Van Gaal Tolak Ajax Juara Jika Eredivisie Disudahi, Dendam Lama?
TEMPO.CO | 05/04/2020 10:32
Pelatih Manchester United, Louis van Gaal melakukan selebrasi bersama anak asuhannya, Anthony Martial usai berhasil menang atas Everton dalam laga semi final Piala FA di stadion Wembley, Inggris, 23 April 2016. Kemenangan tim Setan Merah berhasil membawan
Pelatih Manchester United, Louis van Gaal melakukan selebrasi bersama anak asuhannya, Anthony Martial usai berhasil menang atas Everton dalam laga semi final Piala FA di stadion Wembley, Inggris, 23 April 2016. Kemenangan tim Setan Merah berhasil membawanya melaju ke final Piala FA. AP Photo/Kirsty Wigglesworth

TEMPO.CO, Jakarta - Louis van Gaal yang membawa Ajax Amsterdam memenangi Liga Champions 1994-1995 dan Piala UEFA 1991092 menilai tidak masuk akal jika Ajax dinobatkan sebagai juara musim ini, setelah sejumlah klub divisi tertinggi Liga Belanda, Eredivisie, mendesak agar musim 2019-2200 ini dibatalkan.

Sebelum Eredivise dihentikan akibat pandemi virus corona pada 12 Maret 2020, Ajax memuncaki klasemen sementara berkat keunggulan selisih gol atas AZ Alkmaar. Kedua tim itu mengoleksi poin yang sama setelah memainkan 25 pertandingan, yakni 56 poin.

"Pemenang olahraga ditentukan di atas lapangan. Bukannya mengatakan setelah memainkan 25 pertandingan, kita memangkasnya, dan Ajax menjadi juara. Siapapun yang merasa dirinya atlet tentu paham apa yang saya maksud," kata Van Gaal seperti dikutip harian AD.

"Jika virus corona telah dikalahkan, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menyelesaikan kejuaraan saat ini," pelatih yang membawa Belanda merebut peringkat ketiga Piala Dunia 2014 ini menambahkan.

Sebelumnya, klub-klub papan seperti AZ, PSV Eindhoven, dan Ajax telah meminta agar musim ini dibatalkan. Mereka merasa jengkel dengan keputusan Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB) yang menyatakan akan patuh pada keputusan badan sepak bola Eropa, UEFA, untuk menyelesaikan musim ini.

Van Gaal bilang geram karena sejumlah klub menggunakan isu kesehatan yang berujung pada meneruskan atau menghentikan kompetisi demi keuntungan masing-masing.

"Pemerintah mengikuti ketentuan-ketentuan dari RIVM (Institut Kesehatan Publik dan Lingkungan Belanda) selama berpekan-pekan, namun beberapa klub sepak bola tiba-tiba mengatakan itu (meneruskan kompetisi) adalah hal yang mustahil. Ajax yang pertama (mengungkapkannya)," tegas Van Gaal.

"Siapa yang tidak ingin bermain? Periksalah, klub-klub itu sekarang berada di posisi Eropa, kecuali Feyenoord, dan klub-klub di zona degradasi," ujar mantan pelatih Manchester United itu.

"Klub-klub menggunakan krisis corona untuk keuntungan masing-masing dan kemudian membuat pernyataan publik. Saya tidak terima," kata Van Gaal.

Pernyataan Louis van Gaal diperkirakan akan memunculkan perdebatan. Posisinya di Ajax selama dipandang dari dua sudut pandang yang berbeda. Sebagian menyanjung Van Gaal. Tapi, sebagian lain mengecamnya.

Bahkan, pada suatu masa, ketika Louis van Gaal, hendak kembali menangani Ajax, Johan Cruyff memotori belasan legenda klub ini untuk mengajukan mosi tak percaya kepada kepemimpinan mantan pelatih Manchester United ini.

ANTARA | FOOTBAL ORANJE | DAILY MAIL


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT