Skandal Suap FIFA Untuk Piala Dunia 2018 dan 2022 Terkuak Lagi
TEMPO.CO | 07/04/2020 08:48
Sepp Blatter berjalan meninggalkan ruang jumpa pers di markas FIFA di Zurich, Swiss, 3 Juni 2015. Blatter mundur setelah badan sepak bola dunia tersebut diguncang skandal korupsi. VALERIANO DI DOMENICO/AFP/Getty Images
Sepp Blatter berjalan meninggalkan ruang jumpa pers di markas FIFA di Zurich, Swiss, 3 Juni 2015. Blatter mundur setelah badan sepak bola dunia tersebut diguncang skandal korupsi. VALERIANO DI DOMENICO/AFP/Getty Images

TEMPO.CO, Jakarta - Skandal suap di tubuh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) kembali terkuak. Dokumen pengadilan di Amerika Serikat menyebutkan sejumlah orang menerima suap untuk pemenangan Rusia dan Qatar sebagai Piala Dunia 2018 dan 2022.

Dalam dokumen yang diterbitkan pada Senin 6 April 2020 waktu setempat disebutkan sejumlah anggota Komite Eksekutif FIFA menerima suap hingga jutaan dolar Amerika.

Tudingan pertama mengarah pada mantan Presiden Concacaf, Jack Warner. Pria asal Trinidad an Tobbago tersebut menerima hingga 5 juta dolar Amerika untuk memenangkan Rusia dalam pemilihan Piala Dunia 2018.

Dokumen tersebut secara gambalang menyebutkan bahwa Warner menerima uang tersebut dari sejumlah perusahaan cangkang di Anguilla, Siprus dan British Virgin Island.

Eks Presiden Federasi Sepak Bola Guatemala, Rafael Salguero, juga disebut menerima suap senilai 1 juta dolar Amerika dari Rusia.

Tak hanya itu, eks Presiden Conmebol Nicolas Leoz dan eks Presiden Asosiasi Sepak Bola Brasil Ricardo Teixeira juga disebut menerima suap untuk memenangkan Qatar pada pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022.

Dari keempat nama tersebut baru Salguero yang telah menjalani pengadilan dan dinyatakan bersalah dalam dua kasus suap lainnya serta pencucian uang. Salguero diadili di Amerika Serikat pada 2018.

Nicoas Leoz dikabarkan telah meninggal pada Agustus lalu sementara Warner dan Teixeira belum dapat diadili karena Amerika Serikat tak berhasil mengekstradisi keduanya dari negara masing-masing. 

Meskipun demikian, tak dijelaskan siapa pihak pemberi suap kepada keempat nama tersebut. 

Dokumen pengadilan ini memperpanjang daftar petinggi dunia sepak bola yang terlibat dalam skandal suap FIFA. Sejak 2015, setidaknya terdapat 26 petinggi FIFA yang saat ini sudah tidak menjabat, yang disebut terlibat dalam skandal suap tersebut.

Selain untuk pemilihan tuan rumah Piala Dunia, Amerika Serikat sebelumnya juga telah menjatuhkan hukuman terhadap petinggi perusahaan penyiaran FOX, Hernan Lopez dan Carlos Martinez. Keduanya disebut bertanggung jawab dalam kasus penyuapan terhadap petinggi Conmebol untuk mendapatkan hak siar pada Piala Dunia 2018 dan 2022. Tak hanya itu, mereka juga disebut melakukan suap kepada sejumlah petinggi Conmebol lainnya untuk memenangkan hak siar Copa Libertadores.

Pada pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018, Rusia mengalahkan Inggris yang juga mengajukan diri. Sementara pada Piala Dunia 2022, Qatar mengalahkan Amerika Serikat.

GUARDIAN|THE SUN


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT