Liga 2: Cerita Fanatisme Suporter dan Pelatih yang Bertumbangan
TEMPO.CO | 15/07/2019 09:44
Logo Liga 1 2019. (liga-indonesia.id)
Logo Liga 1 2019. (liga-indonesia.id)

TEMPO.CO, Jakarta - Kompetisi Liga 2 2019 sudah menunjukkan 'keganasannya'. Tekanan suporter dan kerasnya kompetisi membuat pelatih bertumbangan. 

Memasuki musim ke-3, Liga 2 semakin kompetitif dan menarik untuk disaksikan.  Terdegradasinya klub besar seperti Sriwijaya FC dan Mitra Kukar, serta promosinya klub mantan juara seperti Persik Kediri, membuat Liga 2 semakin menarik untuk ditonton. 

Ketatnya persaingan yang ada di Liga 2 2019 juga membuat beberapa pelatih harus menjadi korban.  Memasuki pekan ke-5 kompetisi, sederet pelatih sudah meninggalkan posisinya.

Erwan Hendarwanto bahkan mundur belum sempat mencicipi kompetisi Liga 2 bersama PSIM Yogyakarta karena masalah lisensi yang dialaminya. Erwan Hendarwanto masih mengantongi lisensi C AFC. Sedangkan berdasarkan regulasi, pelatih Liga 2, yang berjalan sejak 23 April, mesti memiliki lisensi B AFC.

Tak hanya berhenti sampai di situ, Vladimir Vujovic yang akhirnya menjadi pelatih PSIM Yogyakarta, juga mundur dari jabatannya. Vujovic memutuskan untuk mengundurkan diri usai PSIM Yogyakarta dikalahkan Persik Kediri dengan skor 1-2 di pekan ke-3. Padahal PSIM bermain di hadapan pendukung sendiri. 

Pelatih kawakan sekelas Freddy Muli juga harus terdepak dari persaingan di Liga 2 2019. Ia tak lagi menjadi pelatih Persibat Batang karena mengundurkan diri usai kalah dari Perserang Serang. 

Lalu, satu lagi pelatih di Liga 2 2019 yang akhirnya tumbang adalah Agus Yuwono. Ia mundur dari jabatannya sebagai pelatih Persis Solo padahal Liga 2 baru berjalan 5 pekan. 

"Mulai sekarang saya bukan lagi pelatih Persis. Kan di media statement Sekjen (Dedy M Lawe) jelas kalau gagal menang akan dievaluasi. Artinya apa semua juga paham," ungkap Agus kepada indosport

Persis Solo memang tak kunjung meraih kemenangan hingga pekan ke-5. Dari 4 pertandingan yang sudah dijalani, Persis Solo menelan 1 kekalahan dan 3 kali bermain imbang.  Imbasnya, Persis Solo berada di zona degradasi klasemen Wilayah Timur dengan poin yang sama dengan PSBS Biak. 

Selanjutnya: Fanatisme Suporter dan Siaran Televisi

Fanatisme Suporter dan Siaran Televisi 

Di arena Loba 2 ada beberapa hal yang tak dimiliki oleh klub Liga 1. Salah satunya adalah fanatisme suporter yang merata. 

Di Liga 1, kita masih menemui klub baru seperti Bhayangkara FC atau TIRA-Persikabo yang jumlah suporternya belum sebanyak klub lain.  Sedangkan di Liga 2, basis suporter lebih merata dan jumlahnya banyak sehingga saat pertandingan kandang, banyak suporter yang memenuhi tiap sudut stadion. 

Apalagi, tak semua pertandingan Liga 2 disiarkan secara langsung di televisi. Dalam sepekan, hanya ada 1 atau 2 pertandingan yang disiarkan langsung di televisi nasional. Hal itu mau tak mau mendorong suporter untuk datang langsung ke stadion.

Tak hanya suporter dewasa, tetapi anak-anak, orang tua, dan wanita pun terlihat menyaksikan pertandingan di stadion.  Apalagi bagi tim yang berasal dari kota kecil, pertandingan sepak bola tentunya menjadi salah satu hiburan utama bagi masyarakatnya. 

Suporter di Liga 2 juga menjadi pemasukan yang besar bagi klub terutama untuk tiket pertandingan dan merchandise.  Fanatisme suporter ini tentunya menjadi daya tarik dan warna tersendiri di kompetisi Liga 2 2019. 

Demi Tiket Promosi  Segala persiapan, perekrutan pemain, laga uji coba, serta promosi yang dilakukan klub di Liga 2 tentu muaranya adalah prestasi. 

Di Liga 2, gelar juara bukan satu-satunya target bagi para klub peserta. Tetapi tiket promosi ke Liga 1 yang terbatas jumlahnya juga menjadi rebutan.  Selain itu, tentunya menjadi harapan dari setiap suporter yang ingin melihat tim kebanggaannya bermain di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, Liga 1. 

INDOSPORT


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT