Opini: Retorika Politik, Bukan Media Kemunafikan
FLORESPOST.CO | 26/03/2018 12:14
Opini: Retorika Politik, Bukan Media Kemunafikan
Dionisius Ngeta, S.Fil., Asal Nangaroro-Nagekeo, Tinggal di Maumere. (Foto: DOK.Pribadi)

Oleh: Dionisius Ngeta, S.Fil*

  Ucapan dan gaya dalam mengucapkan atau melisankan kata menjadi rangkaian makna yang dikenal dengan retorika demi menarik simpati publik memang dirasa penting agar mengindikasikan kepribadian yang elegan dan piawai. Namun retorika tidak sekedar dijadikan media yang saya sebut sebagai “media kemunafikan”. Artinya kekuatan ber-retorika seseorang mesti diimbangi dengan esensial jiwa akan kejujuran, fakta dan kebenaran isi pesan yang disampaikan kepada komunikan. Retorika politik dalam tahapan Pilkada (kampanye) tidak sekadar menghipnotis publik dengan gaya dan seni berkata-kata demi sebuah elektabilitas dan kemenangan kandidat. Tahapan kampanye harus dijadikan ajang latihan berbudaya, demikian Rocky Gerung, (Kompas,30/5/2009). Semua nilai, norma dan kebiasaan baik digunakan untuk membuat politik dan demokrasi semakin beradab. Retorika politik dalam Pilkada harus dijadikan media dialektika untuk mencari dan mendapatkan fakta dan kebenaran melalui diskusi dan debat dan media bermartabat karena memiliki konten kebenaran, fakta dan kejujuran bukan berisikan kemunafikan-kebohongan yang dikemas rapih dan indah dengan retorika. Retorika adalah Selebrasi Politik Bermartabat Kontestasi Pilkada sering menampilkan pertandingan dengan selebrasi politik yang mendewakan kandidat dengan ber-retorika untuk sebuah pencitraan melalui cara-cara menutup wajah keaslian dan kebenaran agar elektabilitas kandidat bisa ditingkatkan sehingga kemenangan dapat digenggam. Selebrasi politik dengan retorika bermartabat yang menampilkan etika, mengutamakan rasionalitas, dengan konten kejujuran dan kebenaran sering dilupakan. Pilkada seolah-olah hajatan demokrasi instan dengan efek segera mendapatkan simpatisan untuk sebuah kemenangan dengan cara kandidat di-”dewa-dewakan” melalui retorika sehingga tampak luar biasa. Selebrasi sebuah pesta demokrasi yang menampilkan kandidat benar adanya berdasarkan rekam jejak menjadi hal yang mahal didapatkan masyarakat. Sebaliknya politik uang, bersilat lidah, pencitraan dan iming-iming lainnya menjadi hal yang murah dan lumrah diumbar. Pilkada nyaris menjadi hajatan yang menampilkan kandidat dengan selebrasi politik narsistik yang memandang diri atau kandidat jagoannya dengan cara yang berlebihan. Menurut Spencer A. Tahus dan Jeffrey S. Nevil (200) dalam “Abnormal Psychology”, orang yang narsistik memandang dirinya dengan cara yang berlebihan. Mereka senang menyombongkan diri dan berharap orang lain memberikan pujian. Mereka berharap kemenangan dan keberhasilan dalam perlombaan dan usaha tanpa mau proses panjang. Inilah cermin politik artifisial yang dibangun melalui konstruksi citra diri yang berlebihan dengan cara mendewakan kandidat melalui retorika yang berlebihan dan mengabaikan pandangan umum terhadap realitas diri yang sebenarnya. Berbagai titik hitam tentang tokoh, figur, dan partai dikelabui atau ditutup-tutupi bahkan dirasionalisasi untuk mendapatkan persepsi positif publik. Aneka bumbu-bumbu politik dalam kampanye seperti orang yang jujur, enerjik, nasionalis, cerdas, visioner, bersih, tidak berbakat korupsi, tolak tambang, dan masih banyak litania yang dikemas dalam retorika tidak dibangun secara alamia melalui kerja dan karya, rekam jejak dan pemikiran, tindakan dan prestasi politik-birokrasi. Dengan demikian retorika dengan pencitraan tidak lain hanya sebuah “media/alat kemunafikan” sebagai trik politik instan dengan efek segera tanpa menghargai “proses politik” secara alami untuk meyakinkan publik bahwa yang ditampilkan benar adanya berdasarkan rekam jejak, karya, visi dan pemikirannya. Cara-cara itu tidak lain  hanyalah “media kemunafikan” yang menutup wajah asli. Dan apabila proses politik dan selebrasi politisi setiap kali pesta demokrasi yang ditawarkan seperti ini, maka terjun bebas ke dalam jurang kehampaan demokrasi bukanlah sebuah kemustahilan. Demokrasi akan diwarnai dengan pencitraan yang penuh kebohongan, manipulasi dan kepalsuan (democratic nihilism) dengan mengabaikan substansi politik yang sejati, demikian Cornel West (2004). Retorika Mengatakan Kejujuran dan Kebenaran Dalam tulisannya, “Menjadi Guru di Masa Kebangunan”, Soekarno sang orator ulung mengatakan: “Men kan niet onderwijzen wat men will, men kan niet onderwijzen wat men weet, men kan alleen onderwijzen wat men is”. Kira-kira dapat diterjemahkan demikian: ”Manusia tidak bisa mengajarkan sesuatu sekehendak hatinya, manusia tidak bisa mengajarkan apa yang tidak dimilikinya, manusia hanya bisa mengajarkan apa yang ada padanya”. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apa yang diajarkan dan terungkap atau diungkapkan ke ruang publik mestinya adalah apa yang ada padanya. Totalitas dirinyalah yang diungkapkan. Dalam keutuhan diri sebagai makhluk bermartabat, di sana ada kejujuran, ketulusan dan kebenaran mengalir dari dirinya yang paling dalam. Ketulusan dan kebenaran menjadikan para kontestan pribadi luar biasa bukan kemunafikan. Kerja-kerja nyata yang sudah dibuat dalam kejujuran dan kebenaran bagi kepentingan masyarakat menjadikan mereka pribadi luar biasa dan dapat dipercaya. “One action is better than just a million words”. Memberikan atau menunjukkan bukti kepada publik tidak lain adalah menyatakan kebenaran dan fakta atas apa yang pernah dikerjakan kendati kecil/sederhana. Bukan kemunafikan! Akar kemunafikan adalah perbedaan yang begitu tajam antara kata dan tindakan. Benar bahwa dalam retorika ada intonasi dan gerak-gerik tubuh yang menyenangkan mata bahkan sempat merasa seperti di awan-awan karena seni berkata-kata hingga membuat komunikan terlena bahkan kehilangan logika dan akal sehat. Tetapi retorika mesti tidak lepas dari kejujuran dan kebenaran yang ditunjukkan dengan fakta dan rekam jejak. Inilah retorika sejati, bukan retorika yang telah mengalami ”metamorfosis politik”. Karena retorika berasal dari kejujuran yang tulus maka dia senantiasa juga berusaha untuk membongkar setiap hal yang mengandung ketidak-jujuran. Retorika berbicara mengenai kebenaran yang nyata dan itu berarti juga selalu berupaya menyingkap selubung yang menutupi kebenaran. Dengan selubung yang tersingkap maka kebenaran akan nampak dan banyak orang menjadi dapat melihat dan memahami kebenaran dengan jernih. Retorika bukan pernak-pernik dan simulasi, bukan juga make-up dan pencitraan, apalagi laku melodramatik. Retorika adalah “inner beauty”, kecantikan dan kekuatan dari dalam yang mengalir keluar. Maka syarat pertama seorang mampu ber-retorika adalah dia orang yang bebas dan dia yang berani untuk membebaskan diri menentang belenggu yang mungkin mengikatnya dari luar, sehingga kekuatan dari dalam itu dapat mengalir dengan segala dayanya. Mampu beretorika adalah juga penuh keberanian karena ia tidak pernah takut mengeluarkan apa yang ada dalam diri yang paling dalam dan berani menyingkap selubung kebenaran yang ada di hadapannya, apapun resiko yang dihadapinya. Hanya manusia kongkret yang mampu ber-retorika dan manusia menjadi kongkret karena dia tidak pernah lepas dari permasalahan-permasalahan kongkret yang dihadapinya. Maka retorika juga tidak akan pernah lepas dari permasalahan kongkret manusia, yang aktual maupun yang potensial, termasuk dalam hal ini adalah harapan-harapan yang berkembang. Jika telah tersingkapnya selubung yang mengaburkan kebenaran, maka ujung sebuah retorika adalah daya dorong dan daya pikat yang mampu menggerakkan hati masyarakat untuk menjatuhkan pilihan. Karena retorika juga menyentuh harapan dan kebaikan (bonum commune) bersama yaitu sesuatu yang diinginkan untuk dicapai bersama terutama kesejahteraan dan keadilan masyarakat. *** *)Bekerja Di YASBIDA Maumere, Putera Nangaroro-Nagekeo. Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT