Lapisan Es di Gunung Everest Mencair, Jasad Pendaki yang Alami Mumifikasi Bermunculan
TEMPO.CO | 25/03/2019 14:40
Lapisan Es di Gunung Everest Mencair, Jasad Pendaki yang Alami Mumifikasi Bermunculan
Lokasi terkenal di Puncak Everest, Hillary Step, telah ambruk. Kredit: Everest Expedition/Daily Mail

TEMPO.CO,  Jakarta – Hampir satu abad lamanya, mendaki Gunung Everest adalah tantangan bagi pendaki dari seluruh dunia, termasuk merenggut nyawa.

Baca: Dua Mahasiswi Indonesia Berhasil Mencapai Puncak Everest

Gunung setinggi 29 ribu kaki, setara dengan 8 kilometer di atas permukaan laut (kmdpl) itu memiliki tekanan udara yang tinggi dan udara yang tipis, menyulitkan pendaki untuk bernapas, permukaan yang curam, menyulitkan pendaki untuk berpindah dari shelter ke shelter lain.

Titik perkemahan tertinggi yang pada ketinggian 26 ribu kaki (7 kilometer), dijuluki sebagai zona kematian, karena banyak pendaki yang tidak bertahan, seperti kesulitan bernapas dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Pendakian Everest dimulai sejak tahun 1922 dan mencatatkan rata-rata tiga ratus orang meninggal dunia pada zonasi tertinggi atau area kematian. Kematian tersebut disebabkan oleh berbagai faktor seperti tertimpa longsoran salju, terjatuh, kelelahan, hingga hipotermia.

Tidak berhenti sampai di situ, jenazah pendaki akan mengalami mumifikasi seiring dengan suhu dan embusan ekstrem. Selama proses evakuasi, penyelamat harus mengeluarkan jenazah dari es, dan bobot mayat naik dua kali lipat. Proses ini sangatlah sulit, setidaknya dalam satu tim, terdapat delapan orang.

Menurut penduduk setempat, penemuan jenazah-jenazah pendaki Everest tahun lalu disebabkan oleh perubahan iklim. Seiring peningkatan suhu, mencairnya gletser tidak terhindarkan, khususnya daerah Khumbu di mana jenazah terbanyak ditemukan.

Penyebabnya, banyak yang terjatuh atau terkena longsoran salju. Titik pendakian Khumbu dikenal sebagai titik paling berbahaya, terlebih dengan adanya lapisan es yang tipis. Sebenarnya “penemuan-penemuan” mayat ini adalah peringatan akan bahayanya es yang mencair akibat perubahan iklim.

Simak artikel lainnya tentang Gunung Everest di kanal Tekno Tempo.co.

PANJI MOULANA | FORBES | THE SUN

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT