Kemenpora Rapat dengan Satgas Antimafia Bola, Ini yang Dibahas
TEMPO.CO | 19/02/2020 00:51
Kepala Satgas Antimafia Bola Polri Brigadir Jenderal Hendro Pandowo saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 18 Februari 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah
Kepala Satgas Antimafia Bola Polri Brigadir Jenderal Hendro Pandowo saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 18 Februari 2020. TEMPO/M Julnis Firmansyah
TEMPO.CO, Jakarta - Satgas Antimafia Bola dan Kementerian Pemuda dan Olahraga menggelar rapat untuk membahas penanganan pengaturan skor dalam sepak bola Indonesia di gedung Polda Metro Jaya pada Selasa, 18 Februari 2020.

Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto mengatakan pertemuan itu merupakan tindak lanjut dari pertemuan Kepala Satgas Antimafia Bola, Brigadir Jenderal Pandowo dengan Menpora Zainudin Amali pada 10 Februari lalu. "Tujuannya untuk saling share informasi dan pengalaman dalam membantu penanganan pengaturan skor," kata Gatot dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 18 Februari 2020.

Menurut Gatot, dalam rapat itu, Kepala Satgas Antimafia Bola Polri Jilid III menjelaskan evaluasi terhadap kinerja Satgas Antimafia Bola Jilid I dan II. Selanjutnya, Satgas akan mengundang pihak-pihak lain yang dapat diajak berkoordinasi untuk menunjang kinerja mereka.

Dalam kesempatan itu, Gatot juga memberikan penjelasan mengenai pengalamannya saat bersama Tim-9 pada awal tahun 2015 membahas masalah pencegahan pengaturan skor. Pada saat itu, dugaan terjadi pengaturan skor sudah marak sekali. Hal itu menjadi salah satu alasan dilakukan pembekuan PSSI.

"Kemenpora sangat berharap agar Satgas Antimafia Bola Polri dapat lebih tuntas dalam mengatasi mafia bola tanpa Kemenpora harus membekukan PSSI, karena sejauh ini pengurus PSSI kooperatif bersama Kemenpoda dan Polri dalam mengatasi mafia bola," ujarnya.

Kemenpora, kata Gatot, meminta Satgas untuk mengambil pelajaran dari cara yang diambil beberapa negara dalam mengatasi mafia bola.

Sesmenpora menuturkan mempunyai pengalaman bertandang ke kantor La Liga Spanyol pada akhir Mei 2015. Menurut dia, dalam kebijakan sepak bola tidak perlu ragu-ragu bersinergis antara pemerintah, federasi, operator pertandingan dan setiap klub.

"Mereka bisa terikat pada suatu pakta integritas bersama tanpa harus mengganggu independensi PSSI, karena jika itu terganggu, dapat dianggap melanggar Statuta FIFA," katanya.

Hal paling penting, kata dia, PSSI diminta konsisten pada Statuta FIFA, terutama yang menyangkut hak, kewajiban dan batasan kepemilikan klub.

IRSYAN HASYIM


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT