Korea Selatan, AS, dan Jepang Pimpin Penyebaran Jaringan 5G
TEMPO.CO | 13/06/2019 07:46
Ilustrasi 5G. REUTERS
Ilustrasi 5G. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Korea Selatan, AS, dan Jepang berada di garis depan dalam penyebaran jaringan generasi kelima atau 5G. Namun, menurut panel pejabat industri di Global Digital Summit Nikkei 2019, aplikasi yang akan memanfaatkan potensi penuh teknologi tersebut akan membutuhkan waktu untuk muncul.

Baca: Jaringan 5G Diklaim Berisiko Merusak Otak dan Kesuburan?

Baca: India Akan Uji Coba Jaringan 5G dalam 100 Hari

"Di tiga pasar 5G terkemuka, operator telekomunikasi aktif dalam memperluas area jangkauan jaringan," kata Satoshi Iwao, Vice Presiden of the Network Division di Samsung Electronics Jepang, seperti dikutip laman Asia Nikkei, Senin, 10 Juni 2019.

Samsung meluncurkan smartphone 5G pada April lalu di Korea Selatan di mana 85 kota sudah dilengkapi dengan layanan 5G. AS juga telah meluncurkan layanan 5G, dan Jepang mengharapkan peluncuran pra-komersial dalam waktu dekat ini.

"Eropa sedikit khawatir sebenarnya, untuk tertinggal," kata John Harrington, kepala eksekutif Nokia Jepang. "Eropa telah terhambat oleh kesulitan dalam mengembangkan kasus bisnis untuk teknologi ini meskipun ada keinginan untuk menerapkan."

Baca: Italia Jadi Negara Eropa Ketiga Terapkan Teknologi 5G

Teknologi 5G diyakini sebagai perubah permainan, karena akan memungkinkan transmisi data dalam volume besar dengan sedikit waktu tunda. Dengan demikian, dapat mempercepat transformasi teknologi di banyak bidang, tapi pertanyaan tentang biaya dan siapa yang membayar untuk teknologi itu masih harus diselesaikan.

Iwao kembali menjelaskan bahwa perusahaan dan produsen telekomunikasi belum membuat aplikasi unggulan yang akan menunjukkan kinerja 5G yang terbaik. Namun, Takehiro Nakamura, Senior Vice President di perusahaan telekomunikasi Jepang NTT Docomo, mengatakan bahwa perusahaan telekomunikasi harus membangun infrastruktur 5G terlebih dahulu. "Karena, kami tidak bisa menunggu aplikasi muncul begitu saja," kata Nakamura.

Sedangkan menurut Harrington dari Nokia, 5G akan sangat menarik jika melihat bagaimana penyebaran awal di AS dan Korea Selatan, yang bergerak di luar permainan konsumen dan mobile broadband.

"Mereka harus melihat lebih banyak konektivitas industri untuk membangun kasus bisnis yang kuat untuk 5G dalam jangka panjang," tutur Harrington.

Iwao mengakui bahwa pelanggan di Korea Selatan memilih kontrak seluler 5G bukan karena mereka tertarik pada aplikasi 5G yang unik, tapi karena penawaran data. Kemungkinan aplikasi 5G termasuk diagnosis jarak jauh oleh dokter dan dalam proses pembuatan pabrik.

Takayuki Yamane, yang bertugas bekerja dengan perusahaan lain pada aplikasi 5G di operator telekomunikasi Jepang KDDI, mengatakan bahwa kualitas video akan ditingkatkan dengan 5G, yang akan membuat bantuan jarak jauh dalam perawatan pesawat lebih akurat.

Nakamura di NTT menunjukkan masih ada tantangan dalam membangun infrastruktur, dan perlu waktu bertahun-tahun untuk memperluas jaringan 5G di seluruh Jepang. "Perusahaan dan pemerintah Jepang sedang menyusun rencana untuk menawarkan 5G secara sementara kepada pengguna di daerah di mana tidak ada jaringan, seperti situs konstruksi," lanjut Nakamura.

Tentang larangan perdagangan AS dari Huawei Technologies, Harrington menambahkan bahwa keamanan dan kepercayaan dalam jaringan telah menjadi pertimbangan penting karena 5G memiliki potensi untuk menghubungkan segalanya.

ASIA.NIKKEI | GDSN

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT