Resep Rukun ala Suporter PSS Sleman di Laga Kandang dan Tandang
TEMPO.CO | 17/08/2019 06:40
Suporter PSS Sleman, brigata curva sud. twitter.com
Suporter PSS Sleman, brigata curva sud. twitter.com

TEMPO.CO, Yogyakarta - Wadah suporter militan tim Liga 1 PSS Sleman, Slemania, bisa jadi satu potret pendukung klub sepakbola negeri ini yang tak punya banyak musuh. Mengendalikan satu per satu emosi manusia di tengah panasnya atmosfer kompetisi tentu bukan hal mudah. Slemania punya kiat jitu menjaga kerukunan dengan suporter klub lain.

Bagaimana upaya suporter Slemania menjaga kerukunan layak menjadi salah contoh. Kami menyertakannya dalam bagian dari Liputan Khusus HUT RI ke-74 yang bertema "Keberagaman Yes, Intoleransi No."

Asep Handi Kurniawan, pentolan Slemania, mengungkapkan salah satu kuncinya adalah saling mengingatkan. "Kami hanya tak pernah berhenti saling mengingatkan satu sama lain," ujarnya kepada Tempo Kamis 15 Agustus 2019.

Pria yang menjabat Presidium Slemania itu menuturkan, sikap mengingatkan mungkin hal sepele namun terbukti manjur. Ia mencontohkan ketika laga PSS menjamu Persija Jakarta di Stadion Maguwoharjo pada Juli lalu. Saat itu, tim tuan rumah kalah 0-1, tapi suporter kedua klub tetap berbagi tribun menyaksikan pertandingan dengan riang gembira.

Bahkan, dia melanjutkan, Jakmania-sebutan untuk suporter Persija, tak langsung kembali ke Ibu Kota. Mereka masih menyempatkan nongkrong ngopi bareng di sudut utara stadion bersama Slemania.

Pendukung Persebaya Surabaya, Bonek, yang selama ini dicap beringas, kata Asep, saat menonton klub kesayangannya main melawan PSS, Juli lalu, juga adem ayem. Mereka duduk manis menonton di tribun sambil sahut-sahutan yel-yel meski ketika itu timnya kalah 2-1.

Polisi sempat khawatir bakal terjadi rusuh. Karena itu, kepolisian setempat merekomendasikan untuk tidak memberikan jatah untuk Bonek saat PSS menjamu Persebaya. Meski begitu, pendukung fanatik Persebaya tetap mendominasi tribun.

"Kami, suporter, tak pernah mengusulkan larangan suporter lain untuk datang membela timnya," ujarnya.

Tak hanya mengelola kerukunan dengan suporter klub lain. Kerukunan di internal suporter klub PSS sendiri juga dipelihara. Apalagi, ada seratusan laskar yang bernaung di bawah bendera Slemania yang tersebar di 17 kecamatan di Kabupaten Sleman. Jumlahnya lebih dari 3.000 anggota.

Menurut Asep, untuk menjaga kerukunan di internal suporter PSS, dilakukan dengan berbagai kegiatan yang dikoordinir tiga zona wilayah pendukung, yaitu barat, tengah, dan timur. Ada 50an koordinator lapangan yang mengurusi laskar-laskar itu. Para laskar itu bertemu dengan anggitanya tiap tiga bulan sekali untuk membicarakan apa yang menjadi aspirasi dan rencana kegiatan.

Ketika PSS menggelar laga kandang atau tandang, Slemania tak sungkan menjalin komunikasi dengan pentolan suporter lawan, baik melalui telepon atau bertemu jauh-jauh hari sebelum hari pertandingan. Biasanya sebelum atau setelah pertandingan, suporter kedua klub menggelar silaturahmi.

Namun kenyataan di lapangan tetap saja ada riak-riak yang muncul. Saat PSS menekuk Arema FC 3-1 di Stadion Maguwoharjo pada pertandingan Liga 1, Mei lalu, terjadi kericuhan antarsuporter, Slemania dan Aremania. Laga yang disaksikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha sempat dihentikan sementara karena terjadi aksi melempar baru di tribun penonton merembet ke lapangan. Belasan suporter kedua tim mengalami luka-luka.

Kala itu, Asep dan anggota Slemania lainnya bertahan di stadion hingga dinihari membantu Aremania membereskan dampak dari kericuhan itu, termasuk membantu mengeluarkan kendaraan bermotor suporter yang masih tertinggal di stadion akibat kericuhan.

Setelah kejadian itu, keesokan harinya, Asep mewakili Slemania menghubungi pengurus Aremania melalui video call demi meminta maaf. "Kami kaget sekali saat itu bisa terjadi ricuh. Kami merasa gagal menjadi tuan rumah yang baik, karena sebelumnya tak pernah ada masalah," ujarnya.

Asep mengakui, tugas mengendalikan suporter kini makin berat. Perkembangan sosial media berpotensi memicu gesekan suporter di lapangan. Karena itu, pihaknya tak henti memonitor agar tidak terjadi perang urat syarat antarsuporter di media sosial menjelang pertandingan yang berpotensi membakar emosi saat pertandingan.

Saat ini, Asep menambahkan, Slemania masih mempunyai pekerjaan rumah yang belum selesai, yaitu mewujudkan rekonsiliasi dengan saudara serumahnya, yakni pendukung PSIM Yogyakarta, baik dari ordo Brajamusti maupun Mataram Independent alias Maiden. Persaingan panjang dua klub di satu provinsi ini membuat pendukungnya masih belum bisa berbagi tribun stadion saat masih sama sama berlaga di Liga 2.

"Insya Allah komunikasi silaturahmi Slemania dengan pengurus Brajamusti dan Maiden masih terjalin baik. Kami sering duduk bersama, ini yang terus kami tularkan ke para laskar, agar juga akur," ujarnya

Pentolan Slemania ini mengingatkan kepada semua anggota suporter bola dari berbagai klub, jangan lagi mempertahankan gesekan antarsuporter. Sebab, itu hanya merugikan klub dan berpotensi memakan korban. "Sudahlah, kita sudahi konflik suporter ini. Apalagi kita semua satu darah," ujarnya.

PRIBADI WICAKSONO


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT