Opini: Bonum Commune; Buah Refleksi Politik
FLORESPOST.CO | 25/03/2018 09:54
Opini: Bonum Commune; Buah Refleksi Politik
Fredy Ndalung, Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang. (Foto: DOK. Pribadi)

Oleh: Fredy Ndalung*

  Diskursus tentang politik bukanlah topik abstrak tetapi diskursus yang menyejarah dalam ruang publik keseharian hidup masyarakat. Diskursus tentangnya tidak hanya terjadi di lembaga pendidikan, pemerintahan, tetapi juga terjadi dalam perhelatan keseharian hidup masyarakat. Politik dikenal, diketahui, dialami, dirasakan oleh masyarakat. Karena itu, diskursus tentangnya selalu menjadi aktual. Berbagai ide, perspektif, strategi, merupakan bentukan yang terjadi dalam diskursus politik itu. Keberlangsungan diskursus tentangnya dilatarbelakangi oleh eksistensi politik yang berhubungan dengan orang banyak. Ada pun titik temu dari semua diskrsus itu adalah menyangkut tujuan politik. Tujuan politik adalah kesejahteraan umum (bonum commune). Untuk mencapai tujuan ini tentunya lewat proses politik yang konstruktif. Salah satu cara konstruktif mencapai tujuan itu adalah perlunya merefleksikan hakikat politik itu. Aktivitas Politik Aktivitas politik tentunya bukan turun langsung dari langit. Politik lahir dari sejarah perhelatan keseharian hidup manusia. Karena itu, politik merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan oleh manusia bukan oleh para malaikat. Manusia dalam perspektif filosofis eksistensialis adalah dia yang berada dalam dunia dan mengalami dirinya dalam dunia bukan di dunia abstrak. Maka menjadi jelas bahwa aktivitas politik terjadi dalam sejarah dunianya, terjadi dalam keseharian masyarakat, terjadi dalam kehidupan bersama. Aristoteles melihat kodrat manusia sebagai mahluk sosial dan mahluk polis (zoon politikon). Karena itu, kodratnya terungkap bukan dalam kesendirian tetapi dalam comunio, dalam tata kelola kebersamaan. Ketika Aristoteles berbicara tentang politik maka baginya politik itu adalah aktivitas agung dari mahluk yang bernama manusia yang berlangsung dalam kebersamaan, polis. Dalam hubungan dengan itu, profesor Armada Riyanto, mengatakan “politik adalah cetusan kesempurnaan kodrat sosialitas, rasionalitas, sekaligus moralitas manusia”. Kesempurnaan yang dimaksudkannya adalah kemanusiawian. Kemanusiawian memiliki makna manusiawi ketika manusia mengintegrasikan dirinya dalam tata kelola hidup bersama. Dengan demikian, aktivitas politik yang dilakukan oleh manusia juga harus menampilkan kodratnya, tujuan awalinya. Seperti yang telah dikatakan bahwa aktivitas politik tidak pernah terjadi di luar sebuah peradaban atau masyarakat tetapi dalam peradaban itu sendiri maka tujuan asli politik harus menyentuh peradaban. Peradaban bukanlah milik segelintir orang tetapi semua orang yang berada dalam peradaban itu. Kepada mereka tujuan politik berkarakter “kodrati” itu harus memihak. Dalam hal ini, semua orang harus diperlakukan adil, benar, sesuai dengan maksud politik itu. keberpihakan pada segelintir orang, politik itu akan menjadi naif. Perlunya Refleksif Politik  Sokrates pernah mengatakan hidup yang tidak direfleksikan adalah mati. Agar hidup itu sungguh hidup maka perlulah direfleksikan. Refleksi yang dilakukan bertujuan untuk menemukan hakikat dari hidup itu sendiri. Prof. Armada Riyanto dalam bukunya Filsafat Politik mengatakan “aktivitas refleksif mengukir martabat manusia, sebuah pencaraian kedalaman dan kebenaran”. Dengan itu, kehidupan manusia akan menemukan maknanya yang utuh. Sehingga bersama Heidegger kita melihat hidup keseharian manusia adalah kehidupan penuh makna atau lapangan pencaharian hidupnya. Politik pun perlulah direfleksikan. Berangkat dari pemikiran Armada Riyanto akan tujuan aktivitas refleksi maka  refleksif politis yang dilakukan untuk mencari kedalaman dan kebenaran yang terkandung dalam politik itu sendiri sekaligus akan mengukir martabat manusia yang menjalankan politik itu. Hal ini berangkat dari eksitensi politik yang tidak terlepas dari hidup manusia sebagai pelaku politik. Manusialah yang mengukir atau melaksanakan politik itu. Dengan hal itu, politik dituntun ke arah yang diharapkan oleh semua manusia. Tanpa refleksi atas politik akan membawa politik pada kenaifan. Lewat jalan refleksif politis, aktivitas politik yang dilakukan oleh manusia akan dituntun kepada kebenaran dan kedalaman. Aktivitas politik tidak hanya sebuah bahasa sepkulatif tetapi lebih dari itu politik berjalan dalam rasionalitas yang menegakkan moralitas dan kesejahteraan sosialitas. Dengan demikian, politik menyentuh kehadiran manusia sebagai subjek yang rasional, sosial, dan bermoral. Dan pada akhirnya membangun sebuah peradaban yang harmonis dan sejahtera. Kehadiran politik tidak terlepas dari peradaban manusia. Karena itu, pencetusan konkret dari aktivitas politik itu adalah ruang publik keseharian manusia, dalam kehidupan bersama, dalam peradaban manusia. Hadir dalam konteks manusia yang berpengharapan akan adanya keharmonisan dalam hidupnya teristimewa yang dijamin oleh poltik. Dalam hal ini, para pelaku politik menampilkan diri sebagai seorang “pelayan” yang siap menanggapi dan mewujudkan aspirasi masyarakat. Dia membawa nilai dasar politik dalam kebijakkan yang diambil dengan kejujuran, transparan, dan memihak masyarakat. Dengan demikan, politik dan pelaku politik berada dalam the sense of fullness sebagaimana yang dikatakan oleh Charles Toyler. Bonum Commune Buah Refleksi Politik Kehadiran politik dalam masyarakat atau sebuah peradaban berorientasi pada kesejahteraan umum (bonum commune). Tujuan ini merupakan sebuah keniscayaan dari eksistensi politik yang kodrati, yang terkandung dalam tubuh politik itu sendiri. Bonum commune merupakan sebuah istilah yang membahasakan sebuah kehadiran manusia dalam suatu peradaban tertentu. Istilah ini, kalau dilihat lebih dalam mengungkapkan kerinduan manusia yang dari kodratnya mengingini sebuah keharmonisan dalam kebersamaan dengan yang lain. Kembali kepada Thomas Hobb yang melihat manusia sebagai pribadi yang liar, berambisi, egois, tidak mau disaingi. Sifat-sifat itu ada dalam diri setiap manusia. Baginya untuk mengatasi hal itu, maka perlu membentuk suatu wadah yang membatasi sifat manusia yang kemudian di sebut sebagai negara. Dengan berbagai aturan dan norma negara “mengambil sebagian” sifat manusia itu dengan maksud agar manusia berada dalam suatu situasi pengontrolan diri, tidak menjadi serigala bagi sesamanya. Pembatasan ini tentunya tidak merugikan manusia itu tetapi untuk menjamin sebuah kesejateraan bersama. Dengan demikian, bonum commune itu adalah sesuatu memang harus ada dalam ruang gerak politik sebab itulah tujuan utama dari politik itu yaitu untuk masyarakat bukan untuk diri sendiri, kelompok, keluarga dan sebagainya. Manusia adalah mahluk yang sadar akan dirinya, akan sesamanya. Kesadaran itu suatu yang niscaya ada dalam setiap pribadi manusia. Rene Decartes mencetuskan cogito ergo sum pertama-tama mau mengatakan kesadaran ini. Orang yang tidak memiliki kesadaran adalah orang yang “tidak ada” karena dia tidak mampu menyadari dirinya, sesama dan situasi lingkungannya. Bonum commune tidak terlepas dari kesadaran ini. Bonum commune selalu dalam hubungan dengan kesadaran ini. Bonum commune niscaya tercipta tan adanya kesadaran. Dalam hal ini, para politikus yang terlibat langsung dalam dunia politik menjadi pencetusnya. Kesadaran para politikus turut menentukan eksitensi bonum commune mengakar dan menyapa masyarakat atau sebuah peradaban. Namun, kesadaran ini tidak akan muncul dengan sendiri kalau manusia (politikus) tidak merefleksikan dirinya. Refleksi merupakan aktivitas budi manusia yang mengeksplorasi keluhuran martabatnya dan keluhuran hidup bersamanya. Maka refleksi itu penting bagi para politikus untuk menyadari dengan sungguh keberadaan dirinya sebagai penjamin kesejahteraan umum. Tujuan politik akan tercapai kalau para politikus merefleksikan politik itu sendiri. Refleksif politik untuk membangun kesadaran akan kedalaman dan kebenaran yang ada dalam tubuh politik itu sendiri. Kesadaran politis inilah yang akan membangun bonum commune itu. Dalam hal ini, tujuan politik itu bukan untuk kepentingan diri sendiri, kelompok, keluarga, sahabat, selingkuhan dan sebagainya tetapi untuk membangun kesejahteraan umum (bonum commune). Dengan demikian, kesadaran inilah yang menjadi basic pergerakkan politik menuju sebuah tujuan mulia politik itu. Dalam konteks inilah kita akan memberanikan diri dan penuh kebanggaan mengatakan kesejahteraan umum di atas segalanya, kepentingan umum adalah moral bangsa, kepentingan umum adalah kehendak masyarakat, kepentingan umum adalah politik yang jujur. Di samping itu, dengan berani kita bisa menolak tawaran dunia yang sifatnya konsumtif lewat berbagai tindakan korupsi, nepotisme, kolusi dan sebagainya. Harapan Kita tengah memasuki tahun politik. Tahun politik merupakan moment di mana rakyat akan memilih pemimpinnya. Tentu harapan masyarakat bahwa pemimpin yang terpilih akan menjadi penyalur dan perealisasi aspirasi mereka yaitu kesejahteraan. Oleh sebab itu, refleksi politik membantu para pemimpin terpilih untuk bertindak bijak menanggapi aspirasi rakyatnya. *** *)Penulis adalah Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang, Asal Flores – NTT. Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT