Bundesliga, Liga Primer Inggris Setengah Hati, dan Amor Fati
TEMPO.CO | 17/05/2020 19:56
Pemain Chelsea Marcos Alonso berebut bola dengan pemain Liverpool James Milner saat bertanding dalam Babak Keempat Piala FA di Stamford Bridge, London, Inggris, 3 Maret 2020. Chelsea berhasil menang dengan skor 2-0. Reuters/John Sibley
Pemain Chelsea Marcos Alonso berebut bola dengan pemain Liverpool James Milner saat bertanding dalam Babak Keempat Piala FA di Stamford Bridge, London, Inggris, 3 Maret 2020. Chelsea berhasil menang dengan skor 2-0. Reuters/John Sibley

TEMPO.CO, Jakarta - Kalau anda hobi dengan olahraga mendaki gunung ada ucapan bernada sinis yang sudah lama menjadi klasik bahwa kegiatan ini adalah pekerjaan bodoh. Pelakunya adalah amor fati, orang yang mencintai kematian. Sekarang sebagian pemain di Liga Primer Inggris dikabarkan tak nyaman kalau liga dilanjutkan di masa pandemi virus corona, sebab urusannya tak cuma kesehatan, tapi juga soal hidup dan mati.

Amor fati adalah cinta dan takdir. Cinta terhadap takdir. Mengapa anda suka naik gunung? “Because its there,” sebuah frasa kalimat legendaris yang diucapkan Edmun Hilarry ketika ia dan Tenzing Norgay mendaki puncak gunung tertinggi di dunia, Mount Everest di Pegunungan Himalaya 1953.

Mengapa anda suka berlelah-lelah naik gunung? “Because its there.” Sebab keindahan takdir ada di sana.

Sekarang ketika Bundesliga Jerman sudah berlangsung lagi pada Sabtu dan Minggu ini, 16 dan 17 Mei 2020, dengan segala situasi baru, yaitu bola disemprot cairan disinfektan lebih dulu, pemain dilarang bersalaman, pemain di bangku cadangan harus menjaga jarak satu sama lain, harus memakai masker, serta pemeriksaan temperatur sebelum pertandingan,  sebagian pemain Liga Primer Inggris masih bersikap setengah hati mau main lagi atau tidak.  

Dalam pertandingan di stadion yang megah tapi tanpa penonton dan melalui produser pemeriksaan kesehatan yang sangat ketat, tidak ada jaminan mutlak bahwa para pemain Bundesliga Jerman itu terbebas sepenuhnya dari pandemi virus corona.

Apakah para pemain dan pengelola Bundesliga Jerman itu nekat sampai mempertaruhkan nyawa? Jawabannya, “Because its there.” Sebab, mereka mencintai sepak bola dan karena sudah menjadi pemasukan nafkah, industri harus tetap jalan meski keuntungan akan jauh berkurang karena tanpa penonton.

Di Liga Primer Inggris persoalannya terkesan masih rumit dan penuh hal-hal yang bersifat kontradiktif. Padahal pandemi virus corona bisa berlangsung sangat lama sebelum vaksinnya ditemukan. Mau dilanjutkan lagi seperti Bundesliga Jerman atau disudahi seperti Liga Belanda, Liga Prancis, dan Liga Belgia?

Dalam proyek yang bernama Project Restart Liga Primer Inggris 2019-2020 ditargetkan akan digelar pada 12 Juni atau 19 Juni 2020. Tapi, soal tempat netral dan komitmen para pemainnya masih setengah hati.

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp, sudah menegaskan kepada BBC Sport bahwa mereka siap bermain dan karena mereka pertama-tama mencintai sepak bola, main tanpa penonton bukan persoalannya.

“Permainan sepak bola akan tetap indah,” kata Jurgen Klopp yang dulu indentik dengan salah satu klub raksasa Bundesliga, Borussia Dortmund.

Belum jelas benar apakah pernyataan Jurgen Klopp itu disepakati kapten Liverpool, Jordan Henderson. Juga belum jelas, apakah Henderson bersikap sama seperti Sergio Aguero dan Willian yang mengkhawatirkan untuk bisa main lagi karena urusannya tak hanya pada diri mereka tapi juga kepada keluarganya di rumah?

Pada saat Bundesliga Jerman sudah dimulai lagi, dengan segala keabnormalan yang menjadi situasi baru di sepak bola masa masa pandemi, kelanjutan Liga Primer Inggris masih seperti akan melepas serombongan pendaki gunung yang hendak menalukkan Mount Everest. Hidup dan mati dipertaruhkan.

 

 

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT