Banjir Bromo Dinilai Bukan Kejadian Luar Biasa
TEMPO.CO | 02/02/2019 15:04
Sejumlah jasa sewa kuda berada di lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis 8 November 2018. Lautan pasir seluas 5,920 hektar berada pada ketinggian 2100 m dpl. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Sejumlah jasa sewa kuda berada di lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Kamis 8 November 2018. Lautan pasir seluas 5,920 hektar berada pada ketinggian 2100 m dpl. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

TEMPO.CO, Malang - Fenomena banjir yang membentuk aliran air di kawasan Laut Pasir Bromo, Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru (TNBTS) beberapa waktu lalu disebabkan adanya curah hujan yang tinggi, dan bukan merupakan kejadian luar biasa.

Baca: Spot-spot yang Menarik di Seputaran Gunung Bromo

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Sarif Hidayat mengatakan bahwa dengan curah hujan yang tinggi ditambah letak geografis, akan menjadikan Laut Pasir Bromo dan sekitarnya sebagai lokasi limpahan air dari pegunungan sekitar.

"Ini hanya fenomena biasa saja, Laut Pasir Bromo berada pada posisi lembahan yang dilingkari oleh beberapa pegunungan yaitu Pegunungan Tengger, Bromo, Batok, Widodaren, Watangan dan Keciri," kata Sarif, di Kota Malang, Sabtu.

Dalam beberapa waktu terakhir, viral di media sosial, di antaranya dari akun @cepung-ae, tentang banjir yang membentuk aliran sungai di kawasan Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru sehingga menimbulkan banyak polemik dan pertanyaan di masyarakat khususnya wisatawan yang akan berkunjung.

Fenomena tersebut terjadi pada hari Jumat 25 Januari 2019 antara pukul 14.00 WIB sampai dengan 17.45 WIB, karena curah hujan dengan intensitas yang cukup tinggi di sekitar kawasan Bromo, yang kemudian viral dan menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat.

Sarif menjelaskan, struktur dan sifat pasir dengan porositas atau kemampuan menyerap air tinggi dan lembek mengakibatkan air yang mengalir dalam jumlah besar akan membentuk aliran sungai. Karena struktur dan sifatnya itu, aliran air dalam jumlah besar tidak akan berlangsung lama, dan segera surut, kemudian akan normal seperti biasa.

"Hanya berlangsung kurang lebih satu jam, air akan segera surut dan kondisi akan normal seperti biasa," ujar Sarif.

Pihak Balai Besar Taman Nasional mengimbau kepada para wisatawan yang tengah melewati atau berada di lokasi kejadian (Laut Pasir) tersebut untuk tetap tenang dan waspada. Kerena, kondisi tersebut memang akan menyulitkan mobilisasi karena terhambat oleh aliran air.

"Faktor ketenangan dan kewaspadaan terhadap apa yang terjadi menjadi kunci atau faktor penting dalam menyikapi fenomena banjir di Laut Pasir tersebut," kata Sarif.

Aliran air tersebut, akan bermuara di Blok Mendongan sebelah Barat Laut Pasir atau Timur Laut Blok Watu Kuto, yang selanjutnya akan muncul sumber mata air di Desa Ngadirejo, Sapi Kerep, Wonokerto, Ngadas, dan Umbulan Sukapura.

Bahkan, aliran air tersebut akan sampai ke pemandian Banyu Biru dan Umbulan Lain di Kabupaten Pasuruan yang berada di Kaki Kawasan Bromo Tengger Semeru.

Dalam mengantisipasi cuaca ekstrim yang diprediksi masih akan terus berlanjut di kawasan TNBTS, pihak Balai Besar TNBTS mengimbau agar para pengunjung dan masyarakat yang akan berwisata melewati laut pasir untuk waspada, berhati-hati, dan tidak melewati laut pasir pada musim hujan untuk menghindari terjabak situasi banjir.

Bagi kendaraan agar melewati jalur aman yang sudah tersedia dan tidak membuat jalur-jalur baru, serta memiliki informasi yang cukup mengenai kondisi pada saat berkunjung di kawasan wisata Bromo dan sekitarnya.

"Kami terus menyiagakan personil untuk mengantisipasi kejadian yang tidak dinginkan di dalam kawasan wisata Bromo, serta akan memberikan informasi yang memadai mengenai fenomena atau kejadian yang terjadi di dalam kawasan TNBTS," tutup Sarif.

ANTARA


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT