Akankah Jadwal Bola Eropa Bergulir Lagi di Tengah Pandemi Corona?
TEMPO.CO | 21/03/2020 11:27
Penyerang Manchester United Anthony Martial, berusaha merebut bola dari kiper Manchester City Ederson yang melakukan blunder dalam pertandingan Liga Inggris di Old Trafford, Manchester, 9 Maret 2020. REUTERS/Phil Noble
Penyerang Manchester United Anthony Martial, berusaha merebut bola dari kiper Manchester City Ederson yang melakukan blunder dalam pertandingan Liga Inggris di Old Trafford, Manchester, 9 Maret 2020. REUTERS/Phil Noble

TEMPO.CO, Jakarta - Tak akan jadwal bola yang bergulir di tiga liga besar Eropa --Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Spanyol-- hingga akhir April. Ada optimisme di kalangan penggiat bola bahwa kompetisi akan bisa diselesaikan di tengah pandemi virus corona, namun seorang ahli virus asal Jerman meragukan dan menentang hal itu.

Liga Inggris sudah memutuskan untuk menunda kembali jadwal hingga 30 April. Itu berarti mundur dari tenggang waktu semula, yakni awal April.

Dalam pertemuan Kamis pekan ini, 18 Maret lalu, asosiasi sepak bola Inggris (FA) bersama pemangku kepentingan sepak bola negara itu memutuskan penundaan kedua jadwal tersebut. Mereka juga memutuskan untuk menuntaskan pekan ini tanpa batas waktu.

Liga Italia dan Liga Spanyol belum memperbaharui putusannya yang menunda kompetisi hingga awal April. Namun, melihat perkembangan COVID-19 di negara tersebut, jadwal kemungkinan belum akan bisa digelar pada awal bulan depan.

Presiden La Liga Spanyol Javier Tebas sudah memberi isyarat soal penentuan jadwal di bawah organisasinya. Ia meyakini bahwa liga dan kompetisi top Eropa bakal kembali bergulir pada pertengahan Mei menyusul penundaan Piala Eropa 2020.

"Ada 30 liga yang terkena dampak, 30 turnamen piala dan kami harus mengoordinasikan setiap jadwal di tingkat nasional dan internasional," ujar Tebas yang dikutip BBC pada Jumat.

Ia melanjutkan, "Pada pertengahan Mei kami harus kembali dengan seluruh kompetisi Eropa. Bila keadaan memungkinkan, kami bisa melanjutkanya (kompetisi). Kita harus bekerja sama."

Sebelumnya, Ketua Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) Gabriele Gravina menyatakan harapannya agar Liga Italia akan dapat kembali diteruskan pada 2 Mei dan berakhir paling lambat pada Juli.

"Saya tidak mau berpikir bahwa kami tidak akan memulainya (Liga Italia) lagi, itu akan menjadi hiatus, itu akan menjadi kecemasan saya bagi negara kami," kata Gravina kepada radio Italia seperti dikutip AFP.

Ia melanjutkan, "Kami mengerjakan hipotesis untuk memulai kembali pada 2 Mei dan menyelesaikan kejuaraan pada Juli jika kami tidak menyelesaikannya pada 30 Juni."

Gravina kemudian menyatakan bahwa seandainya rentang waktu tersebut gagal digunakan, pihaknya berencana mengubah format kompetisi.

Karena pandemi virus corona, UEFA sebelumnya juga sudah mengundurkan jadwal final Liga Champions dan Liga Europa dari Mei ke 24 dan 27 Juni 2020.

Optimisme soal berlanjutnya kompetisi yang disuarakan orang-orang dari dunia sepak bola itu tak sepenuhnya disepakati pihak luar. Virolog asal Jerman, Jonas Schmidt-Chanasit, meragukan kompetisi sepak bola di Eropa bisa berlanjut tahun ini.

Profesior dari Institut Bernhard-Nocht, Hamburg, itu menilai sangat kecil kemungkinannya sepak bola bisa dimainkan lagi sebelum musim dingin.

"Kita semua melihat situasi di Eropa saat ini dan apa yang masih harus kita hadapi, bahkan jika hal itu tidak berlangsung parah, bukan berarti kompetisi sepak bola bisa berlanjut," kata Schmidt-Chanasit dilansir laman OneFootball, Jumat.

Baginya, yang teraman bagi masyarakat adalah menghentikan sepak bola di tahun ini. "Kembali digelarnya kompetisi sepak bola akan memperburuk situasi secara signifikan," katanya. "Pun jika pertandingan dimainkan tanpa penonton, itu akan memicu orang berkumpul lagi dan menyaksikannya secara bersama-sama." 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT