Genetik Babi Purba Berubah Setelah Tiba di Eropa
TEMPO.CO | 14/08/2019 09:48
Pengunjung mengambil gambar babi hutan yang mencari makan di Aberdeen Country Park di Hong Kong, 27 Januari 2019. babi hutan terus berkembang dan merambah kawasan penduduk. REUTERS/Jayson Albano
Pengunjung mengambil gambar babi hutan yang mencari makan di Aberdeen Country Park di Hong Kong, 27 Januari 2019. babi hutan terus berkembang dan merambah kawasan penduduk. REUTERS/Jayson Albano

TEMPO.CO, Jakarta - Penelitian baru yang dilakukan Universitas Oxford dan Universitas Queen Mary di London telah menyelesaikan paradoks babi. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa babi hutan dijinakkan di Near East.

Near East atau Eurocentric merupakan istilah geografis yang secara kasar meliputi wilayah Asia Barat, Turki (baik Anatolia dan Timur Thrace ), dan Mesir (yang sebagian besar terletak di Afrika Utara). 

Diterbitkan di Prosiding National Academy of Sciences, penelitian menunjukkan bagaimana proses genetik terjadi. Bekerja dengan lebih dari 100 kolaborator, peneliti Oxford School of Archaeology mengurutkan tanda DNA lebih dari 2.000 babi purba, termasuk genom dari 63 babi purba  yang ada di Near East dan Eropa selama 10.000 tahun terakhir.

Temuan ini mengungkapkan bahwa babi pertama yang tiba di Eropa bersama para petani 8.000 tahun lalu memiliki keturunan genetik Near East. Namun, selama 3.000 tahun ke depan, babi domestik purba kawin campur  dengan babi hutan Eropa, sehingga kehilangan hampir semua keturunan Near East.

Beberapa tingkat rendah keturunan Near East berpotensi tetap berada dalam genom babi domestik Eropa modern. Dan kemungkinan menjelaskan karakteristik mereka yang berwarna hitam, dan warna bulu berbintik hitam dan putih.

Tingkat leluhur Near East yang lebih tinggi juga dipertahankan pada populasi babi di pulau-pulau Mediterania yang dipelihara. Mungkin karena populasi ini mengalami aliran gen yang relatif lebih sedikit dengan babi hutan Eropa relatif terhadap babi di benua itu.

Profesor Greger Larson, Direktur Jaringan Penelitian Paleogenomik dan Bio-Arkeologi (PalaeoBarn) di Oxford mengatakan, "Memiliki akses ke genom kuno dalam ruang dan waktu sedemikian besar telah memungkinkan kita untuk melihat gerak lambat penggantian seluruh genom babi domestik." 

Menurut Larson, hal ini menunjukkan bahwa manajemen babi di Eropa lebih dari ribuan tahun. "Dan bahwa meskipun pemilik babi mempertahankan pilihan untuk beberapa warna bulu, babi domestik sering berinteraksi dengan babi hutan sehingga mereka kehilangan tanda leluhur babi hutan dari mana mereka berasal," tutur Larson.

Laurent Frantz, penulis utama studi di Queen Mary University of London menjelaskan, semua peneliti diajari bahwa perubahan besar adalah proses awal domestikasi. "Namun, data kami menunjukkan bahwa hampir tidak ada seleksi manusia dari pada yang pertama. 2.500 tahun domestikasi babi penting dalam pengembangan babi komersial Eropa modern," ujar Frantz.

Saat ini, tim telah menyatukan timeline dari sejarah genom babi di Eurasia barat, langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah mengidentifikasi secara tepat, dalam genom babi domestik Eropa modern dan beberapa gen yang mempertahankan nenek moyang Near East aslinya.

Ini memungkinkan untuk menilai apakah seleksi buatan yang diterapkan petani awal, lebih dari 10.000 tahun yang lalu, meninggalkan warisan lebih lanjut pada babi modern di luar warna bulu.

PHYS | PROSIDING NATIONAL ACADEMY OF SCIENCES


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT