40 Anak Muda Asean Belajar Penyakit Tidak Menular di Bandung
TEMPO.CO | 03/05/2019 15:32
Sebanyak 40 orang anak muda berusia 18-35 tahun dari sepuluh negara ASEAN menjadi peserta acara Young Southeast Asian Leaders Initiative 2019 yang digelar di Bandung, 29 April-3 Mei 2019.
Sebanyak 40 orang anak muda berusia 18-35 tahun dari sepuluh negara ASEAN menjadi peserta acara Young Southeast Asian Leaders Initiative 2019 yang digelar di Bandung, 29 April-3 Mei 2019.

TEMPO.CO, Bandung - Sebanyak 40 orang anak muda berusia 18-35 tahun dari sepuluh negara ASEAN mengikuti lokakarya belajar memahami penyakit tidak menular pada acara Young Southeast Asian Leaders Initiative 2019 yang digelar di Bandung pekan ini. Mereka juga diminta menyiapkan topik yang sesuai untuk merancang rencana kerja dan program di negaranya.

Baca: Jangan Sepelekan, Stres Bisa Memicu Kematian karena Penyakit Ini

Para peserta berasal dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Filipina, Thailand, dan Timor Leste. Lokakarya yang berlangsung 29 April hingga 3 Mei 2019 itu melibatkan peserta dengan sederet ahli internasional di bidang kesehatan dalam sejumlah sesi pendampingan.

Kegiatan lainnya berdiskusi dan seminar daring, serta mengunjungi pusat kesehatan masyarakat di Pusat Kesehatan Masyarakat Kopo, Bojongloa Kidul, Kota Bandung. Tujuannya untuk melihat secara langsung seluk beluk layanan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Pelatihan itu bertajuk Empowering the Next Generation for Noncommunicable Disease Advocacy and Grassroots Engagement (ENGAGE). Selesai acara, para peserta akan kembali ke negara masing-masing dan menjalankan program yang telah mereka rancang. Penyelenggaranya Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta dan lembaga nirlaba Research Triangle Institute (RTI) International.

Salah satu peserta, Annisa Ristya Rahmanti, mengusulkan ide penggunaan agen virtual berdasarkan kecerdasan buatan atau robot percakapan (chatbot). Tujuannya untuk membantu ahli diet profesional memberikan dukungan kepada klien mereka.

Sementara Arindah Arimoerti Dano mengajukan kampanye anti-stigma untuk mematahkan mitos bahwa konseling masalah mental itu menakutkan, mahal, dan tidak membantu. Kampanye lewat daring itu direncanakan gratis.

Ekkachai Nasompong, peserta asal Thailand, mengatakan ingin menyelenggarakan pelatihan instruktur dari setiap sekolah khusus di Thailand untuk mengakomodasi siswa disabilitas. Sementara Ferry Irish May Hernandez Santiago dari Filipina ingin meningkatkan pengetahuan dasar remaja khususnya siswa sekolah menengah di Divisi Oriental Mindoro dalam masalah kesehatan mental dan mengurangi stigma.

 

Penasihat Urusan Publik Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta Susan Shultz menyampaikan forum Young Southeast Asian Leaders Initiative beranggotakan 140 ribu orang. Pemerintah Amerika Serikat hadir untuk terus mendorong anak muda saling bekerja sama dan berkontribusi membangun masa depan di wilayah Asia Tenggara hingga Indo-Pasifik.

Penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa sekarang ini menjadi penyebab utama kematian di Asia Tenggara. Dengan lebih dari 80 persen total kematian per tahun, penyakit itu menjadi penyebab kematian nomor dua di antara kaum muda di Asia Tenggara.

Faktor risiko penyakit tidak menular yang banyak terjadi antara lain pola makan yang tidak sehat, penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, aktivitas fisik berlebihan, dan cara-cara mengatasi stres yang tidak sehat. “Generasi muda harus dibekali keahlian dan motivasi untuk membuat perubahan ke arah yang lebih positif,” kata Project Director Ishu Kataria dari RTI International, Jumat, 3 Mei 2019.

ANWAR SISWADI

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT