Arema FC Vs Persebaya: Green Force, Jangan Takut Main di Malang
TEMPO.CO | 11/08/2019 17:35
Pemain Arema FC Makan Konate (kiri) berebut bola dengan pemain Persebaya Surabaya Abu Rizal Maulana (kanan) dalam laga final Piala Presiden 2019 di stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat, 12 April 2019. Gol pertama Arema dicetak oleh Ahmad Hardianto
Pemain Arema FC Makan Konate (kiri) berebut bola dengan pemain Persebaya Surabaya Abu Rizal Maulana (kanan) dalam laga final Piala Presiden 2019 di stadion Kanjuruhan Malang, Jawa Timur, Jumat, 12 April 2019. Gol pertama Arema dicetak oleh Ahmad Hardianto pada menit ke-43. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah spanduk besar dibentangkan suporter Bonek seusai pertandingan Persebaya melawan Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu, 10 Agustus 2019, yang berakhir 2-2 dalam lanjutan Liga 1.

Spanduk itu bertuliskan, “Jangan takut main di Malang.” Persebaya memang akan bermain di Malang pada Kamis mendatang, 15 Agutus, dalam pertandingan derby Jawa Timur paling menegangkan dan paling seru, yaitu melawan Arema FC.

Pada pertemuan terakhir, dalam laga kandang dan tandang, Arema FC berhadapan dengan Persebaya pada babak final Piala Presiden 2019. Arema FC mengimbangi Persebaya di Gelora Bung Tomo dan kemudian mengalahkan Green Force di Stadion Kanjuruhan, Malang.

Pertandingan itu berjalan lancar dan tertib, meski tetap ada ketakpuasan di sana-sini dan suporter Persebaya, Bonek, dimbau untuk tidak datang ke Malang. Begitu juga sebaliknya buat Aremania.

Pada pertadingan Kamis mendatang, situasi lebih berat disandang Persebaya karena mereka baru saja memecat pelatih kepalanya, Djadjang Nurdjaman.

Asisten pelatih Persebaya, Bejo Sugiantoro, akan memimpin tim melawan Arema FC dalam laga derby Jatim di Malang, Kamis nanti. Manajemen Persebaya mengakhiri kontrak pelatih kepala Djadjang Nurdjaman pada Sabtu malam ini, 10 Agustus 2019, seusai Bajul Ijo ditahan imbang 2-2 Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo.

Itu adalah hasil seri kelima Persebaya di kandang dan juga memperpanjang hasil minor Persebaya dalam tujuh pertandingan terakhir, yaitu sekali menang, empat kali seri, dan dua kali kalah.

’’Evaluasi ini sudah disampaikan beberapa laga sebelumnya. Tapi, kami memberikan kesempatan kepada pelatih untuk memperbaiki performa tim. Dan, ternyata kami tak kunjung meraih hasil memuaskan,’’ kata Manajer Persebaya Candra Wahyudi.

Djanur sendiri menerima semua keputusan manajemen. Dia menyatakan bertanggung jawab atas performa Persebaya.

Djanur sebenarnya pelatih yang bagus. Musim lalu, mengangkat performa Persebaya, dari posisi Green Force terancam degradasi, namun akhirnya finis di posisi lima besar. Tahun ini, Djanur juga berhasil mengantarkan Persebaya menembus final Piala Presiden.

Karena itu, Persebaya tetap mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas sumbangsih Djanur. Manajemen menilai Persebaya perlu pelatih kepala baru untuk mendongkrak performa tim. Untuk tetap menjaga peluang juara.

Dalam beberapa pertandingan ke depan, Bejo Sugiantoro akan menjadi pelatih caretaker Persebaya. Manajemen dalam waktu secepatnya akan mengumumkan siapa pelatih kepala definitif.

PERSEBAYA.ID


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT