itu mendatangi pihak Bandara Tjilik Riwut dan kantor Karantina.

Dengan adanya hal tersebut, maka pihak JNE express tidak menerima sementara paket pengiriman milik masyarakat yang di dalamnya berisikan obat yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kanker tersebut.

Namun, untuk paketan milik masyarakat yang berisi akar Bajakah yang sudah telanjur diterima pihak JNE, pihaknya tetap akan mengantarkan paketan sesuai ke tujuan. "Hanya saja tidak melalui jalur udara, melainkan bisa melalui jalur lain, yakni menggunakan jalur kapal laut," ucapnya.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT