Puisi: Refleksi Tri Hari Suci
FLORESPOST.CO | 30/03/2018 08:34
Puisi: Refleksi Tri Hari Suci
FOTO: Ilustrasi (Yogen Sogen)

Oleh: Yogen Sogen*

I/ Kamis Putih

 

Sebab anak manusia akan menjadi gandum

Dalam ingauan panjang ilalang dikebas angin jumawa

 

Sebab hari nan panjang

Memiliki rahim waktu

Ia akan mengiris desing detik

Kemudian menggelepar di tanganmu

 

Waktu kian mencekam

Mata-mata menjadi pisau

Menyibak setiap pertanyaan yang mendekam dalam pusaran sabda-Nya

 

Pada pukul yang semestinya

Kehidupan adalah serupa roti yang terbelah

Ia akan menjadi sejarah dalam setiap perjamuan

 

Kepingan kenangan yang begitu puisi adalah;

Pemberian, penyerahan dan keikhlasan atas nama cinta

 

II/ Jumat Agung

Kata-kata adalah pembunuh paling berbisa

Ia ada dalam setiap ruang penyangkalan manusia

 

Kadang kebaikan yang dipentaskan pada setiap persinggahan adalah serupa bukit tengkorak

Ia menggerogoti setiap kedewasaan ruang pikir manusia kemudian berubah menjadi dialog hitam dalam kerajaan kebencian

 

Kota dan manusia terlanjur berdebat dalam babak kecurigaan

Menelanjangi ruang moralitas

Kemudian waktu menjelma menjadi tiang penyaliban

 

_kebaikan sejenak menjadi sejarah basi, terbakar pada tungku kematian_

 

Kita kadang seperti Golgota yang mencekam dan pembunuh paling belati

 

Melanggengkan kekuasaan

Membelenggu sistem dan norma

Menjual manusia tanpa sedikitpun berdialog dengan rasa kemanusiaan

 

Kemudian dalam sebuah laku perjalanan

Kita sama menikam,

Dan ruang kecemburuan atas nama kekuasaan yang kian merengek sebuah nada tanpa rasa dosa terucap; Salibkanlah Dia

 

III/ Sabtu Suci

Tak ada kepergian yang menelanjangi puisi kepulangan

Dan tak ada manusia yang terkubur dalam sejarah kekalahan

 

Jalan manusia selalu ada untuk kembali

Tapak hidup tak pernah membiarkan tangan-tangan kesedihan mencakar tanpa mata

 

Seperti kerinduan anak manusia memeluk kasih ibunya

Seperti lilin malam paskah yang menyublim senyummu di antara kegelapan

 

Yesus Kristus adalah guru kemenangan paling bermakna

Jika jalan terjal acap menyalib puisi kehendakmu

berhentilah sejenak untuk membasuh tapak jalanmu, karena setiap tatapan selalu menyediakan cermin nasib

 

Hingga ruang sadarmu berakhir dalam sengketa kecemburuan hidup menggelamkan dusta

 

_Kemenangan itu mahal harganya jika kesetiaan memanggul salib hidup terus benderang dalam hatimu_

(Malam di beranda puisi, Bogor, 30/03/2018). ***

Yogen Sogen (Foto: Dok. Pribadi)

*)Penulis adalah alumnus Universitas Pakuan Bogor, Penulis Antologi Puisi Nyanyian Savana dan Pengurus Pusat PMKRI Periode 2018/2020.  


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT